Ableisme: Diskriminasi Tersembunyi dan Kesalahpahaman Tentang Disabilitas

Retoria.id – Kamu melihat unggahan yang kamu sukai di Instagram, dan ketika kamu menceritakannya kepada temanmu, mereka justru memiliki pendapat yang sangat berbeda. Wajar saja jika kamu kesal dan akhirnya menceritakannya kepada pasanganmu malam itu juga. Lalu bagaimana kamu menggambarkan sudut pandang temanmu?

Mungkin kamu akan menggunakan kata-kata seperti “bodoh” atau “gila” pada temanmu yang berbeda pandangan denganmu. Ungkapan semacam ini, meskipun tampak sepele dan tidak disengaja, merupakan tanda ableisme salah satu bentuk diskriminasi ketika kemampuan yang dianggap “normal” dinilai lebih unggul.

Baca Juga: Mengenal Efek Kupu-Kupu: Bagaimana Satu Kejadian Kecil Bisa memicu dampak besar?

Dalam artikel ini, kita akan membahas konsep ableisme, dampaknya terhadap individu dan masyarakat, serta cara-cara mengatasinya agar kita dapat bergerak menuju dunia yang lebih adil dan sadar tanpa sikap diskriminatif dan merasa paling superior. 

Apa Itu Ableisme?

Pertama-tama, disabilitas dalam konteks ini bukan sekadar keterbatasan fisik atau cacat nyata, melainkan representasi imajiner atau disabilitas hipotetis yang muncul melalui bahasa. Artinya, ketika kita mengatakan “si anu bodoh”, kita sebenarnya sedang melabeli orang itu dengan disabilitas mental, meskipun kenyataannya ia tidak memiliki masalah apa pun.

Hal ini disebut ableisme karena kita berasumsi bahwa kemampuan kita lebih unggul, dan siapa pun yang tidak setuju dengan kita atau melakukan kesalahan dianggap “lebih rendah”.

Pandangan seperti ini melahirkan diskriminasi berdasarkan kemampuan yang diasumsikan, dengan dampak yang serupa dengan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas, bahkan jika orang yang dituju sebenarnya tidak memiliki disabilitas apa pun.

Oleh karena itu, istilah “disabilitas” tidak hanya merujuk pada keterbatasan nyata, tetapi juga pada setiap bentuk ketidakmampuan atau representasi imajiner yang digunakan dalam bahasa sehari-hari untuk merendahkan orang lain.

Dampak Ableisme pada Kita

1. Bias tak sadar terungkap

Bahasa kita mencerminkan keyakinan kita. Frasa yang menggambarkan disabilitas sebagai kekurangan atau hal negatif mengungkapkan bias tersembunyi terhadap penyandang disabilitas.

2. Memperkuat stereotip yang merugikan

Ketika disabilitas dijadikan lelucon, metafora, atau perumpamaan, kita sebenarnya sedang menormalisasi sikap merendahkan martabat manusia. Pengulangan semacam ini bahkan dapat membuat penyandang disabilitas menginternalisasi pandangan negatif tersebut.

3. Fokus pada penampilan, bukan isi

Ketika Anda menyerang kemampuan fisik atau mental seseorang alih-alih menanggapi gagasannya, Anda memperluas ruang bagi diskriminasi. Misalnya, saat seseorang berkata, “Dengan kampaye gemoy itu, Prabowo melakukan manuver-manuver yang bodoh!” Fokus kita akan lebih tertuju pada ciri fisik Prabowo ketimbang pada strategi manuvernya.

Cara Menghilangkan Ableisme

1. Menerima disabilitas dan kecacatan

Jangan berusaha memperbaiki kecacatan; perbaikilah ketidakadilan dan cara pandang kita terhadapnya.
Lebih dari satu miliar orang di dunia (sekitar 15 persen populasi global dan seperempat populasi AS) memiliki beberapa bentuk disabilitas. Karena itu, kita harus mengubah pola pikir bahwa penyandang disabilitas “kurang” dibanding orang lain. Justru pola pikir inilah yang menjadi akar diskriminasi.

2. Belajar, belajar, dan terus belajar

Perluas kosakata dan latih diri untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara. Dengan begitu, Anda akan lebih sadar terhadap bias pribadi. Bacalah artikel, buku, tonton video, dengarkan podcast, dan pelajari karya dari penulis serta aktivis penyandang disabilitas.

3. Hindari asumsi

Jangan membuat asumsi tentang identitas atau kondisi seseorang. Jika ragu, ajukan pertanyaan dengan hormat. Misalnya, jika seseorang kesulitan membedakan warna, jangan langsung menyimpulkan bahwa mereka buta warna  tanyakan saja. Sikap ini menunjukkan rasa hormat terhadap kepribadian orang tersebut.

4. Jika melakukan kesalahan, mintalah maaf dengan tulus

Ketika seseorang menilai ucapan Anda tidak sopan, jangan mempertanyakan alasannya. Orang itu sudah terluka. Jika Anda merespons dengan sarkasme atau humor, Anda justru memperburuk keadaan. Alih-alih membenarkan diri, akui kesalahan dan mintalah maaf. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/trivium/2571685650/ableisme-diskriminasi-tersembunyi-dan-kesalahpahaman-tentang-disabilitas

Rekomendasi