Tuhan itu Maha Esa Tapi kenapa Sifatnya ada dua puluh, Kadang disebut ghafir, kadang ghafur dan kadang disebut ghaffar?

Retoria.id – Salah satu sifat yang wajib dimiliki oleh Allah SWT adalah sifat wahdaniyyat (Esa). Kita semua meyakini dan mengakui keesaan Allah itu, baik Esa dalam dzat, sifat, maupun af‘alnya, dengan pengertian bahwa tidak ada kuantitas bagi Allah.

Namun, dalam perkembangannya, proses keberimanan terhadap konsep ini ternyata tidaklah sesederhana itu.

Misalnya, ketika kita dihadapkan pada beragam sifat Allah, lalu muncul pertanyaan: “Katanya Esa, tapi kok sifat Allah ada dua puluh?” Bahkan di dalam Al-Qur’an sendiri ada perbedaan penyifatan.

Kadang Allah disebut ghafir, di bagian lain disebut ghafur, dan pada ayat lain lagi disebut ghaffar. Tiga istilah ini jelas tidak sama.

Baca Juga: Teori Relasi Dalam Ilmu Tauhid: Bisakah Tuhan Meledak Lalu Fana?

Mari kita ambil dua contoh saja, yakni ghafir dan ghaffar. Kata ghaffar memiliki makna yang lebih kuat karena menggunakan sighat mubalaghah (superlatif).

Jika ghafir berarti pengampun, maka ghaffar berarti Maha Pengampun. Pertanyaannya, dari mana datangnya makna tambahan itu (ziyadah fil ma‘na) sebab jelas, ghaffar (mengampuni banyak dosa) dan ghafir (pengampun dosa) berbeda. Secara logika, hal ini bisa menimbulkan kontradiksi dengan sifat wahdaniyyat Allah SWT.

Jawabannya, adanya perbedaan makna antara ghafir dan ghaffar itu tidak kembali kepada Allah, melainkan kepada makhluk. Allah mengampuni dosa, maka kita menyebut-Nya ghafir.

Allah mengampuni banyak dosa, baik kecil maupun besar, maka kita menyebut-Nya ghaffar. Dan jika Allah sering mengampuni, maka kita menyebut-Nya ghafur. Dengan demikian, sifat Allah tetaplah tunggal. Perbedaan muncul hanya ketika kita melihatnya dari sisi relasi dengan makhluk.

Analogi sederhana bisa membantu. Bayangkan seorang dokter yang memiliki berbagai jenis obat. Ketika pasien A sakit ringan, sang dokter hanya memberinya beberapa kapsul.

Namun, ketika pasien B datang dengan sakit parah, dokter itu bisa memberinya hampir satu gudang obat. Jika kita bertanya, apakah si dokter punya obat?

Jawabannya jelas: iya. Apakah jumlahnya sedikit atau banyak? Pasien A akan berkata sedikit, sementara pasien B akan berkata banyak. Maka, perbedaan bukanlah kembali pada dokter, melainkan pada kebutuhan pasien.

Dalam ilmu tauhid, ada yang disebut sifat adz-dzat, yaitu sifat mutlak Allah yang tidak bergantung pada makhluk, seperti Al-‘Alim. Ada pula sifat al-af‘al atau fi‘il, yaitu sifat yang membutuhkan objek, seperti Ar-Rahman atau Al-ghaffar.

Untuk membedakannya cukup sederhana: lihat apakah sifat tersebut membutuhkan hubungan dengan makhluk atau tidak. Misalnya sifat As-Sabur; kita tinggal menilai apakah ia berhubungan dengan makhluk atau tidak. Sesederhana itu.

Selanjutnya, mari kita analisis firman Allah: “Allahu laisa bizhallam lil-‘abid” (Allah tidak akan mendzalimi hamba-hamba-Nya). Kata dhallam adalah bentuk mubalaghah dari dzalim. Pertanyaannya, manakah yang lebih tinggi levelnya: dzalim atau dhallam? Tentu kita semua tahu jawabannya.

Namun, persoalan tidak berhenti di situ. Dalam kaidah bahasa, jika sebuah sifat afirmatif ditegaskan dalam bentuk superlatif, maka sifat bentuk biasa juga otomatis ada.

Contoh: seseorang yang disebut ‘allamah pasti juga ‘alim. Tapi sebaliknya, yang alim belum tentu ‘allamah. Demikian juga, jika seseorang disebut ghaffar, maka bentuk ghafir otomatis berlaku. Tetapi jika hanya ghafir, belum tentu ghaffar.

Kaidah ini berlaku untuk afirmasi positif. Lalu bagaimana jika bentuknya negatif? Kaidahnya berbeda. Jika bentuk superlatif dinegasikan, maka bentuk biasa belum tentu ikut dinegasikan.

Contoh: jika seseorang tidak ‘allamah, bisa jadi ia masih ‘alim. Namun, jika bentuk biasa yang dinegasikan, maka otomatis bentuk superlatif juga ikut hilang. Contoh: jika seseorang tidak ‘alim, maka ia pasti bukan ‘allamah.

Pertanyaan besar kemudian muncul: mengapa dalam ayat “Allahu laisa bizhallam lil-‘abid” yang dinegasikan adalah bentuk superlatifnya? Seakan-akan, dengan kaidah di atas, hal itu bisa dimaknai bahwa Allah tidak dhallam, tetapi mungkin saja dzalim—atau dengan redaksi lain, Allah dzalim, tapi sedikit.

Di sinilah pentingnya melihat relasi kata yang diafirmasi atau dinegasikan dengan kata berikutnya. Sebab, tanpa analisis itu, potensi kesalahpahaman bisa muncul dan merusak pemahaman terhadap sifat wahdaniyyat Allah SWT. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2571562307/tuhan-itu-maha-esa-tapi-kenapa-sifatnya-ada-dua-puluh-kadang-disebut-ghafir-kadang-ghafur-dan-kadang-disebut-ghaffar

Rekomendasi