Retoria.id – Kesalahan ini berkaitan dengan metode penalaran yang dalam logika disebut “analogi”, sehingga perlu sedikit penjelasan tentang analogi:
Dalam metode penalaran ini, secara sederhana dari kesamaan antara dua hal diasumsikan bahwa ada kesamaan lain yang lebih banyak di antara keduanya.
Karena tidak ada keterkaitan wajib antara adanya beberapa kesamaan dengan adanya kesamaan lebih lanjut, analogi secara istilah disebut tidak “memberikan kepastian”—artinya tidak bisa membuktikan sesuatu secara pasti, hanya bisa menebak.
Misalnya, bayangkan dua orang di hadapan Anda yang sama tinggi dan sama berat, berasal dari kota dan negara yang sama, dan mengenakan pakaian serupa.
Apakah mungkin kaus kaki mereka juga sama bentuknya? Mungkin, tetapi tidak pasti! Apakah mungkin pandangan mereka tentang olahraga terbaik di dunia juga sama? Mungkin, tetapi tidak pasti.
Contoh penalaran berbasis analogi:
Penalaran A:
Pada premis 1 dan 2, disebutkan kesamaan antara dua hal (kuda dan beruang) dan diterima sebagai fakta. Premis ketiga menambahkan fakta baru tentang kuda.
Dan karena adanya kemungkinan kesamaan lain antara kedua makhluk, diambil kesimpulan tidak pasti bahwa kemungkinan kesamaan lebih lanjut ada juga, salah satunya kebutuhan makanan.
Hasil penalaran ini kebetulan benar. Namun perhatikan analogi dengan hasil salah:
Penalaran B:
Kedua penalaran ini memiliki struktur yang sama, dan secara logika, jika mengabaikan perbedaan mendasar antara kuda dan beruang, seharusnya setara, tetapi Penalaran B menghasilkan kesimpulan yang salah.
Baca Juga: Potensialitas dan Aktualitas Dalam Ilmu Tauhid: Benarkah Tuhan Maha Kuasa?
Tebakan yang dibuat tidak benar. Inilah sebabnya analogi tidak memberikan kepastian: jika semua premis benar, kadang menghasilkan kesimpulan benar, kadang tidak.
Pertanyaan: jika keduanya analogi, mengapa satu benar dan satu salah?
Jawaban: Aturan 1 – Kekuatan dugaan (tidak pasti) dari analogi selalu bergantung pada kekuatan kesamaan yang ada antara dua hal.
Semakin banyak kesamaan, tebakan semakin kuat, sebaliknya semakin sedikit kesamaan, tebakan semakin lemah.
Mungkin timbul pertanyaan, jika analogi tidak memberikan kepastian, apa gunanya? Jawabannya adalah bahwa seringkali kepastian tidak mungkin diperoleh, sehingga analogi menjadi metode yang sangat berguna.
Ketika hubungan pengetahuan yang pasti tidak mungkin didapat, yang terbaik adalah mengevaluasi dugaan dan menerima dugaan paling kuat. Analogi adalah salah satu metode penalaran paling umum di ilmu empiris, hukum, dan filsafat.
Beberapa orang menggunakan istilah “qiyas tamthili” untuk analogi. Dalam fikih, analogi disebut “qiyas”, dan istilah “Qiyas Ma al-Fariq” kemungkinan berasal dari istilah lain untuk analogi.
Selain itu, analogi pada dasarnya adalah bentuk perbandingan, sehingga istilah “qiyas” dalam “Qiyas Ma al-Fariq” relevan. Dalam logika, ada cara penalaran yang disebut qiyas (silogisme), sehingga qiyas tamthili berbeda dengan qiyas logika.
Kesamaan istilah ini bisa membingungkan, sehingga penting memahami perbedaan ini. Jadi jelas bahwa kesalahan “Qiyas Ma al-Fariq” terkait analogi, bukan silogisme logika.
Setiap analogi memiliki elemen-elemen, termasuk:
1. Had Asghar (Dasar atau Contoh)
Hal yang hukum atau fakta-nya diketahui. Contoh: kuda dalam Penalaran A dan B.
2. Had Shabih (Hal yang ingin diterapkan hukum)
Hal kedua yang ingin diterapkan hukum. Contoh: beruang dalam Penalaran A dan B.
3. Had Akbar (Hukum)
Hukum yang diketahui untuk had asghar dan ingin diterapkan pada had shabih. Contoh: kebutuhan makan dalam Penalaran A; tidak memakan daging dalam Penalaran B.
4. Had Awsat (Kesamaan)
Kesamaan antara had asghar dan had akbar. Contoh: warna cokelat, mamalia.
5. Fariq (Perbedaan)
Perbedaan antara had asghar dan had shabih yang biasanya tidak disebut, tetapi dapat signifikan.
Kekuatan analogi tergantung pada had awsat. Semakin menonjol kesamaan, semakin kuat analogi; semakin sedikit kesamaan, semakin lemah.
Kesalahan “Qiyas Ma al-Fariq” terjadi jika had awsat tidak signifikan atau perbedaan penting diabaikan. Secara umum, pola kesalahan adalah:
Tidak ada ukuran pasti untuk jumlah kesamaan yang cukup; tergantung kasus per kasus. Istilah “Qiyas Ma al-Fariq” berarti perbandingan dua hal yang berbeda.
Karena kekuatan analogi tergantung pada kesamaan antara had asghar dan had shabih. Jika perbedaan penting ada, analogi menjadi sangat lemah, meski pengusul analogi menekankan nilainya.
Kesamaan yang ditemukan tanpa mempertimbangkan perbedaan signifikan juga tidak menjadikan analogi valid.
Cara Menghadapi Kesalahan:
Tidak semua analogi adalah Qiyas Ma al-Fariq. Nilai sebuah argumen analogi setara dengan kekuatan analoginya.
Misalnya, jika seseorang mengatakan: “Berdasarkan analogi, kemungkinan hukum X berlaku,” maka tidak bisa langsung disebut salah hanya karena analogi tidak memberikan kepastian, terutama jika orang tersebut sadar bahwa analoginya hanya dugaan.
Contoh dalam percakapan:
1. Badrus: “Sebuah lukisan dibuat oleh pelukis, dunia juga dibuat oleh pencipta.”
Solihin: “Ada perbedaan penting antara lukisan dan dunia, kita tidak bisa menyimpulkan dunia pasti memiliki pencipta.”
2. Solihin: “Islam seperti Kristen memiliki masa gelap.”
Badrus: “Meski ada kesamaan, perbedaan mendasar bisa membuat masa gelap Islam berbeda atau tak pernah berakhir.”
6. Solihin: “Lihat sepupumu, kalian sama umur tapi dia sudah doktor sementara kamu tidak.”
Badrus: “Betul, tapi ada perbedaan lain, misal minat akademik.” (*)