Teori Nudge: Bagaimana Kita Bisa Membuat Keputusan yang Lebih Baik?

Retoria.id – Dalam ekonomi perilaku, nudge atau dorongan halus mencakup tindakan-tindakan kecil dan arahan-arahan lembut yang mengarahkan kita menuju pilihan yang tepat; tanpa memaksa kita melakukan sesuatu atau mengambil kebebasan memilih dari kita.

Nudge bukanlah tanda “dilarang masuk” yang mencegahmu melangkah ke jalur yang salah; melainkan lebih mirip tanda penunjuk arah yang membantumu memilih jalan yang benar. Tentu saja, kamu tidak pernah diwajibkan untuk melakukannya.

Bayangkan di kafetaria kampus, kamu berdiri di antrean panjang menunggu makanan. Jika di dekatmu tersusun minuman bersoda dingin, kamu tergoda untuk membelinya hari itu.

Memang tidak wajib, tapi kamu diarahkan untuk mengonsumsi soda. Namun, jika minuman bersoda itu diganti dengan salad atau potongan buah, kamu akan diarahkan untuk makan lebih banyak buah dan sayuran segar.

Kamu tetap tidak dipaksa, tapi kemudian kamu sadar bahwa perubahan kecil dalam penataan lingkungan ini secara signifikan meningkatkan konsumsi buah dan sayur. Itulah nudge.

Nudge: Penemuan Baru dari Fenomena Lama

Richard Thaler dalam bukunya Nudge memberi nama dan memperkenalkan efek ini. Awalnya, ia ingin menamai konsep itu libertarian paternalism (pengasuhan libertarian), tapi akhirnya memilih nama yang lebih sederhana.

Keuntungan kata “nudge” adalah ia sendiri seperti memberi dorongan kecil. Namun, tentu bukan pertama kalinya manusia menggunakan nudge.

Misalnya, saat berjalan di pasar, seorang penjual kebab bisa meneteskan sedikit lemak di atas bara agar aromanya menggoda. Bau itu adalah nudge yang mengarahkanmu membeli, tanpa memaksa.

Contoh lain, menempatkan camilan murah dan lezat yang biasanya tidak dibeli di dekat kasir supermarket. Misalnya permen karet, jeli, atau wafer cokelat. Bisa jadi kamu mengambil satu bungkus.

Atau ketika kecepatan mobilmu melebihi batas tertentu, mobil akan berbunyi. Mobil itu tidak membatasi kecepatannya, tidak ada paksaan. Tapi jika kamu lalai, bunyi itu menyadarkanmu untuk mengendalikan kecepatan.

Semua teknik ini disebut nudge. Penemuan barunya adalah: kita bisa memakai metode ini untuk mengambil keputusan lebih baik (atau mengarahkan orang lain ke keputusan yang lebih baik).

Mengapa Nudge Bermanfaat?

Kita cenderung mencari cara cepat dan praktis dalam mengambil keputusan. Itu wajar, karena kita tidak ingin menghabiskan energi untuk setiap pilihan.

Misalnya saat memesan makanan, kita ingin cepat memilih, bukan menghitung kalori, protein, lemak, gula, vitamin, dan mineral.

Tapi sering kali pilihan cepat itu tidak sehat. Nudge bisa membuat kita sadar untuk mempertimbangkan opsi yang lebih baik.

Misalnya, kamu tahu membuang energi itu buruk, tapi lupa mematikan lampu atau mencabut kabel. Sebuah papan informasi konsumsi listrik di ruang tamu bisa menjadi nudge untuk hemat energi.

Atau perusahaan listrik mengirim pesan: “84 persen pelanggan menggunakan listrik lebih sedikit daripada Anda.” Pesan ini tanpa tekanan membuatmu ingin mengurangi pemakaian.

Atau, untuk mendorong orang tes HIV, lebih efektif memberi alamat laboratorium gratis terdekat ketimbang sekadar menjelaskan manfaatnya. Fakta bahwa laboratorium hanya 15 menit dari rumah adalah nudge yang sangat ampuh.

Kapan Kita Membutuhkan Nudge?

Selalu! Baik saat ponsel memberi peringatan baterai hampir habis, saat memilih makanan sehat, berolahraga, atau menabung.

Namun, nudge paling berguna saat kita menghadapi keputusan kompleks dengan informasi terbatas.

Misalnya memilih saham di bursa tidak mudah. Selain grafik harga, laporan keuangan, juga faktor ekonomi makro dan politik.

Kompleksitas ini bisa menyesatkan. Sebuah nudge sederhana berupa peringatan “Anda akan memasuki transaksi berisiko tinggi” bisa menyadarkan bahwa asetmu dalam bahaya.

Keputusan besar lain: pekerjaan, pernikahan, membeli rumah. Banyak orang memperlakukannya dengan mudah, seolah seperti memilih sebotol susu. Di sini nudge membuat pilihan lebih jelas.

Perusahaan asuransi sering menggunakan puluhan produk rumit yang membingungkan. Tujuannya agar orang mengeluarkan lebih banyak uang.

Tapi justru membuat calon pembeli mundur. Lebih baik mereka memberi satu opsi asuransi standar dengan harga menengah yang memenuhi 80 persen kebutuhan.

Default: Nudge yang Sangat Ampuh

Banyak orang tidak pernah mengganti nada dering ponsel atau wallpaper komputer. Orang juga cenderung tetap memakai bank, perusahaan asuransi, atau aplikasi pesan pertama mereka gunakan.

Karena orang terikat pada “default”, default bisa dijadikan nudge.

Contoh: program donor organ. Jika default-nya adalah “setiap orang menjadi donor kecuali menolak,” tingkat donor bisa naik 10 kali lipat.

Atau perusahaan otomatis mendaftarkan karyawan pada program pensiun, tapi memberi kebebasan keluar.

Kebanyakan orang lebih suka tidak melakukan apa-apa. Jadi lebih baik default diarahkan ke pilihan yang benar.

Nudge untuk Menurunkan Berat Badan

Kita sering ingin diet dan olahraga, tapi sulit konsisten. Menaruh makanan sehat di depan mata atau menyiapkan perlengkapan olahraga bisa menjadi nudge.

Ada juga metode lain: buat target realistis, misalnya turun 5 kg dalam 3 bulan. Lalu serahkan sejumlah uang (misalnya 5 juta) ke temanmu. Jika berhasil, uang kembali. Jika gagal, uang hilang—atau bahkan disumbangkan ke klub bola yang kamu benci!

Nudge di Level Pemerintah

Pemerintah juga bisa menggunakan nudge. Contoh: pemerintah AS memberi 1 dolar per hari kepada remaja putri hamil, selama mereka tidak hamil lagi. Bagi mereka yang miskin, insentif kecil ini efektif.

Nudge memungkinkan pemerintah menjalankan kebijakan dengan biaya rendah tanpa mengorbankan kebebasan. Pesan halus, default yang tepat, bisa mengarahkan masyarakat ke perilaku benar. Dan biayanya murah.

Contoh: di toilet bandara, pria sering tidak menjaga kebersihan. Papan bertuliskan “Jaga Kebersihan” tidak efektif. Tapi menggambar seekor lalat di dekat lubang toilet membuat pria otomatis membidiknya.

Banyak yang bahkan menyiram lalat itu. Nudge sederhana ini menghemat banyak biaya kebersihan. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/trivium/2571580197/teori-nudge-bagaimana-kita-bisa-membuat-keputusan-yang-lebih-baik

Rekomendasi