Bias Ilusi Klaster: Mengapa Pikiran Kita Menyukai Pola Imajiner?

Retoria.id – Apakah Anda pernah menghubungkan beberapa peristiwa? Misalnya, bayangkan setiap hari Anda pergi ke kampus dengan jalur yang sama. Empat hari berturut-turut Anda melihat seorang kakek di jalan.

Dalam kondisi ini, apakah Anda juga merasa takut? Atau tidak terpikir oleh Anda bahwa semua itu hanyalah kebetulan, karena memang setiap hari pada jam tertentu kakek itu berada di jalan tersebut?

Atau berapa kali dalam hidup Anda menafsirkan bentuk-bentuk awan dengan cara tertentu? Atau misalnya, berapa kali Anda melihat seseorang mengalami kegagalan besar lalu mengaitkannya dengan perbuatan buruk orang itu di masa lalu terhadap orang lain?

Jika Anda pernah mengalami hal-hal ini dalam hidup, mari saya perkenalkan dengan sebuah bias kognitif baru.

Bias ini dikenal sebagai bias ilusi klaster. Bias ilusi klaster berarti pikiran manusia cenderung membuat pola acak berdasarkan data dan bukti, lalu menunjukkan perilaku aneh.

Misalnya, jika Anda berhasil, mungkin Anda menganggap keberhasilan itu karena kebaikan Anda di masa lalu. Jika sesuatu yang buruk menimpa Anda, mungkin Anda mengaitkannya dengan keburukan yang Anda lakukan di masa lalu.

Padahal, bisa jadi keberhasilan itu diraih melalui usaha keras Anda sendiri. Atau misalnya, jika kecelakaan dianggap sebagai kegagalan, alasannya bisa jadi adalah kecerobohan Anda saat itu, bukan karena perbuatan Anda di masa lalu.

Namun, pikiran manusia cenderung merangkai peristiwa ke dalam berbagai pola, lalu menciptakan ilusi hubungan acak.

Apa itu Bias Ilusi Klaster?

Jika Anda berada dalam kondisi di mana Anda menggambar sebuah pola khusus dari peristiwa acak, maka Anda sedang mengalami bias ilusi klaster.

Efek ilusi klaster berarti pikiran kita cenderung menetapkan sebuah pola tertentu tanpa memperhatikan penyebab nyata dari peristiwa.

Baca Juga: Hyperbolic Discounting: Mengapa Kita Lebih memilih Mengorbankan Kenikmatan Jangka Panjang Untuk Kenikmatan Sesaat?

Dengan kata lain, clustering illusion adalah jenis bias kognitif di mana pikiran kita senang menemukan jejak hubungan dalam sebuah kumpulan elemen, padahal elemen-elemen itu acak belaka, dan penyebab yang kita cari bukanlah penyebab sebenarnya.

Misalnya, dengan melihat pohon-pohon, Anda menemukan bentuk tertentu di dalamnya. Singkatnya, bias ilusi klaster adalah cacat dalam pikiran manusia yang cenderung mencari pola pada data dan informasi, meski sebenarnya tidak ada pola.

Thomas Gilovich, profesor psikologi di Universitas Cornell, adalah salah satu peneliti yang banyak melakukan riset tentang ilusi klaster.

Penelitiannya menunjukkan bahwa penyebab bias ini adalah karena manusia membutuhkan perencanaan ke depan. Akibatnya, otak berusaha menemukan hubungan bermakna di antara sekumpulan data yang tidak relevan.

Menemukan hubungan berarti meningkatkan prediktabilitas. Prediktabilitas yang lebih tinggi berarti memperkuat kehati-hatian. Semua ini membuat kita melihat keterkaitan dalam hal-hal yang sebenarnya tidak berhubungan, hingga akhirnya menciptakan pola yang sebenarnya tidak ada.

Pada dasarnya, kita sebagai manusia melihat bentuk dan simbol dalam kumpulan data yang tidak beraturan dan acak, lalu pikiran menolak untuk menerima bahwa informasi tersebut murni kebetulan dan tidak relevan.

Perilaku ini makin meningkat ketika jumlah data sedikit, sehingga kita berasumsi dapat meramalkan atau memprediksi peristiwa.

Nama bias kognitif ini diambil dari ilmu penambangan data dan statistik, di mana peneliti bisa salah menganggap beberapa data acak sebagai sebuah klaster dari data yang saling terkait atau mirip.

Hal ini juga punya banyak bukti dalam sejarah. Misalnya, pada awal abad ke-21, beberapa kasus kanker payudara dilaporkan pada karyawan sebuah stasiun televisi di Australia.

Saat itu muncul rumor bahwa penyebab utama kasus ini adalah lingkungan kerja mereka. Namun penelitian sepenuhnya menolak anggapan tersebut.

Memang benar rata-rata kanker di organisasi itu lebih tinggi, tetapi tidak ada penyebab khusus dan sepenuhnya bersifat kebetulan.

Dampak Ilusi Klaster terhadap Bisnis

Efek ilusi klaster juga terlihat dalam dunia bisnis. Dalam penjualan, ilusi ini muncul ketika seorang penjual menganggap satu metode khusus berlaku untuk semua orang, lalu menerapkannya kepada semua pelanggan.

Padahal, tidak demikian. Jika ia berhasil beberapa kali dengan metode tersebut, itu hanya kebetulan. Bisa jadi kepribadian pelanggan tertentu cocok dengan metode itu. Tetapi penerapan metode yang sama pada semua orang tidak akan selalu berhasil.

Karena itu, seorang penjual tidak boleh menggunakan cara yang sama untuk semua pelanggannya. Setiap pelanggan memiliki kebutuhan dan pendekatan khusus yang berbeda.

Pada kenyataannya, pelanggan tidak akan mau membeli produk sampai mereka merasa dihargai. Perasaan ini muncul melalui beragam cara pada individu yang berbeda. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/trivium/2571633370/bias-ilusi-klaster-mengapa-pikiran-kita-menyukai-pola-imajiner

Rekomendasi