Kebodohan Majemuk Jahl al Murakkab: Ketika Mereka Tidak Tahu, Dan Tidak Tahu bahwa Mereka Tidak Tahu

Retoria.id – Kebodohan majemuk (Jahl al Murakkab) adalah bentuk ketidaktahuan di mana seseorang tidak tahu, dan juga tidak tahu bahwa ia tidak tahu.

Dengan kata lain, kebodohan majemuk terjadi ketika seseorang tidak menyadari bahwa dirinya tidak memiliki pengetahuan atau pemahaman yang memadai tentang suatu hal.

Kebodohan majemuk ini berbeda dari kebodohan sederhana (Jahl al basiṭ ), yaitu bentuk ketidaktahuan di mana seseorang sadar bahwa dirinya tidak tahu.

Misalnya, seseorang tahu bahwa ia tidak memahami kondisi planet Mars, dan jika ditanya, ia akan menjawab, “Tidak, saya tidak tahu.”

Namun, dalam kebodohan majemuk, seseorang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Ia mungkin mengira sudah tahu banyak hal, tapi ketika diberikan penjelasan yang benar dan logis, barulah ia menyadari bahwa selama ini ia salah paham atau tidak mengetahui sama sekali.

 Baca Juga: Teori Greater Fool: Core of the Core dari Kedunguan

Maka dari itu, ia sebenarnya sedang berada dalam kebodohan majemuk.

Jika seseorang mengatakan, “Saya tahu bahwa saya tidak tahu,” dan kemudian berusaha mengatasi ketidaktahuan itu, maka ia berada dalam kondisi kebodohan sederhana.

Contohnya, seseorang yang mengakui tidak tahu tentang “lubang hitam”, “eksistensialisme”, “protoplasma”, “fisika kuantum”, dan banyak topik lainnya.

Hampir semua orang mengalami kebodohan sederhana dalam banyak bidang, dan mereka berusaha—sesuai kemampuan dan waktu yang dimiliki—untuk mengubah ketidaktahuan menjadi pengetahuan.

Sebaliknya, orang-orang yang terjebak dalam kebodohan majemuk justru dengan penuh rasa bangga menyatakan bahwa mereka tahu, bahkan merasa sangat yakin dengan pengetahuannya.

Baca Juga: Buku Matinya Kepakaran: Ketika Kedunguan Lebih Otoritatif Dari Pengetahuan

Padahal, mereka hanya mengira tahu. Bila kita amati lebih dalam, sebenarnya mereka tidak tahu, dan lebih parahnya lagi, mereka tidak sadar bahwa mereka tidak tahu.

Orang yang mengalami kebodohan majemuk seperti orang yang hanya melihat gambar ular, namun mengira sudah tahu segala sesuatu tentang ular. Inilah bentuk nyata dari kebodohan majemuk!

Orang yang berada dalam kebodohan sederhana sesuai dengan ujaran atau pepatah lama:

“Orang yang tidak tahu, dan tahu bahwa ia tidak tahu,
Akan sampai ke tujuannya meski dengan tertatih-tatih.”

Namun orang yang tidak tahu, dan tidak tahu bahwa ia tidak tahu, Akan selamanya terjebak dalam kebodohan majemuk.”

Jahl Murakkab adalah Masalah Serius di Masyarakat

Kebodohan majemuk telah menjatuhkan banyak korban, dan sangat umum dijumpai terutama di negara-negara yang belum berkembang.

Di Indonesia sendiri, kebodohan majemuk merajalela. Banyak orang yang terjangkit penyakit ini, dan yang lebih buruk lagi, dengan pemahaman mereka yang dangkal dan keliru, mereka justru ingin membentuk dan membangun kembali masyarakat—yang akhirnya bisa meruntuhkan fondasi masyarakat itu sendiri.

Menurut saya, tidak ada penyakit yang lebih berbahaya dan merusak dibanding kebodohan majemuk. Dunia saat ini sedang terbakar oleh akibat-akibat dari kebodohan majemuk.

Dua Perang Dunia terjadi karena orang-orang yang terjebak dalam kebodohan majemuk. Contohnya adalah Hitler, yang secara nyata merupakan personifikasi dari kebodohan majemuk.

Contoh Ekstrem di Dunia Islam: Jahl Muqaddas (Kebodohan Suci)

Contoh nyata dari kebodohan majemuk di dunia Islam adalah kelompok seperti Taliban, Al-Qaeda, dan ISIS. Mereka tidak memberikan apa-apa selain penderitaan dan kehancuran bagi negara-negara Islam.

Jenis kebodohan mereka termasuk dalam bentuk khusus yang disebut “kebodohan suci” (jahl muqaddas), dan ini tampaknya merupakan bentuk yang paling berbahaya dari kebodohan majemuk. Seperti yang dikatakan oleh Rumi:

“Tuan mengira sedang beribadah, Tapi ia tidak tahu bahwa ia sedang merusak jiwanya dengan dosa.”

Namun, kebodohan suci tidak hanya terbatas pada dunia Islam. Di banyak wilayah—baik yang religius maupun tidak—bentuk kebodohan ini juga marak terjadi termasuk di Indonesia sekalipun Indonesia adalah egara Bhineka multi kultur dan keyakinan.

Kata “suci” di sini tidak hanya merujuk pada hal-hal agama. Banyak hal atau orang yang tidak beragama bisa tampak “suci”, dan diidolakan atau disembah oleh sebagian orang.

Hari ini, kekayaan telah berubah menjadi sesuatu yang “suci” di banyak tempat di dunia. Orang-orang bahkan berperang, bertikai, dan membunuh demi itu.

Kebodohan suci seolah-olah hadir di mana-mana—dan ia bekerja dengan cara yang sangat licik dan kompleks.

Mereka yang mengalami keterasingan diri, fundamentalisme, kebodohan suci, skizofrenia budaya, ketololan, superioritas semu, sok tahu, keakuan berlebihan, kesombongan, dan berbagai keburukan lainnya—semuanya adalah korban kebodohan majemuk.

Dampak Merusak Kebodohan Majemuk

Salah satu kerusakan besar dari kebodohan majemuk adalah ketika ia secara sengaja atau tidak, menghancurkan nilai-nilai luhur seperti:

  • Rasionalitas
  • Pemikiran dan perenungan
  • Keluasan wawasan
  • Toleransi
  • Pandangan ke masa depan
  • Perspektif menyeluruh
  • Musyawarah dan kebijaksanaan
  • Moderasi dan keseimbangan
  • Dialog dan tukar pikiran
  • Kritisisme
  • Penelitian
  • Pembelajaran dan membaca

Kebodohan majemuk harus selalu diungkapkan, diteriakkan, dan dibongkar. Kita harus menjatuhkan tabir kepalsuannya dari atap dunia ini agar semua melihat wajah aslinya. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2571525271/kebodohan-majemuk-jahl-al-murakkab-ketika-mereka-tidak-tahu-dan-tidak-tahu-bahwa-mereka-tidak-tahu

Rekomendasi