Argumentum ex Silentio: Kesalahan Logika Diam Berarti Setuju, Diam Berarti Bersedia, Diam Berarti Kalah

Retoria.id – Kekeliruan “argumentum ex silentio” atau istidlal dari diam sebagaimana namanya memiliki hubungan langsung dengan diam.

Kekeliruan ini terjadi ketika seseorang menjadikan diamnya orang lain sebagai bukti cukup untuk menyimpulkan sebuah klaim yang pasti, padahal sebenarnya tidak ada hubungan logis antara diam itu dengan hasil yang diklaim.

Kekeliruan ini dapat diformulasikan sebagai berikut:

1. Orang A menyatakan klaim pasti C.
2. Orang A menyimpulkan dari diamnya orang lain bahwa C benar.

Istidlal dari diam menjadi kekeliruan jika, dan hanya jika, klaim C bersifat pasti dan kesimpulan itu tidak bisa didapatkan hanya dari diam. Jelas bahwa untuk klaim yang bersifat relatif, kadang diam bisa menjadi indikasi, meskipun tetap lemah.

Contoh non-keliru:
“Jika Perham seorang pelukis handal, mungkin ia akan memberitahu kita. Karena ia tidak memberitahu, kemungkinan besar ia bukan pelukis handal.”

Contoh keliru:
“Jika Perham seorang pelukis handal, ia pasti akan memberitahu kita. Karena ia tidak memberitahu, maka [pasti] ia bukan pelukis handal.”

Secara umum, “argument from silence” bahkan dalam bentuk yang tidak pasti pun tetap merupakan argumen yang lemah dan harus ditimbang hati-hati bersama bukti lain.

Klaim C bisa saja benar, tetapi yang keliru adalah menggunakan diam sebagai bukti kepastian C. Karena itu, meski argumen dari diam bisa keliru, tidak otomatis klaim C menjadi salah.

Baca Juga: Argumentum Ad Ignorantiam: Ketiadaan Bukti Bukan Bukti Ketiadaan, Baca Penjelasan lengkapnya di sini

Dalam beberapa sistem hukum, terdakwa dan saksi memiliki hak untuk diam (right to remain silent). Dalam konteks ini, hakim dan juri dilatih agar tidak menarik kesimpulan dari diam seseorang, sebab itu akan menjadi kesesatan berpikir.

Mengapa Argumen from silence Itu Keliru?

Karena tidak ada hubungan logis yang niscaya antara diam dan hasil klaim. Artinya, diam hanyalah premis yang tidak relevan untuk dijadikan dasar kesimpulan. Dari diam manusia, jarang bisa ditarik kesimpulan pasti yang sahih.

Lebih jauh, ketika kekeliruan ini terjadi, biasanya ia juga mengandung kekeliruan lain: false dilemma (dilema palsu).

Sang pembuat argumen secara tersembunyi berasumsi bahwa hanya ada dua kemungkinan: diam berarti menolak, atau berbicara berarti mengakui kebenaran C. Padahal jelas, banyak kemungkinan lain yang diabaikan.

Contoh: “Jika Arif pelukis handal, ia pasti akan bilang. Karena ia tidak bilang, berarti [pasti] ia bukan pelukis handal.”

Di sini diasumsikan hanya ada dua opsi:

1. Arif pelukis handal dan ia mengatakan itu.
2. Arif bukan pelukis handal dan ia diam.

Padahal, bisa saja Arif memang pelukis handal tetapi:

  • Belum ada kesempatan untuk mengatakan.
  • Ia sengaja menyembunyikannya karena takut disalahgunakan.
  • Ia rendah hati dan tidak suka membicarakan kemampuannya.

Dengan demikian, alasan lain dari keliru­nya istidlal dari diam adalah karena ia terkontaminasi dilema palsu.

Namun, jika klaim yang diajukan bukan klaim pasti, maka kelemahan ini tidak berlaku, dan argumen dari diam tidak otomatis menjadi keliru.

Semakin banyak alternatif penjelasan yang masuk akal untuk diamnya seseorang, semakin lemah pula klaim yang disimpulkan dari diam itu.

Karena itu, dalam studi sejarah, argumentasi dari diam kadang digunakan untuk menyusun hipotesis relatif, bukan kebenaran mutlak.

Bagaimana Menghadapi Kekeliruan Ini?

Kebanyakan argumen dari diam muncul dalam diskusi sejarah: tidak adanya catatan dianggap bukti tidak adanya peristiwa.

Untuk menghadapinya, pertama sebutkan dan jelaskan kekeliruan ini, lalu tunjukkan kemungkinan lain yang menjelaskan diam tersebut (seperti pada contoh Arif).

Setelah itu, mintalah lawan debat untuk menunjukkan bukti lain, atau setidaknya melemahkan klaimnya dari kepastian mutlak menjadi klaim relatif.

Contoh-Contoh

1. Badrus: “Menurutku ibumu suka Hitler.”
Solihin: “Kenapa?”
Badrus: “Karena waktu aku sebut nama Hitler, dia diam.”

2. Solihin: “Aku tahu apa yang kamu lakukan di kamar saat sendirian!”

Badrus : “Apa?”
Solihin: “…..” diam tidak menjawab
Badrus: “Kalau gitu berarti kamu nggak tahu, cuma ngarang!”

3. Badrus:“Menurutku ayahmu tidak marah kamu merokok.”
Solihin: “Kenapa?”
Badrus: “Karena dia lihat rokokmu tapi tidak bilang apa-apa.”

Sebagian besar buku logika tidak membahas kekeliruan ini secara terpisah, melainkan menyatukannya dengan kekeliruan argumentum ad ignorantiam karena kemiripannya. Jadi, untuk pendalaman, bisa merujuk pada literatur tentang appeal to ignorance. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/trivium/2571574999/argumentum-ex-silentio-kesalahan-logika-diam-berarti-setuju-diam-berarti-bersedia-diam-berarti-kalah

Rekomendasi