Jejak Intelektual Ibn Hazm: Filsuf Andalusia Yang Menolak Qiyas

Retoria.id – Nama lengkap Ibn Hazm adalah Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa‘id bin Hazim bin Galib bin Khalf bin Sufyan bin Yazid. Kakeknya, Yazid, berasal dari Persia dan kemudian menetap di Andalusia.

Ada yang mengatakan bahwa Ibn Hazm pernah lama tinggal di Qordoba, sehingga ia dinisbatkan sebagai al-Qurtubi. Ibn Hayyin dan Palatios berpendapat bahwa Ibn Hazm merupakan penduduk asli Spanyol, sehingga ia juga disebut al-Isbaniyya.

Namun, penisbatan yang paling umum ialah al-Farisi, karena garis keturunannya berasal dari Persia. Ia lahir pada 29 atau 30 Ramadhan 383 H / 8 November 993 M.

Beberapa guru Ibn Hazm antara lain Ahmad ibn al-Jasur dan ‘Abd al-Rahman al-‘Azdi dalam bidang hadis; Abdullah bin Dahun, seorang faqih Malikiyah di Cordova, serta Mas‘ud bin Sulaiman bin Maflah, seorang ulama bermazhab Zahiri dalam bidang fikih.

Baca Juga: Ibn Taimiyah dan Kritiknya terhadap Logika Aristoteles Dalam Kitab al-Radd ‘Ala al-Mantiqiyyin

Adapun dalam bidang logika, ia berguru kepada Muhammad bin al-Hasan al-Mazhaji dan Abu al-Qasim Sa‘ad ibn Ahmad al-Andalusi.

Ibn Hazm dikenal sebagai sosok pemikir besar yang cemerlang sejak muda. Ia dibesarkan tanpa kehadiran sosok ibu, bahkan tidak mengetahui siapa ibu kandungnya. Sejak kecil ia diasuh oleh para pembantu di rumahnya.

Kondisi ini membentuk kepribadian yang mandiri dan menumbuhkan semangat belajar yang tinggi. Ayahnya, seorang konglomerat terkemuka, memberikan dukungan penuh agar Ibn Hazm memperoleh pendidikan terbaik, bahkan dengan pengajaran privat.

Dari pelajaran-pelajaran intensif inilah kecerdasan Ibn Hazm berkembang pesat hingga diakui dunia Islam maupun Barat hingga kini.

Kecemerlangan ilmunya diakui oleh banyak ulama klasik, termasuk Imam al-Ghazali, yang berkata:

“Aku telah menemukan sebuah kitab tentang nama-nama Allah yang ditulis oleh Abu Muhammad bin Hazm al-Andalusi. Kitab tersebut menunjukkan daya hafal dan kecerdasannya yang luar biasa.”

Ibn Hazm merupakan salah satu filsuf besar abad pertengahan yang memiliki pemikiran berbeda dengan para filsuf sezamannya. Ia dikenal sebagai tokoh utama Mazhab Zahirisme, sebuah mazhab yang menekankan makna lahiriah (zahir) teks agama dan menolak penggunaan qiyas (analogi) serta sistem ta‘lil (rasionalisasi hukum).

Baca Juga: Autobiografi al Munqidz min al Dhalal: Rekaman Perjalanan dan Pergulatan Intelektual Al Ghazali

Mazhab ini pertama kali dipelopori oleh Abu Sulaiman Daud bin Ali bin Khallaf az-Zahiri, yang berusaha merekonsiliasi antara teologi dan fikih. Ibn Hazm kemudian mengembangkan dan memperkuat fondasi mazhab ini dengan argumen rasional-logis yang khas.

Terkait pandangan Ibn Hazm yang menolak qiyas, ‘Abd al-Haqq bin Mulahiqi at-Turkmani, dalam tahqiq-nya atas kitab at-Taqrîb li Jadd al-Mantiq wa al-Madkhal Ilaih karya Ibn Hazm, menjelaskan:

“Dikatakan: pada awalnya Ibn Hazm mendalami mazhab fikih Syafi‘i. Namun kemudian ia berijtihad secara mandiri hingga menolak qiyas secara keseluruhan, baik yang jelas maupun yang samar. Ia hanya berpegang pada makna zahir teks agama dan keumuman redaksi al-Qur’an dan hadis.”

Karya dan kitab Warisan Ibn Hazm

Kecintaannya terhadap ilmu telah melahirkan banyak karya besar yang berpengaruh hingga kini. Beberapa di antaranya adalah:

  • al-Fashl fî al-Milal wa al-Ahwa’ wa al-Nihal
  • al-Nasikh wa al-Mansûkh
  • Jamahirat al-Ansab
  • al-Ihkam fî Ushûl al-Ahkâm
  • Jawami‘ al-Siyarah al-Nubuwwah
  • Naqth al-‘Arus fî Tawarikh al-Khulafa’
  • Thauq al-Hamamah
  • Al-Mufadhalah bain al-Shahabah
  • Ibthal al-Qiyas wa al-Ra’y wa al-Istihsan wa al-Taqlid wa al-Ta‘lil
  • Risalah Fadhl al-Andalus: Masail Ushul al-Fiqh
  • al-Muhalla
  • al-Taqrib fi Hudud al-Manthiq
  • dan Kitab al-Akhlaq wa al-Siyar fî Madawat al-Nufus.

Karya-karya tersebut menunjukkan keluasan ilmu Ibn Hazm dalam berbagai bidang, mulai dari fikih, logika, sejarah, hingga filsafat dan sastra. Dengan pemikiran yang tajam dan gaya penulisan yang kuat, Ibn Hazm layak dikenang sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh dalam sejarah intelektual Islam. (*)

 

Sumber: https://www.retoria.id/trivium/2571740461/jejak-intelektual-ibn-hazm-filsuf-andalusia-yang-menolak-qiyas

Rekomendasi