Retoria.id – Kekeliruan ini terjadi ketika seseorang membuat klaim umum tentang sekelompok orang, dan ketika contoh tandingan dari kelompok yang sama diberikan kepadanya, alih-alih menarik kembali klaim umumnya.
Ia justru mencoba mengubah arti kata dan memberikan interpretasi baru yang bukan merupakan tafsiran lazim atau disepakati bersama. Kekeliruan ini biasanya mengikuti pola berikut:
1. Orang A mengklaim bahwa semua anggota kelompok G memiliki sifat P.
2. Orang B membantah klaim A dengan menunjukkan sebuah contoh tandingan, misalnya C, yang merupakan anggota G.
3. Orang A, bukannya menarik kembali klaimnya, justru menyatakan bahwa hanya semua anggota G yang sejati yang termasuk dalam klaimnya dan dengan demikian memiliki sifat P, atau ia memberikan definisi baru tentang G sehingga C tidak lagi termasuk dalam G.
Jika orang A mengakui klaim awalnya salah lalu membuat klaim baru yang lebih tepat (sehingga tidak bisa dibantah dengan contoh tandingan), maka itu bukan termasuk kekeliruan.
Dengan kata lain, kekeliruan ini hanya terjadi jika orang A tetap ngotot mempertahankan klaim yang sudah jelas salah.
Jadi bukan klaim umum yang salah itu sendiri yang bermasalah, melainkan sikap keras kepala untuk tidak mengakuinya.
Selain itu, jika sifat P memang merupakan bagian inti dari definisi G, maka kekeliruan ini tidak berlaku. Misalnya: “Tidak ada pecinta olahraga yang membenci olahraga.” Klaim ini tak bisa dibantah, karena siapa pun yang membenci olahraga otomatis bukan pecinta olahraga.
Jika ada yang mencoba memberi contoh tandingan, orang yang membuat klaim tetap tidak salah bila ia menegaskan bahwa “syarat menjadi pecinta olahraga adalah mencintai olahraga.”
Secara umum, penggunaan kata “sejati” dalam klaim semacam ini hampir selalu menimbulkan potensi kekeliruan, sebab pada dasarnya hanya mengulang sesuatu yang tidak menambah arti apa pun.
Sebab, seperti yang akan dijelaskan kemudian, mengatakan bahwa anggota sejati G memiliki sifat tertentu hanyalah sebuah pengulangan tak bermakna.
Alasan Kekeliruannya
Klaim umum adalah klaim yang mengaitkan sesuatu pada semua anggota suatu himpunan, bukan hanya pada sebagian.
Biasanya kata-kata seperti “setiap,” “semua,” dan “tidak ada” muncul dalam klaim umum. Jelaslah bahwa untuk membantah sebuah klaim umum, cukup dengan memberikan satu contoh tandingan.
Oleh karena itu, ketika kita membuat klaim umum dan seseorang menunjukkan contoh tandingan yang membuktikan bahwa klaim kita tidak benar.
Kita seharusnya menerima bahwa klaim itu salah, lalu jika perlu, membuat klaim baru yang direvisi, atau menarik klaim kita sepenuhnya.
Namun, dalam banyak kasus, manusia karena alasan psikologis enggan mengakui kesalahan mereka. Maka, alih-alih menerima kesalahan, mereka berusaha menyalahkan pihak lain.
Misalnya dengan mengatakan bahwa yang salah adalah lawan bicara karena tidak memahami definisi kelompok tersebut dengan benar, bukannya mengakui bahwa klaim awal mereka cacat.
Kekeliruan Skotlandia Sejati adalah kekeliruan yang relatif baru. Antony Flew, seorang filsuf Inggris, pertama kali menjelaskannya pada tahun 1975.
Nama “Skotlandia Sejati” tetap melekat pada kekeliruan ini untuk menghormati Flew, karena ia menjelaskannya dengan contoh berikut dalam bukunya:
Bayangkan seorang Skotlandia bernama Hamish McDonald sedang duduk membaca koran Glasgow Morning Herald (Glasgow adalah kota pelabuhan di barat daya Skotlandia).
Ia menemukan artikel berjudul “Penyimpang Seksual Brighton Menyerang Lagi” (Brighton adalah kota di Inggris). Hamish terkejut membaca itu dan berkata, “Tidak ada orang Skotlandia yang akan melakukan hal semacam itu!”
Keesokan harinya, ia membaca Glasgow Morning Herald lagi, kali ini tentang seorang pria dari Aberdeen (kota di timur laut Skotlandia) yang tindakannya bahkan lebih keji daripada si penyimpang seksual dari Brighton.
Fakta ini jelas membantah klaim Hamish sebelumnya, tetapi apakah ia mengaku salah? Tidak. Kali ini ia berkata, “Tidak ada orang Skotlandia sejati yang akan melakukan hal semacam itu!”
Kekeliruan “Skotlandia Sejati” adalah sejenis kekeliruan petitio principii (circular reasoning) karena orang yang melakukan kekeliruan ini membuat pernyataan tanpa bukti dan tidak bisa dipatahkan.
Dengan menambahkan kata “sejati” ke dalam klaimnya, ia menyerahkan interpretasi kata tersebut kepada dirinya sendiri, menjadikannya tidak bisa dibantah, sehingga pada dasarnya bersifat tautologis dan tidak menambah pengetahuan apa pun.
Bagaimana Menghadapi Kekeliruan Ini?
Manusia memiliki rasa harga diri, nilai diri, dan ego (dalam bahasa Inggris disebut ego; dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan sebagai “diri,” “jiwa,” atau kata-kata serupa). Ego adalah sesuatu yang membuat setiap manusia mendefinisikan dirinya berbeda dari yang lain.
Salah satu perilaku manusia yang paling umum tetapi tidak berpihak pada kebenaran adalah bahwa dalam setiap perdebatan, mereka lebih mementingkan menjaga ego daripada mencari kebenaran.
Orang seperti ini sengaja mengabaikan akal dan rasionalitas, lalu menggunakan alat lain, salah satunya adalah kekeliruan.
Itulah sebabnya banyak orang keras kepala mempertahankan kesalahan berpikir mereka, karena secara psikologis mereka tidak cukup kuat untuk mengakui kesalahan dan mengubah pandangan.
Antara banyak orang dan pikiran mereka, ada hubungan emosional. Mungkin karena itu, kritik terhadap gagasan dianggap sebagai serangan terhadap diri mereka.
Mengakui kesalahan sering kali terasa menyakitkan dan mahal secara psikologis, bahkan bisa menyebabkan rasa kehilangan harga diri.
Mereka yang menggunakan kekeliruan semacam ini dalam debat atau percakapan sehari-hari pada dasarnya sedang berusaha melindungi ego agar harga dirinya tidak runtuh.
Kita bisa mengenali hal ini ketika mereka menyimpang dari logika dan rasionalitas, lalu secara fanatik membela pandangan salah dengan kekeliruan atau omong kosong.
Pelajaran pertama yang bisa kita ambil adalah jangan biarkan ego kita menghalangi pencarian kebenaran! Dengan kata lain, dari sikap buruk orang lain, kita harus belajar sopan santun intelektual: jangan sampai ego dan keinginan untuk melindunginya membutakan mata batin kita.
Dalam debat dan diskusi, tujuan kita haruslah mencari kebenaran, bukan semata mempertahankan kehormatan diri dan keyakinan.
Menjadi budak ego hanya akan menghalangi kita mencapai kebenaran dan kemajuan, menjadikan kita bukan manusia sejati, melainkan anak-anak yang belum dewasa. (*)