Tanpa Catatan: Avatar 4 dan Momen Ketika Studio Tak Punya Apa-Apa untuk Dikoreksi

Retoria.id – Dalam dunia film waralaba, catatan studio adalah hukum tak tertulis. Setiap halaman skenario hampir selalu dipenuhi koreksi, saran, dan peringatan. Bahkan bagi sutradara sebesar James Cameron, catatan adalah bagian dari proses. Karena itu, Avatar 4 menjadi anomali sejak lahir.

Cameron sendiri mengisahkan bagaimana relasi itu berjalan dari waktu ke waktu.

“I can’t tell you the details, but all I can say is that when I turned in the script for 2, the studio gave me three pages of notes. And when I turned in the script for 3, they gave me a page of notes, so I was getting better.”

Terjemahan:

“Saya tidak bisa menceritakan detailnya, tapi yang bisa saya katakan adalah: ketika saya menyerahkan naskah film kedua, studio memberi saya tiga halaman catatan. Saat saya menyerahkan naskah film ketiga, mereka memberi satu halaman catatan artinya saya mulai membaik.”

Di titik itu, semuanya masih normal. Masih ada dialog antara kreativitas dan kontrol. Masih ada ruang untuk revisi. Namun ketika giliran Avatar 4, hukum itu berhenti berlaku.

“When I turned in the script for 4, the studio executive, creative executive over the films wrote me an email that said, ‘Holy f*ck.’ And I said, ‘Well, where are the notes?’ And she said, ‘Those are the notes.’”

Terjemahan:

“Ketika saya menyerahkan naskah film keempat, eksekutif kreatif yang menangani film-film ini mengirimi saya email yang berbunyi, ‘Holy f*ck.’ Saya bertanya, ‘Lalu mana catatannya?’ Dia menjawab, ‘Itu catatannya.’”

Tidak ada halaman koreksi. Tidak ada saran struktur. Tidak ada penyesuaian pasar. Hanya keterkejutan. Dalam bahasa industri, itu berarti satu hal: Avatar 4 tidak sedang diperbaiki ia sedang dihadapi.

Cameron menyadari bahwa apa yang ia tulis melampaui pola yang biasa dipahami studio.

“Because it kind of goes nuts in a good way, right?”

Terjemahan:

“Karena ceritanya memang jadi gila—tapi dengan cara yang baik.”

Baca Juga: 5 Hal yang Ingin James Cameron Kamu Ketahui tentang Avatar: Fire and Ash

Di sinilah Avatar 4 menampakkan posisinya yang sesungguhnya. Ia bukan sekadar kelanjutan cerita, melainkan pergeseran arah. Bukan memperluas Pandora, tetapi mengubah cara semesta itu bekerja dan dibaca. Sesuatu yang bahkan tidak bisa langsung dirumuskan dalam bentuk catatan.

Menariknya, kegilaan kreatif itu justru muncul di tengah keraguan ekonomi. Cameron terbuka soal risiko keberlanjutan waralaba ini.

“The big swing in all of this is, do we make any money with ‘Avatar 3’? I mean, we’ll make some money. But the question is, what kind of a profit margin, if any, is there, and how much of an inducement is that to continue on in this universe?”

Terjemahan:

“Taruhan besar dari semua ini adalah: apakah kami menghasilkan uang dari ‘Avatar 3’? Maksud saya, kami pasti menghasilkan uang. Tapi pertanyaannya, berapa besar margin keuntungannya jika ada dan seberapa besar itu menjadi dorongan untuk terus melanjutkan semesta ini?”

Maka Avatar 4 berdiri di persimpangan yang jarang terjadi: secara kreatif tak tersentuh, secara bisnis penuh risiko. Sebuah film yang membuat studio tak punya catatan, tetapi juga tak bisa sepenuhnya merasa aman.

Jika film kedua dan ketiga masih bergerak dalam wilayah yang bisa dipetakan, Avatar 4 tampaknya sengaja melompat keluar dari peta itu sendiri. Ia tidak meminta persetujuan; ia memaksa orang untuk mengejarnya.

Dan mungkin itulah penanda paling jelas bahwa Avatar 4 benar-benar di luar nalar: bukan karena teknologinya, bukan karena skalanya, tetapi karena untuk pertama kalinya, bahkan studio pun kehabisan kata selain terkejut. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/resensi/2572076340/tanpa-catatan-avatar-4-dan-momen-ketika-studio-tak-punya-apa-apa-untuk-dikoreksi

Rekomendasi