Retoria.id – Di sebuah ruangan di Harvard, di kantor Steven Pinker, percakapan tentang menulis dimulai dari sesuatu yang tampak sederhana “aturan praktis”.
Pinker, yang telah menulis sembilan buku dan menghabiskan hidupnya meneliti bahasa serta kognisi, tidak langsung berbicara tentang teori yang rumit.
Ia justru memulai dari pertanyaan yang hampir semua orang pernah rasakan: “Why is there so much bad writing?”
Pertanyaan itu tidak ia jawab dengan sinisme. Ia juga tidak menerima jawaban populer yang menyebut bahwa tulisan buruk adalah hasil kesengajaan bahwa akademisi sengaja menulis rumit agar terlihat canggih, atau bahwa jargon adalah alat untuk membangun eksklusivitas.
Pinker justru membongkar asumsi itu. Ia mengutip prinsip sederhana yang dikenal sebagai Hanlon’s Razor: “Never attribute to malice that which can be adequately explained by stupidity.” Namun “kebodohan” yang ia maksud bukanlah kekurangan intelektual, melainkan kegagalan memahami posisi orang lain.
Di situlah ia memperkenalkan konsep yang menjadi inti seluruh percakapan curse of knowledge.
Bagi Pinker, curse of knowledge adalah jebakan yang nyaris tak terlihat. Ia menjelaskannya dengan kalimat yang tenang, tetapi menghantam:
“The difficulty that we all have in knowing what it’s like not to know something that we know.”
Dengan kata lain, semakin kita memahami sesuatu, semakin sulit bagi kita untuk menjelaskan hal itu kepada orang lain. Pengetahuan yang seharusnya menjadi jembatan justru berubah menjadi penghalang.
Ia mengilustrasikan hal ini dengan sebuah pengalaman nyata. Dalam sebuah konferensi TED, seorang ahli biologi molekuler yang brilian naik ke panggung untuk mempresentasikan penelitiannya.
Baca Juga: Filosofi Menulis Dr. Jordan Peterson: Hasilkan Tulisan Mendalam dan Efektif
Namun, dalam hitungan detik, ia telah kehilangan seluruh audiens. Ia langsung berbicara dalam bahasa teknis, tanpa menjelaskan konteks, tanpa memberi pijakan awal bagi pendengarnya.
Semua orang di ruangan itu sadar tidak ada yang memahami apa pun kecuali pembicaranya sendiri. Bagi Pinker, ini bukan soal kecerdasan. Ini soal perspektif.
Masalah yang sama, menurutnya, merembes ke dalam hampir seluruh bentuk tulisan, terutama dalam dunia akademik. Tulisan dipenuhi singkatan, jargon, dan abstraksi yang hanya dapat dipahami oleh lingkaran kecil orang.
Ia memberi contoh sederhana. Kalimat seperti “the level of the stimulus was proportional to the intensity of the reaction” mungkin terdengar ilmiah, tetapi sebenarnya hanya berarti: anak-anak lebih lama melihat kelinci daripada truk.
Di sinilah bahasa kehilangan bentuknya. Ia tidak lagi menghadirkan gambaran, melainkan hanya menyusun istilah.
Sebagai solusi, Pinker menawarkan dua prinsip yang tampak sederhana, tetapi menuntut disiplin tinggi.
Pertama, keluar dari kepala sendiri ia mengakui bahwa ia mencoba membayangkan bagaimana rasanya bagi orang yang tidak tahu apa yang ia tahu. Namun ia juga menyadari keterbatasan upaya itu. Karena itu, ia melakukan sesuatu yang lebih konkret: “At the end of the day, I show it to people.”
Ia bahkan menjadikan ibunya sebagai pembaca pertama. Bukan karena ibunya tidak cerdas justru sebaliknya melainkan karena ibunya bukan bagian dari bidang yang sama.
Ia tidak membawa beban pengetahuan yang sama. Dan di situlah tulisan diuji: apakah ia tetap bisa dipahami di luar lingkaran keahlian penulisnya?
Prinsip kedua Pinker lebih menarik lagi menulis adalah soal membuat orang lain melihat.
Ia menolak gagasan bahwa pemahaman lahir dari kata-kata semata. Baginya, bahasa hanyalah alat untuk membangun gambaran dalam pikiran pembaca.
“Language is a means to an end… what understanding consists of is not a bunch of words.”
