Paradoks Sawit: Kita Mengecam, Kita Mengonsumsi, Kita Tenggelam

Retoria.id – Kadang lucu melihat orang-orang yang bolak-balik mengutuk kerusakan lingkungan sambil mulutnya tetap asyik mengunyah produk yang lahir dari kerusakan itu sendiri. Rasanya mirip orang yang marah karena jalanan macet, tapi tiap pagi tetap membawa mobil sendirian.

Dunia ini memang hobi bercanda, dan penghuninya ikut-ikutan pura-pura tidak paham.

Banyak juga yang pura-pura gagal paham melihat bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Banjir yang datang kali ini bukan banjir “jadul” yang jadi cerita para tetua kampung.

Air bah sekarang datang dengan gaya lebih sombong, seperti hendak bilang, “Bukan saya yang kelewatan, kalian yang bikin beginian.” Airnya tinggi, keruh, ganas. Bukan cuma merendam rumah, tapi merendam logika sehat manusia.

Banjir tidak pernah cuma soal hujan. Alam jarang jahat duluan. Biasanya manusia lebih rajin memulai, baru alam membalas kadang perlahan, kadang langsung menampar sambil menyuruh bercermin.

Di Aceh, tamparannya keras. Media dan para aktivis melaporkan bahwa penyebab kehancuran bukan cuma hujan yang lagi galak, tapi rusaknya Rawa Singkil, kawasan gambut berharga yang kini lebih mirip spons bekas yang disobek-sobek.

Baca Juga: Soal Rentetan Bencana di Sumatera, Mahfud MD Singgung Dugaan Penyalahgunaan Izin Tambang

Empat ribu hektare lebih hutan gambut digunduli, dikeruk, dibelah, ditusuk kanal ratusan kilometer. Begitu spons itu robek, air tidak lagi merembes pelan ia jatuh dengan dendam.

Polanya selalu sama: ada pemain besar, ada perantara, ada pekerja kecil yang dimiskinkan, ada lahan yang dibuka seperti halaman kosong. Rantai ini sudah sering dilaporkan jurnalis, aktivis, peneliti. Namun hebatnya, manusia tetap bekerja sama seperti penonton sinetron: tahu itu merugikan, tahu itu fiksi, tapi tetap menonton.

Yang membuat dada kolektif makin sesak bukan hanya kerusakan hutannya, tetapi ironi sehari-harinya. Semua orang marah melihat banjir, marah melihat warga mengungsi, marah melihat hutan konservasi hilang.

Tapi coba jujur sebentar: sabun yang dipakai pagi tadi, margarin di roti, biskuit cemilan saat rapat, sampai sampo untuk tampil fotogenik di Zoom meeting hampir semuanya punya jejak sawit. Kadang sawit legal, kadang sawit ilegal yang sudah dicampur rapi sampai asal-usulnya hilang seperti kenangan yang sengaja diblokir.

Baca Juga: Pilu Gubernur Mualem Lihat Bencana Aceh dari Udara: Mata Menangkap Luka di Tanah Rencong

Begitulah hidup: mengecam kerusakan, ikut menyumbang kerusakan, lalu menyalahkan “mereka” tanpa sadar bahwa “mereka” itu juga bagian dari “kita”. Paradoks manusia. Humor gelap kehidupan.

Selama puluhan tahun, orang percaya pada label “ramah lingkungan”, “bebas deforestasi”, “komitmen hijau”, “berkelanjutan”, dan berbagai jargon yang ditulis di kemasan dengan huruf hijau pastel. Katanya, kalau warnanya hijau pasti baik. Padahal Popeye saja makan bayam, bukan sampel audit supply chain. Label itu janji, bukan bukti.

Rantai industri ini berjalan seperti opera sabun tak berkesudahan: lahan dibuka diam-diam, warga jadi wajah kegiatan ilegal, buah sawit dipanen dari kawasan lindung, dicampur sebelum masuk pabrik, minyaknya mengalir ke pedagang besar, lalu masuk ke produk sehari-hari. Kita pakai tiap hari, beli tiap bulan, dan jarang curiga bahwa sebagian minyak itu mungkin penyebab kampung-kampung terendam banjir.

Kalau semua konsumen kecil merasa “tidak punya andil”, maka siapa yang punya? Jin penunggu hutan?

