Instruksi Tegas: Serang Markas Polisi = Ditembak Peluru Karet
Retoria.id – Suara tegas bergema dari pucuk kepemimpinan Polri: “Haram Mako Polri diserang, jika sampai diterobos, tembak dengan peluru karet!” demikian perintah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo kepada jajaran lewat video konferensi yang kini viral di media sosial.
Dalam rekaman berdurasi singkat itu, Kapolri didampingi Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo dan Irwasum Komjen Wahyu Widada, berbicara tegas: markas kepolisian adalah simbol kuat negara yang harus dilindungi tanpa kompromi.
Dia memperingatkan anggota Polri agar tidak ragu mengambil tindakan tegas, karena “aturan sudah ada… kalau sampai masuk ke asrama, tembak dengan peluru karet. Jadi enggak usah ragu-ragu.”
Lebih mengejutkan, Kapolri bahkan menegaskan tanggung jawab pribadi: “Jika ada yang menyalahkan saya… saya Kapolri Listyo Sigit siap dicopot.”
Mendampingi pernyataan itu, Komjen Dedi Prasetyo menguatkan: tindakan tegas dan terukur diperlukan karena “Mako Polri adalah representasi negara kita… negara tidak boleh kalah dengan perusuh.”
Baca Juga: Golkar Nonaktifkan Adies Kadir: Tanda Politik Sedang Retak di Senayan
Mengapa Instruksi Tegas Ini Muncul Sekarang?
Sepekan terakhir diwarnai oleh gelombang demonstrasi nasional sebagai reaksi terhadap kenaikan tunjangan DPR, naiknya biaya pangan dan pendidikan, serta insiden tewasnya Affan Kurniawan di tangan aparat Brimob pada 28 Agustus. Kerusuhan pun merebak, termasuk upaya mendekati dan menerobos markas polisi.
Dalam konteks ini, pernyataan Kapolri bukan hanya soal menjaga institusi—tetapi juga soal keselamatan personel, ketegasan hukum, dan stabilitas negara—apalagi di tengah kerusuhan yang meluas di berbagai kota.
Makna di Balik Pernyataan “Siap Dicopot”
Langkah Kapolri menegaskan dirinya siap menanggung risiko politik adalah sesuatu yang jarang terjadi. Biasanya, pimpinan institusi cenderung berlindung di balik prosedur. Namun, kali ini Listyo Sigit memilih pasang badan:
Pernyataan Kapolri Listyo Sigit tentang instruksi tembak peluru karet kepada massa yang berupaya menerobos markas polisi, serta kesiapannya dicopot bila dinilai salah, mencerminkan dua hal: ketegasan menjaga simbol negara sekaligus risiko besar terhadap relasi dengan publik.