Fakta Menarik di Balik Kemenangan Zohran: Legislator Muslim Pertama dari New York

Retoria.id – Di sebuah blok apartemen di Queens, seorang relawan kampanye berjalan kaki mengetuk pintu satu per satu. “Selamat pagi, saya dari kampanye Zohran Mamdani. Boleh bicara sebentar?”

Ia lalu mendengarkan: “Saya tidak tahu bagaimana membayar sewa bulan depan,” “Bus pagi selalu penuh,” “Anak saya sulit naik metro di jam sibuk.” Relawan itu berbicara dengan warga, bukan sekadar berbicara kepada mereka.

Inilah yang membuat keberhasilan Zohran Mamdani lebih dari sekadar angka suara. Ia menolak menjadikan politik semata panggung gemerlap berisi stasiun TV, baliho, dan iklan digital. Ia mengembalikan politik ke akarnya: percakapan antar-hati, bukan algoritma yang menciptakan kesan.

Di Indonesia, politik sering berubah menjadi ajang “siapa paling viral” atau “siapa paling sering tampil di layar.” Figur-figur muncul di Instagram pagi hari, trending di X sore harinya, lalu menghilang esoknya tanpa sempat benar-benar mendengarkan suara warga, tukang ojek, pedagang kaki lima, atau tetangga yang kesulitan membayar kontrakan.

Baca Juga: Kilas Balik Skandal Komentar Tak Etis Nafa Urbach soal Tunjangan Rumah Anggota DPR usai Kini Terjerat Sanksi MKD

Kampanye Zohran menjadi pengingat bahwa kepercayaan politik tidak dibangun dari banyaknya posting atau iklan, melainkan dari seberapa banyak orang yang merasa didengar dan diakui.

Ia memobilisasi relawan, mengandalkan donasi kecil, dan menyapa warga dari pintu ke pintu. Meski tetap menggunakan media sosial, inti gerakannya tetap manusia ke manusia bukan algoritma ke manusia.

Kenapa ini penting? Karena saat politik dan media lebih sibuk membentuk citra ketimbang membangun kepercayaan, yang menang bukan lagi program, tapi gambar. Bukan substansi, tapi efek. Bukan dialog, tapi monolog pemasaran.

Baca Juga: TikTok: Algoritmanya Diduga Mendorong Anak di Bawah Umur Menuju Bunuh Diri

Seseorang yang mengetuk pintu, berbicara dengan tetangga, atau mendengar keluh kesah di bus menghasilkan hubungan yang tak bisa direkayasa oleh filter Instagram.

Di Indonesia, kita sering melihat politik sebagai pertunjukan: unggahan mewah, makan di warung untuk konten, tampil di panggung sore hari, lalu isu penting menguap keesokan paginya. Media sosial mendorong visual, algoritma mengejar klik, dan di antara itu semua ada ruang bisu ruang kepercayaan warga yang jarang disentuh.

Literatur partisipasi politik telah lama menegaskan bahwa mobilisasi tatap muka (face-to-face canvassing) jauh lebih efektif menumbuhkan kepercayaan dibanding kampanye digital (Verba, Schlozman & Brady, 1995). Keterlibatan langsung seperti dialog komunitas atau temu warga juga terbukti menciptakan legitimasi yang lebih tahan lama (Putnam, 2000; Mansbridge, 2012).

Politisi yang hanya mengandalkan media sosial mungkin cepat dikenal, tapi belum tentu membangun hubungan jangka panjang.

Kemenangan Zohran membawa dua pesan penting: rakyat bisa memilih penyambung suara, bukan pembesar panggung; dan politik modern harus berhenti meyakini bahwa viralitas otomatis berarti kemenangan.

Tentu, di banyak konteks termasuk Indonesia, politik tanpa uang dan iklan besar tetap sulit. Struktur kampanye dan kepemilikan media memberi keunggulan pada mereka yang punya modal kuat. Maka narasi “menang lewat jalan kaki dan pintu ke pintu” memang heroik—namun tidak boleh dirayakan tanpa melihat realitas bahwa sistem politik masih timpang.

Meski begitu, kisah Zohran memberi inspirasi bagi demokrasi muda seperti Indonesia. Jika politik ingin kembali menjadi percakapan antar-hati, maka media dan jurnalis harus berperan aktif bukan hanya melaporkan likes dan followers, tapi menggali siapa yang belum terdengar, siapa yang diabaikan.

Ruang dialog, pertemuan warga, dan transparansi program harus disiapkan agar politik tak sekadar menjadi tontonan algoritmik.

Kemenangan Zohran mengingatkan bahwa ketika orang merasa didengar, atmosfer kepercayaan berubah. Karena kepercayaan adalah modal sosial: jika hilang, demokrasi bisa rapuh seperti kartu domino.

Bagi Indonesia, refleksinya sederhana namun mendalam figur politik boleh mengetuk layar kita setiap hari, tapi apakah mereka juga mengetuk pintu rumah warga?

Politik yang lahir dari percakapan sejati akan bertahan lebih lama daripada politik yang hanya hidup dari algoritma. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/politik/2571820912/fakta-menarik-di-balik-kemenangan-zohran-legislator-muslim-pertama-dari-new-york

Rekomendasi