Banjir yang merendam Aceh bukan cuma kumpulan air. Ia akumulasi ketidakjujuran, ketamakan, dan keluguan massal. Yang kaya meraup untung, yang miskin menanggung akibat, dan publik berdiri di tengah-tengah sambil mengelus dada, berkata, “Kok bisa ya?”

Jawabannya sederhana: bisa. Karena semua orang, langsung atau tidak, terlibat. Protes sawit, tapi harga murah produk turunannya terlalu menggoda. Baca berita deforestasi sambil ngemil biskuit yang jejak karbonnya sama besar. Kampanye “save the planet” sambil membeli barang-barang yang membuat planetnya meringis.

Spesies manusia canggih dalam dua hal: menyalahkan orang lain dan membenarkan diri sendiri. Ahli membuat musuh bersama, tapi malas bercermin. Protes eksploitasi alam tapi tidak siap mengurangi konsumsi. Ingin lingkungan lestari, tapi tetap mengutamakan produk paling murah, cepat, praktis. Alam diminta kompromi, padahal manusia sendiri tidak mau kompromi dengan gaya hidup.

Banjir bandang adalah teguran. Tapi seperti teguran lain, ia hanya bertahan beberapa minggu. Begitu air surut, dapur umum tutup, dan linimasa kembali penuh drama percintaan seleb atau resep tteokbokki, semuanya lupa lagi. Sampai banjir berikutnya datang mengetuk pintu sambil berkata: “Masih pura-pura lupa?”

Paradoks ini nyata: membenci kerusakan yang diciptakan sendiri. Marah pada aliran air tapi akrab dengan produk-produk yang mempercepat alirannya. Ingin hutan utuh, tapi ingin rak minimarket penuh barang murah.

Dan seperti biasa, korban terbesar bukanlah pelaku utama melainkan rakyat kecil. Yang tinggal di dataran rendah, yang tidak punya pilihan pindah rumah, yang penghasilannya harian, yang panennya gagal, yang motornya terendam, yang pakaian dua lembar harus dikeringkan di balai desa.

Sementara pelaku besar duduk di ruangan ber-AC, berdiskusi tentang keberlanjutan sambil menyiapkan laporan tahunan penuh foto pepohonan yang bahkan tidak mereka tanam. Ironis? Tentu. Lucu? Ya, kalau suka humor gelap.

Apa yang bisa dilakukan? Tidak banyak, mungkin. Tapi bukan berarti tidak ada. Bisa dimulai dengan sesuatu yang sederhana: sadar. Sadari bahwa rantai konsumsi punya dampak. Kurangi barang yang tidak perlu. Pilih yang benar-benar dibutuhkan. Berhenti percaya bahwa label hijau otomatis berarti baik. Yang paling penting, berhenti memisahkan diri dari masalah lingkungan. Tidak ada penonton di panggung ini kita semua pemain.

Jika bingung memulai, lihat saja tangan sendiri. Sabun, sampo, makanan, minuman, kosmetik, deterjen… semuanya mungkin membawa jejak hutan yang hilang. Tidak perlu berhenti pakai semuanya. Tapi kalau bisa mengurangi, kurangi. Kalau bisa memilih, pilih. Kalau bisa bertanya ke produsen, tanya. Perubahan memang pelan. Tapi pelan bukan berarti tidak ada.

Kerusakan lingkungan bukan cuma akibat satu dua pemain besar. Ia adalah cermin besar yang memantulkan wajah semua orang.

Jika suatu hari kawasan yang tenggelam itu kembali terendam, setidaknya ada sedikit kejujuran: tidak lagi menyalahkan angin atau hujan. Karena penyebabnya sudah lama diketahui. Rantainya jelas. Ironinya telanjang.

Banjir itu bukan air murka alam. Itu air yang keluar dari luka yang dibiarkan. Luka yang ditambal dengan diskon, promo, dan kemasan cantik.

Paradoksnya sederhana: ingin bumi baik-baik saja, tapi jarang benar-benar baik kepada bumi.

Begitulah manusia. Dan mungkin itulah sebabnya alam terkadang perlu memukul meja, supaya semua orang berhenti pura-pura tidur.

Kalau merasa tersindir, itu pertanda baik. Berarti masih ada ruang waras. Masih ada harapan. Masih ada kemungkinan memperbaiki sesuatu, meski pelan, meski kecil, meski dari hati yang sudah lama kebanjiran sinisme. (*)

Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2572009184/paradoks-sawit-kita-mengecam-kita-mengonsumsi-kita-tenggelam

Rekomendasi