Retoria.id – Kelebihan teknologi solid-state battery mobil listrik menjadi salah satu informasi yang banyak dicari oleh para pengendara. Hal ini berbanding lurus dengan semakin tingginya pemakai mobil listrik di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Tren EV (electric vehicle) atau mobil listrik di dunia saat ini sudah masuk ke fase adopsi massal. Satu dari 3-4 unit mobil yang terjual adalah mobil listrik. Isu kesadaran lingkungan dan efisiensi energi disebut sebagai salah satu pemicunya.
Dengan pertumbuhan yang semakin tinggi, teknologi baru pun bermunculan. Salah satunya adalah teknologi solid-state battery yang dianggap sebagai baterai generasi mendatang. Mari kita bahas lebih jauh mengenai teknologi ini dan kelebihan dari kelebihan teknologi solid-state battery mobil listrik dalam mendukung performa berkendara.
Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai teknologi ini, kita perlu mengupas dulu apa itu solid-state battery? Apa pula bedanya dengan baterai lithium-ion yang selama ini digunakan oleh hampir semua produsen EV dunia?
Baterai solid-state adalah teknologi baterai generasi baru yang menggunakan elektrolit padat, seperti keramik atau polimer, untuk menghantarkan arus listrik. Berbeda dengan baterai lithium-ion konvensional yang memakai elektrolit cair, teknologi ini menawarkan tingkat keamanan yang lebih tinggi karena tidak mudah terbakar.
Ada beberapa kelebihan teknologi solid-state battery mobil listrik yang membuatnya layak disebut sebagai lompatan performa baterai EV jarak tempuh jauh. Apa saja?
Dengan semua kelebihan ini, bisa dibilang bahwa solid-state battery akan menjadi lompatan performa yang paling diantisipasi untuk mengatasi range anxiety dan membuat EV benar-benar kompetitif (bahkan unggul) dibanding mobil bensin untuk perjalanan jauh.
Dalam proses pengisian daya cepat atau fast charging, panas menjadi masalah yang umum terjadi. Ini karena resistansi listrik dan reaksi kimia yang terjadi dalam sel baterai. Semakin cepat charging-nya (di atas 150 kW), maka semakin banyak panas yang dihasilkan. Solid-state battery dianggap bisa memberikan solusi untuk hal ini. Mengapa?
Sampai saat ini, baterai solid-state masih belum benar-benar digunakan dalam produksi massal mobil listrik. Hanya ada beberapa pilot project dan semi solid-state pada sejumlah kendaraan high-end di China. Apa sebenarnya tantangan utama dalam produksi massal baterai masa depan ini?
Bukan hanya karena biaya produksinya jauh lebih mahal dibandingkan baterai lithium-ion, proses manufakturnya membutuhkan kondisi yang sangat ketat, serta terdapat risiko keretakan pada material padat.
Selain itu, industri harus membangun ulang infrastruktur dan rantai pasokan yang ada, sehingga komersialisasi massal diperkirakan baru terjadi setelah 2030. Bagaimana menurut Anda?
Siti Zulaikha merupakan reporter Retoria.id sejak 2019 yang kini berdomisili di Yogyakarta. Mulai menekuni dunia kepenulisan terkait otomotif sejak 2009, ia pernah masuk ke beberapa portal berita otomotif terpopuler di Indonesia. Sebagai reporter Retoria.id, Siti Zulaikha berfokus membuat tulisan otomotif, termasuk mengulik isu-isu yang sedang viral dari berbagai sisi dengan gaya tulisan ringan dan informatif.