Retoria.id – Efek Hawthorne pertama kali diperkenalkan pada tahun 1950-an oleh seorang peneliti bernama Henry Landsberger. Dasarnya adalah hasil dari studi pada dekade 1920 dan 1930 yang dilakukan di pabrik peralatan listrik Hawthorne Works di Illinois.
Karena penelitian dilakukan di sana, maka fenomena yang ditemukan dinamakan Efek Hawthorne.
Psikolog sejak lama menyadari bahwa banyak orang dapat meningkatkan kinerja atau perilaku mereka hanya karena diberikan perhatian khusus.
Baca Juga: Mengenal Efek Plasebo Dari Pernyataan Kosong Tapi Bisa Menggugah Rasa
Dalam studi klasik Hawthorne (Roethlisberger & Dickson, 1939) mengenai dampak pencahayaan terhadap produksi pabrik, ditemukan bahwa para pekerja meningkatkan hasil kerja mereka bukan karena pencahayaan, melainkan karena ikut serta dalam penelitian dan merasa diperhatikan.
Efek Hawthorne kini menjadi istilah populer untuk menggambarkan fenomena bahwa:
“Jika seseorang tahu bahwa dirinya sedang diawasi atau diperhatikan secara khusus, maka ia cenderung menunjukkan kinerja yang lebih baik.”
Penelitian Awal: Cahaya dan Kinerja
Peneliti mencoba mengubah tingkat pencahayaan—baik ditambah maupun dikurangi—untuk melihat dampaknya terhadap produktivitas.
Hasilnya, selama penelitian berlangsung, kualitas kinerja pekerja meningkat. Namun, setelah penelitian dihentikan, peningkatan itu juga lenyap.
Artinya jelas efek Hawthorne bergantung pada adanya pengawasan langsung. Tanpa pengawasan, usaha untuk memperbaiki perilaku pun menurun.
Bahkan, hampir setiap perubahan kecil dalam kondisi kerja bisa meningkatkan produktivitas, asalkan pekerja merasa sedang diperhatikan.
Fenomena ini sering dijelaskan melalui peningkatan semangat dan harga diri akibat perhatian orang lain. Landsberger mendefinisikannya sebagai:
“perbaikan jangka pendek kinerja di bawah pengaruh pengawasan orang lain.”
Efek Hawthorne sebagai Model Studi
Pada 2009, sekelompok peneliti dari Universitas Chicago menganalisis ulang data asli penelitian Hawthorne. Hasilnya sama: perhatian dari orang yang penting bagi seseorang dapat meningkatkan kinerja, tetapi efeknya bersifat sementara.
Penelitian lain oleh Taylor & Francis menekankan bahwa perbedaan individu, yang umumnya bersifat genetik, juga memengaruhi kekuatan efek ini.
Artinya, peningkatan produktivitas atau perubahan perilaku akibat pengawasan tidak terjadi secara merata pada semua orang.
Meski bersifat sementara, efek Hawthorne punya sejumlah aplikasi dalam kehidupan pribadi, pendidikan, pekerjaan, hingga psikoterapi.
1. Ranah Pribadi dan Sosial
Seseorang bisa melatih dirinya menjadi “pengawas bagi dirinya sendiri” dengan mencatat progres, mengevaluasi diri, dan menghadirkan kesadaran seolah sedang diawasi.
Efek ini juga terlihat dalam hal sederhana, seperti saat seseorang berbelanja dengan teman. Kehadiran teman itu saja sudah cukup memengaruhi keputusan pembelian.
Karena itu, bergaul dengan orang-orang yang memberi pengaruh positif sangat penting. Dalam pekerjaan, jika ingin kreatif, sebaiknya berinteraksi dengan mereka yang selaras dengan tujuan, bukan mereka yang hanya menunggu waktu pulang.
2. Pendidikan
Efek Hawthorne relevan dalam pendidikan. Pengawasan langsung guru dan rasa diperhatikan dapat mendorong peningkatan prestasi siswa. Dalam pengasuhan anak, kehadiran dan perhatian orang tua membuat anak lebih mudah membentuk perilaku positif.
Bahkan, dalam konteks sosial, fenomena ini dapat mendorong perilaku ramah lingkungan, misalnya penggunaan tas belanja ramah lingkungan karena adanya “perasaan diawasi” oleh orang lain.
3. Dunia Kerja
Perusahaan bisa memanfaatkan efek ini untuk meningkatkan produktivitas karyawan, meski hanya untuk jangka pendek.
4. Psikoterapi
Efek Hawthorne juga dipakai dalam psikoterapi. Studi-studi menunjukkan bahwa perhatian khusus dari terapis merupakan faktor penting yang mendukung kesembuhan pasien.
Misalnya, penelitian Paul (1967) menemukan bahwa 50 persen pasien dengan fobia berbicara di depan umum mengalami perbaikan signifikan hanya karena mendapat perhatian, meski dalam bentuk “plasebo perhatian”.
Artinya, perhatian adalah faktor bersama yang kuat dalam terapi. Karena itu, penelitian psikoterapi modern selalu mengontrol variabel “perhatian” untuk memastikan apakah suatu metode terapi memang lebih efektif dibanding sekadar perhatian itu sendiri.
5. Bidang Medis
Dalam bidang kesehatan, efek Hawthorne juga terbukti. Penelitian pada 264 pasien artritis reumatoid menunjukkan peningkatan signifikan selama pengawasan, namun menurun setelahnya.
Di rumah sakit, efek ini meningkatkan kepatuhan tenaga medis pada protokol, seperti mencuci tangan, memberikan waktu lebih banyak untuk pasien, dan prosedur medis yang lebih aman.
Bahkan, penelitian yang dimuat di beberapa jurn menemukan kepatuhan mencuci tangan meningkat hingga 30 persen berkat efek Hawthorne.
Jadi, Efek Hawthorne membuktikan bahwa perhatian dan pengawasan dapat mendorong peningkatan kinerja, meski bersifat sementara. Dalam psikologi, pendidikan, dunia kerja, hingga kesehatan, fenomena ini memberikan pelajaran penting:
Perhatian yang tulus—dari atasan, guru, teman, keluarga, atau terapis—dapat menjadi pemicu signifikan perubahan perilaku.
Namun, untuk efek jangka panjang, diperlukan sistem yang mampu melampaui sekadar pengawasan eksternal, yakni menumbuhkan kesadaran internal dan pengawasan diri. (*)