Retoria.id – Sejarah ilmu logika di dunia Islam tidak pernah statis. Ia selalu mengalami pergeseran bentuk, penafsiran ulang, dan penyesuaian dengan kebutuhan zaman.
Salah satu titik balik yang paling menentukan adalah apa yang disebut “pergeseran dari logika sembilan bagian menuju logika dua bagian.
Mula-mula Logika terdiri dari sembilan bagian, dan pada akhirnya, dilakukan penyederhanaan menjadi logika dua bagian—enam bagian.
Baca Juga: Perbedaan Fixed Mindset dan Growth Mindset: Mengapa bakat sama berujung pada hasil berbeda?
Transformasi ini terutama dipelopori oleh Ibn Sina (Avicenna), filsuf besar Persia, dengan inspirasi dari gurunya yang jauh lebih awal, al-Farabi al muallim al tsani.
Perubahan tersebut bukan sekadar teknis, melainkan sebuah revolusi cara pandang bahwa logika tidak lagi diperlakukan sebagai keseluruhan paket sembilan bagian warisan Aristoteles, melainkan ditata ulang sesuai kebutuhan filsafat itu sendiri.
Aristoteles, Porphyry, dan Tradisi Sembilan Bagian
Ketika karya-karya Aristoteles diterjemahkan dari bahasa Yunani atau Suryani ke dalam bahasa Arab pada era Abbasiyah, logika Aristotelian tiba bersama sebuah pendahuluan dari filsuf Porphyry (dikenal sebagai Isagoge).
Tambahan inilah yang membuat logika dipahami sebagai sembilan bagian. Sembilan bagian itu terdiri dari:
Al-Farabi dan kemudian Ibn Sina dalam karya monumentalnya Al-Syifa’ masih mengikuti struktur sembilan bagian ini. Namun, Ibn Sina tidak berhenti di situ. Ia melakukan perombakan yang kelak menjadi arus utama baru dalam tradisi Islam.
Inspirasi Al-Farabi: Ilmu, Tasawwur, dan Tasdiq
Al-Farabi adalah orang pertama yang dengan jelas membagi pengetahuan menjadi dua: tasawwur (pemahaman konseptual) dan tasdiq (pembenaran proposisional).
Pembagian ini sederhana, tetapi revolusioner. Tasawwur dicapai lewat definisi, sedangkan tasdiq diperoleh lewat argumen. Ibn Sina menyadari betul bahwa inilah fondasi untuk menata ulang struktur logika. Ia berpendapat:
‘Tasawwur mendahului tasdiq. Kita harus memahami konsep sebelum bisa menyatakan atau menolak sesuatu.
Karena itu, pembahasan tentang definisi harus hadir sebelum pembahasan tentang argumen.”
Dari sinilah lahir apa yang kita sebut logika dua bagian: bagian pertama membahas konsep (definisi), bagian kedua membahas proposisi dan argumen.
Ibn Sina dan Logika Dua Bagian-Enam Bagian
Ibn Sina tidak hanya berhenti pada dua bagian. Dalam karyanya Al-Isyarat wa al-Tanbihat, ia memutuskan untuk menghapus tiga cabang logika Aristoteles: dialektika, retorika, dan puisi.
Alasannya jelas filsafat hanya membutuhkan logika yang dapat menjamin kepastian ilmiah, yaitu demonstrasi (burhan), serta perlindungan dari kesalahan berpikir, yaitu sofistika (mughalathah).
Sementara itu, dialektika, retorika, dan puisi dipandang sebagai seni bicara yang berguna di ranah sosial, tetapi tidak diperlukan dalam filsafat yang mencari kepastian.
Dengan demikian, logika Ibn Sina menjadi dua bagian—enam cabang:
Model ini kemudian menjadi standar bagi generasi sesudahnya, mulai dari logika Isyraqi (Suhrawardi) hingga logika Sadra (Mulla Shadra). Bahkan ketika diberi nama baru, jejak Ibn Sina tetap terasa.
Mengapa Pergeseran Ini Penting?
Bagi Ibn Sina, logika bukan sekadar disiplin teknis, melainkan alat filsafat. Maka, ia menata ulang isinya agar relevan dengan tujuan filsafat yaitu mencari pengetahuan yang pasti tentang realitas.
Dengan kata lain, Ibn Sina melakukan “diet intelektual” atas logika: membuang yang dianggap hiasan, menyisakan yang benar-benar substansial.
Efek Samping dan Perdebatan
Beberapa peneliti kemudian menganggap bahwa inovasi Ibn Sina menghasilkan sejumlah efek tambahan, seperti:
Namun, banyak ahli mengingatkan bahwa hubungan ini sering kali kebetulan belaka, bukan konsekuensi langsung dari pergeseran struktur logika.
Ibn Sina sendiri tidak pernah mengklaim logika dua bagian sebagai “teori segala hal baru”, melainkan hanya sebagai bentuk paling efisien untuk tujuan filsafat.
Warisan Ibn Sina
Sejak Ibn Sina, hampir semua tradisi logika Islam mengikuti kerangka dua bagian. Bahkan para kritikusnya, dari Khwajah Nasiruddin Tusi hingga Mulla Shadra, tetap berangkat dari sistem yang ia wariskan.
Warisan itu dapat diringkas dalam tiga poin:
Relevansi untuk Hari Ini
Mungkin sebagian bertanya: apa gunanya membicarakan perdebatan sembilan bagian versus dua bagian di abad ke-21?
Jawabannya ada pada cara kita menata ilmu. Ibn Sina memberi teladan bahwa ilmu tidak boleh berhenti pada tradisi, melainkan harus terus disesuaikan dengan kebutuhan zaman.
Ia menolak menerima Aristoteles begitu saja, lalu merumuskan ulang logika agar lebih berguna bagi filsafat.
Di tengah dunia modern yang banjir informasi, di mana logika kadang digantikan oleh retorika atau bahkan manipulasi, warisan Ibn Sina tetap segar: fokuslah pada burhan (argumen yang sahih) dan waspadalah terhadap mughalathah (sesat pikir). (*)