Apakah Pendapatan Yang Lebih Tinggi Meningkatkan Kualitas Hidup?


Retoria.id – Kita semua hampir bisa dipastikan berkeinginan untuk memiliki hidup yang berkualitas atau lebih baik. Dari banyaknya cara untuk meraih hidup yang berkualitas, pendapatan yang lebih tinggi adalah hal pertama yang mungkin terpikirkan untuk meningkatkan taraf hidup, sebelum memikirkan apa pun.

Apalagi wacana dominan kita dipenuhi tentang ekonomi, berbagai sektor dan bidang direduksi habis-habisan pada aspek ekonomi semata. Namun, apakah kualitas hidup hanya bergantung pada pendapatan?

Baca Juga: Jejak Inovasi Ibn Sina dalam Tradisi Filsafat: Dari Logika Sembilan bagian Menjadi Logika dua Bagian

Dalam ekonomi makro, ada sebuah indikator yang disebut Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index atau HDI). HDI adalah sebuah alat statistik yang digunakan untuk mengukur pencapaian keseluruhan suatu negara dalam dimensi sosial dan ekonomi.

Berdasarkan indikator ini, aspek sosial dan ekonomi suatu negara dinilai dan diukur dari kesehatan, tingkat pendidikan, dan standar hidup masyarakatnya.

Indeks ini memiliki tiga komponen utama:

  • Pendapatan
  • Harapan hidup
  • Pendidikan

Ketika hal di atas adalah alat ukur esensial yang efektif mengukur kualitas level kualitas hidup. Artinya, jika pendapatan sebuah negara meningkat tetapi tingkat kesehatan dan pendidikan masyarakat menurun, maka negara itu mengalami pertumbuhan ekonomi, tetapi tidak mengalami pembangunan.

Misalnya, jika demi meningkatkan produk domestik bruto, lingkungan hidup dan hak-hak warga seperti kesehatan dan pendidikan diabaikan, maka negara itu tidak dapat dikatakan mengalami pembangunan.

Ketiga faktor ini juga penting dalam kehidupan individu. Artinya, untuk meningkatkan taraf hidup, selain pertumbuhan pendapatan, kita juga harus memperhatikan kesehatan dan pengetahuan kita.

Sekarang, jika kita ingin meningkatkan pendapatan dengan cara menambah jam kerja, tetapi akibatnya kita jadi lebih jarang berolahraga, lebih jarang membaca buku, kurang beristirahat, dan menghabiskan lebih sedikit waktu dengan keluarga serta teman, maka dari sisi ekonomi, taraf hidup kita sebenarnya tidak meningkat.

Tujuan dari pembahasan ini sama sekali bukan untuk meminggirkan peran penting ekonomi atau mengatakan bahwa hidup lebih baik tidak membutuhkan uang lebih banyak.

Tujuan utamanya adalah agar kita memahami bahwa jangan sampai demi mengejar pendapatan lebih tinggi, kita justru mengorbankan kesehatan kita.

Misalnya, usaha untuk mendapatkan uang lebih banyak tidak boleh membuat kita kekurangan jam tidur dan jam untuk belajar. Ini tentu bukanlah hal mudah memadukan keduanya, faktanya kita lebih sering memilih mengorbankan salah satu dari ketiganya.

Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa meningkatkan pendapatan sekaligus meningkatkan kualitas hidup?

Jawabannya ada pada polarisasi pendapatan. Seorang pegawai biasa, dengan bekerja lebih keras dan lebih lama, hanya bisa meningkatkan sedikit pendapatannya.

Namun, untuk meningkatkan pendapatan sampai berkali lipat, ia perlu memperoleh keterampilan baru. Studi telah menunjukkan bahwa pengaruh keterampilan lunak dalam polarisasi pendapatan lebih besar daripada faktor apa pun.

Keterampilan lunak, seperti menulis dengan baik, cara menyampaikan presentasi, etika berinteraksi, membangun jejak digital yang kuat, dan memiliki jaringan profesional, dapat membantu kita untuk mendapatkan penghasilan lebih tinggi dengan usaha lebih sedikit.

Pada saat yang sama, kita juga bisa memiliki waktu lebih banyak untuk memperbaiki kesehatan, pengetahuan, dan wawasan kita. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/trivium/2571648856/apakah-pendapatan-yang-lebih-tinggi-meningkatkan-kualitas-hidup

Rekomendasi