Apa Itu Efek Ilusi Kebenaran? Cara Otak menganggap kesalahan sebagai kebenaran karena Sering Diulang

Retoria.id – Pandemi virus corona menunjukkan dengan sangat jelas seberapa cepat misinformasi bisa menyebar, dan seberapa mudahnya orang mempercayai informasi yang salah.

Di awal pandemi, banyak yang percaya bahwa virus corona tak menyebar di cuaca panas, atau bahwa ada makanan dan tindakan tertentu yang bisa mencegah atau menyembuhkan infeksi.

Dari mandi air hangat, membilas hidung dengan air garam, hingga hal ekstrem seperti meminum kencing kuda atau disengat lebah!

Padahal, jika kita merujuk pada sumber tepercaya seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), semua klaim tersebut terbukti salah.

Satu-satunya cara efektif untuk mencegah penularan adalah dengan vaksinasi, rajin mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak sosial.

Baca Juga: 4 Logical Fallacies di Balik Pernyataan Rakyat Juga Korupsi ala Dedi Mulyadi

Fenomena ini adalah contoh nyata bagaimana ilusi kebenaran bekerja—ketika informasi salah diulang terus-menerus, otak mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang masuk akal.

Apa Itu Ilusi Kebenaran dalam Psikologi?

Ilusi kebenaran atau truth illusion terjadi saat kita berulang kali terpapar pada informasi yang salah, dan lama-kelamaan mulai mempercayainya.

Dalam psikologi, ini dikenal juga sebagai efek pseudo-kebenaran: informasi yang sering kita dengar terasa lebih akurat dibanding informasi yang baru kita temui—meskipun sebenarnya salah.

Ini menjelaskan mengapa sebagian orang tetap memercayai takhayul atau mitos yang tak punya dasar logis atau ilmiah. Bisa jadi karena mereka terus-menerus mendengarnya sejak kecil dari lingkungan sekitar—orang tua, teman, atau masyarakat luas.

Mengapa Otak Kita Percaya Informasi yang Diulang?

Ilusi kebenaran, seperti bias kognitif lainnya, adalah semacam jalan pintas mental. Otak manusia cenderung mengandalkan informasi yang familiar karena butuh lebih sedikit energi untuk memprosesnya.

Pemikiran kritis adalah pekerjaan berat bagi otak—dan ternyata, meskipun otak hanya 2 persen dari berat badan, ia mengonsumsi sekitar 20 persen energi tubuh.

Informasi yang lebih mudah dicerna membuat otak lebih nyaman. Dalam sebuah eksperimen, partisipan diminta menilai kebenaran dari beberapa kalimat.

Kalimat yang ditampilkan dalam font cerah dan mudah dibaca lebih sering dianggap benar—karena otak memprosesnya lebih cepat dan ringan.

Bagaimana Efek Ini Muncul di Kehidupan Sehari-hari?

Efek ilusi kebenaran menjelaskan mengapa berita palsu bisa sangat meyakinkan. Ketika kita mendengar seseorang percaya pada teori konspirasi atau berita hoaks, kita mungkin menganggap mereka mudah tertipu. Padahal, efek ini terjadi pada semua orang—tak peduli seberapa tinggi IQ-nya.

Psikolog telah menunjukkan bahwa jika seseorang membaca atau mendengar berita yang sama berulang kali, berita tersebut mulai terasa lebih akrab, dan akhirnya dianggap benar.

Dalam banyak studi, berita lama yang diulang mendapatkan nilai kebenaran lebih tinggi dibandingkan berita baru—meskipun sama sekali tidak lebih akurat.

Kekuatan Iklan dan Propaganda

Efek ilusi kebenaran juga menjadi senjata ampuh dalam dunia iklan dan propaganda. Berita atau slogan politik yang diulang-ulang, betapa pun absurdnya, bisa mulai dipercaya jika cukup sering muncul di media massa.

Praktisi periklanan dan pemasaran sudah lama memahami efek ini. Saya sendiri pernah menganggap suatu iklan produk terlihat konyol saat pertama kali melihatnya, namun setelah beberapa kali tayang, saya jadi penasaran dan akhirnya mencobanya.

Jika propaganda dibalut dengan rima atau irama yang catchy, dampaknya akan lebih besar lagi. Kalimat yang enak diucapkan lebih mudah diingat—dan lebih mudah dipercaya.

George Orwell dalam novelnya 1984 menggambarkan sebuah masyarakat di mana partai penguasa memanipulasi pikiran publik lewat propaganda.

Slogan-slogan seperti “Perang adalah damai. Kebebasan adalah perbudakan. Ketidaktahuan adalah kekuatan.” menunjukkan bagaimana orang bisa diyakinkan untuk percaya bahwa hitam adalah putih, jika hal itu dikatakan cukup sering.

Otak kita tidak bekerja seobjektif yang kita kira. Bias kognitif seperti ilusi kebenaran bisa mengubah cara kita melihat kenyataan—bahkan masa lalu.

Karena otak selalu berusaha menghemat energi, kita tak bisa hanya menyalahkan media sosial atau lingkungan sekitar.

Tanggung jawab kita adalah tetap kritis, mempertanyakan informasi yang masuk, dan tidak langsung menerima segalanya sebagai kebenaran. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/trivium/2571520860/apa-itu-efek-ilusi-kebenaran-cara-otak-menganggap-kesalahan-sebagai-kebenaran-karena-sering-diulang

Rekomendasi