Karena itu, ia mengingatkan agar penulis tidak bersembunyi di balik istilah abstrak. Kata-kata seperti “paradigm”, “framework”, atau “stimulus” mungkin terasa natural bagi penulis, tetapi tidak memberi bentuk apa pun bagi pembaca.
Sebaliknya, ia mendorong penggunaan contoh, metafora, dan gambaran konkret sesuatu yang bisa divisualisasikan.
Di titik ini, Pinker menyentuh sesuatu yang lebih luas: mengapa tulisan-tulisan lama terasa lebih hidup.
Menurutnya, para penulis di masa lalu tidak memiliki kemewahan jargon seperti sekarang. Mereka tidak bisa bergantung pada istilah abstrak yang padat makna. Karena itu, mereka terpaksa menggunakan metafora yang hidup dan dapat dibayangkan bersama.
Alih-alih mengatakan “aggression”, mereka mungkin berkata: “the spirit of the hawk needed into our flesh.”
Bagi Pinker, di situlah kekuatan bahasa: pada kemampuannya menghadirkan pengalaman, bukan sekadar konsep.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa kejelasan tidak cukup hanya dengan contoh. Ada keseimbangan yang harus dijaga antara generalisasi dan ilustrasi.
Generalisasi tanpa contoh akan terasa kosong. Sebaliknya, contoh tanpa generalisasi akan kehilangan makna. Pemahaman, dalam hal ini, bukan hanya soal apa yang dikatakan, tetapi bagaimana ia disusun.
Pinker kemudian beralih pada pertanyaan yang lebih mendasar mengapa menulis terasa lebih sulit daripada berbicara?
Jawabannya terletak pada hilangnya konteks. Dalam percakapan, dua orang berbagi common ground. Mereka tahu apa yang sedang dibicarakan, bisa membaca ekspresi satu sama lain, dan segera memperbaiki kesalahpahaman.
Dalam menulis, semua itu tidak ada. Penulis harus membangun seluruh konteks dari nol, tanpa bantuan umpan balik langsung. Menulis, dengan demikian, adalah bentuk komunikasi yang paling sunyi.
Dalam hal gaya, Pinker tidak berbicara tentang keindahan yang berlebihan. Ia justru menekankan hal-hal kecil: ritme kalimat, bunyi kata, dan kebiasaan membaca tulisan dengan suara keras.
Jika sebuah kalimat tidak mengalir saat diucapkan, maka besar kemungkinan ia juga tidak akan mengalir dalam pikiran pembaca.
Ia juga menyinggung humor yang, menurutnya, tunduk pada prinsip yang sama: kesegaran dan keringkasan. Seperti dalam Hamlet: “brevity is the soul of wit.” Atau dalam The Elements of Style: “omit needless words.”
Namun, di balik semua itu, ada satu kegelisahan yang terus muncul dalam penjelasan Pinker: pemborosan.
Begitu banyak ide brilian yang hilang hanya karena disampaikan dengan buruk. Begitu banyak energi intelektual yang terbuang karena pembaca harus membaca ulang paragraf yang sama berkali-kali hanya untuk memahami maksudnya.
Bagi Pinker, ini bukan sekadar masalah gaya. Ini adalah kegagalan komunikasi. Menariknya, ia menemukan pelajaran justru dari anak-anak.
Tanpa beban jargon, mereka menjelaskan dunia dengan cara yang langsung dan visual. “Clouds are water vapor. Smoke is fire vapor.” Bagi Pinker, ini bukan sekadar kelucuan melainkan pengingat bahwa bahasa, pada dasarnya, adalah alat untuk melihat dunia bersama.
Pinker mengakui bahwa model bahasa besar mampu menghasilkan tulisan yang rapi dan terstruktur. Namun ia juga mencatat kekurangannya: “It’s well written… but it is so generic and prosaic.”
Tulisan itu jelas, tetapi tidak memiliki keunikan. Ia seperti hasil rata-rata dari miliaran teks benar, tetapi tidak menggugah.
Pada akhirnya, seluruh gagasan Pinker mengarah pada satu kesimpulan sederhana: Menulis bukanlah tentang menunjukkan apa yang kita tahu. Menulis adalah tentang memastikan orang lain dapat melihatnya.
Dan di situlah letak paradoks terbesar pengetahuan semakin banyak yang kita tahu, semakin besar risiko kita gagal dipahami. (*)