Pedagogi Kaum Tertindas: Pendekatan Kritis Paulo Freire dalam Pendidikan

Retoria.id – Paulo Freire, filsuf dan pendidik asal Brasil yang dikenal luas sebagai tokoh revolusioner dalam bidang pendidikan, mengajukan pendekatan kritis terhadap sistem pendidikan yang ada.

Terinspirasi oleh pemikiran hegemonik tokoh-tokoh seperti Gramsci, ia mengkritik dikotomi “kapitalis-pekerja,” “penindas-tertindas,” dan “atasan-bawahan” dalam struktur pendidikan formal.

Dalam karyanya yang terkenal Pendidikan Kaum Tertindas, Freire menyatakan bahwa kelompok tertindas (yakni mereka yang tersingkir secara sosial dan ekonomi), meskipun memiliki kapasitas bawaan untuk belajar dan memahami. 

Mereka tidak mendapatkan ruang dan peluang yang memadai untuk mengembangkan potensi mereka karena tekanan sistemik dari struktur sosial yang menindas.

Penindasan dan eksploitasi, menurut Freire, tidak hanya mempengaruhi kehidupan nyata kaum tertindas, tapi juga menghambat perkembangan potensi mereka.

Seperti banyak pemikir humaniora dan sosial lainnya, Freire sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokoh besar pemikiran kritis seperti Marx, Fanon, Fromm, Gramsci, Che Guevara, Sartre, Marcuse, Althusser, dan Illich.

Pedagogi Kaum Tertindas

Sekitar setengah abad lalu, Freire menulis Pendidikan Kaum Tertindas, salah satu karya paling berpengaruh di bidang ilmu sosial, dengan tujuan membangkitkan kesadaran masyarakat atas hak-hak mereka.

Ia menyoroti bagaimana sistem pendidikan yang dikuasai oleh elit tertentu sering kali berubah menjadi alat penindasan, melalui proses pengajaran yang bersifat top-down dan otoriter.

Baca Juga: 100 Sekolah Rakyat Berdiri, Target Pendidikan Inklusif untuk Atasi Kemiskinan

Freire menggambarkan ketegangan antara penindas dan tertindas dalam sistem ini, lalu mengusulkan sistem pendidikan baru yang berlandaskan pada semangat pembebasan, meskipun menurutnya proses ini sangat menantang dan tidak mudah.

Untuk itu, ia membandingkan dua pendekatan pendidikan: sistem “perbankan” dan sistem “dialogis” atau pendidikan berbasis masalah.

Pendidikan Gaya Perbankan

Freire menyebut model pendidikan konvensional sebagai pendidikan perbankan, yaitu bentuk pendidikan satu arah di mana guru dianggap sebagai pemilik ilmu dan siswa hanyalah penerima pasif.

Dalam model ini, guru hanya menyampaikan informasi, sementara siswa hanya menyerap tanpa diundang untuk berpikir kritis.

Dalam pandangan ini, guru adalah pembicara, siswa adalah pendengar. Akibatnya, proses belajar menjadi kaku dan tidak hidup.

Guru hanya “mengisi” siswa dengan informasi, menjadikan mereka seperti wadah kosong yang harus diisi. Model ini membatasi ruang gerak siswa hanya pada menerima dan menyimpan apa yang disampaikan.

Dalam sistem ini, siswa dipandang sebagai makhluk yang tidak tahu apa-apa, dan guru menjadi pusat otoritas. Kesadaran dianggap sebagai sesuatu yang dapat dimiliki, bukan sebagai proses yang aktif.

Pengajaran dilakukan lewat ceramah, pekerjaan rumah, dan ujian yang hanya menilai hafalan. Semua ini membunuh kebutuhan akan berpikir.

Untuk menciptakan pendidikan yang membebaskan, Freire berpendapat bahwa relasi otoriter antara guru dan siswa harus dihapuskan. Guru dan siswa seharusnya saling belajar dan saling mengajar.

Pendidikan perbankan harus ditinggalkan, dan digantikan dengan pendidikan yang mengajak siswa berhadapan langsung dengan realitas mereka melalui pengajuan masalah.

Pendidikan Berbasis Masalah

Dalam pendekatan ini, pendidikan menjadi alat pembebasan. Hubungan guru dan siswa berubah menjadi dialog dua arah, di mana keduanya sama-sama mengajar dan belajar.

Dialog ini terdiri dari dua unsur: pemikiran dan tindakan, serta dibangun atas dasar cinta, kerendahan hati, dan keyakinan.

Dialog menggantikan relasi hierarkis guru-siswa dengan hubungan yang setara, dan hasilnya adalah tumbuhnya rasa saling percaya serta perkembangan bersama antara guru dan siswa.

Pendidikan yang membebaskan tidak lagi berbasis pada penyampaian informasi, melainkan pada tindakan pengenalan realitas. Dalam proses ini, objek yang dipelajari menjadi perantara antara guru dan siswa dalam proses bersama untuk memahami dunia.

Pelaksanaan pendidikan berbasis masalah terwujud melalui hubungan dialogis yang menghapus relasi otoriter ala pendidikan perbankan. Dalam dialog ini, guru bukan lagi sosok yang hanya mengajar, melainkan juga belajar dari siswa. Sementara siswa pun, saat belajar, juga memberi makna kepada proses belajar itu sendiri.

Freire menekankan pentingnya “kata” sebagai inti dari dialog, yang terdiri dari dua dimensi: pemikiran dan tindakan.

Jika salah satu diabaikan, maka kata tersebut kehilangan maknanya. Kata tanpa tindakan berubah menjadi slogan kosong, sedangkan tindakan tanpa pemikiran menjadikannya aktivisme tanpa arah.

Perbandingan Dua Model Pendidikan

Dalam pendidikan perbankan, proses mengajar guru terbagi dua: pertama, menyiapkan materi; kedua, menyampaikan materi kepada siswa.

Tujuan utamanya bukan untuk memahami atau mengenali, tetapi hanya menghafal. Siswa tidak melakukan aktivitas kognitif yang bermakna karena objek yang dipelajari sepenuhnya milik guru.

Sebaliknya, dalam pendidikan berbasis masalah, aktivitas guru dan siswa tidak terpisah. Guru adalah pihak yang mengenali dan belajar, baik saat menyiapkan pelajaran maupun saat berdialog.

Guru tidak lagi sekadar penyampai informasi, melainkan partner dalam pencarian makna bersama siswa.

Transformasi Sosial

Freire tidak berhenti pada isu pendidikan saja. Ia meluaskan pemikirannya ke dalam ranah hubungan sosial dan politik, serta menyoroti dua bentuk tindakan budaya yang saling bertolak belakang.

Ia menegaskan bahwa “dialog dengan rakyat” adalah fondasi utama bagi revolusi sejati, dan justru inilah yang membedakan revolusi dari sekadar kudeta.

Bagi Freire, para pemimpin revolusioner tidak boleh berpikir “tanpa rakyat” atau “untuk rakyat”, melainkan harus “bersama rakyat”.

Dialog yang sejati tidak mungkin tercipta tanpa berpikir kritis, yang menerima kenyataan sebagai sesuatu yang dinamis dan bisa berubah—bukan sesuatu yang tetap dan beku.

Meski artikel ini tidak membahas secara rinci konsep-konsep tindakan dialogis dan non-dialogis yang dikemukakan Freire, tetapi dalam garis besar dapat disimpulkan bahwa ia membagi sistem pendidikan menjadi dua: pendidikan sebagai alat penindasan dan pendidikan sebagai alat pembebasan. Model ini juga bisa diterapkan dalam melihat cara kerja negara.

Freire menyoroti salah satu masalah utama kaum tertindas: inferioritas internal—hasil dari tekanan yang terus-menerus dari para penindas, yang membuat mereka akhirnya mempercayai bahwa mereka memang tidak layak atau tidak mampu.

Seperti Gramsci, Freire percaya bahwa kondisi ketertindasan sering kali direproduksi oleh kelompok tertindas sendiri.

Artinya, dalam upaya untuk meraih kembali kemanusiaan mereka, para tertindas kadang-kadang justru berubah menjadi penindas baru terhadap penindas lama.

Kita menyaksikan ini dalam sejarah: di satu sisi ada yang tetap dalam posisi tertindas, di sisi lain muncul “penindas baru dari kalangan tertindas”.

Banyak kelompok tertindas dalam sejarah, dalam perjuangannya, bukan membebaskan diri tetapi malah mengadopsi perilaku penindas.

Freire melihat bahwa penyebab dari sikap kolektif ini adalah kerangka berpikir yang terbentuk dalam lingkungan penindasan dan kontradiksi.

Akibat terlalu lama hidup dalam kondisi tertindas, persepsi diri mereka sebagai manusia pun ikut rusak.

Cita-cita mereka adalah menjadi manusia seutuhnya, tetapi ruang pertumbuhan yang mereka kenal menyamakan “kemanusiaan” dengan “menjadi penindas”.

Kaum tertindas telah menginternalisasi citra penindas dan menerima arahannya. Hal ini menimbulkan ketakutan akan kebebasan, karena kebebasan menuntut mereka untuk membuang citra penindas dari dalam diri mereka dan menggantinya dengan tanggung jawab dan kemandirian.

Konflik batin antara dorongan untuk merdeka dan rasa takut terhadap kebebasan menciptakan penderitaan yang dalam.

Mereka tahu bahwa tanpa kebebasan mereka tidak bisa menjadi manusia sejati, tapi pada saat yang sama, mereka takut terhadap konsekuensi dari kebebasan itu.

Inilah dilema tragis kaum tertindas, yang harus menjadi perhatian utama dalam setiap proses pendidikan yang bertujuan membebaskan. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/pendidikan/2571526403/pedagogi-kaum-tertindas-pendekatan-kritis-paulo-freire-dalam-pendidikan

Rekomendasi