Retoria.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 31 Januari menyatakan bahwa perlu dicapai sebuah kesepakatan yang “memuaskan” dengan Iran.
Menurutnya, salah satu syarat utama dari kesepakatan tersebut adalah tidak munculnya senjata nuklir di Teheran.
Pernyataan itu disampaikan Trump saat menjawab pertanyaan para jurnalis di atas pesawat Air Force One ketika dalam perjalanan menuju Florida.
Kepala Gedung Putih itu mengakui bahwa komunikasi dengan Iran memang sedang berlangsung dan menyebutnya sebagai “negosiasi yang serius”.
Namun demikian, ia tidak memaparkan secara terbuka langkah konkret apa yang akan diambil Washington atau opsi kebijakan apa yang akan dipilih.
Baca Juga: Trump Beri Peringatan Keras kepada Iran: Waktu untuk Berunding Kian Menipis
Sebelumnya, Trump juga mengisyaratkan bahwa keputusan akan diambil bergantung pada hasil perundingan.
Artinya, untuk saat ini sikapnya masih berada pada posisi “jika ada kesepakatan, bagus, jika tidak nanti kita lihat”.
Pada saat yang sama, Trump menyatakan bahwa demi alasan keamanan, ia tidak akan sepenuhnya memberi tahu para sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah mengenai rencana tindakan yang mungkin diambil.
Menurutnya, menyebarluaskan rencana sama artinya dengan menggagalkan rencana itu sendiri.
Dalam konteks ini, juga disebutkan laporan mengenai pengerahan tambahan kekuatan militer Amerika Serikat ke kawasan tersebut.
Disebutkan bahwa kelompok tempur yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln telah dikerahkan ke dekat perairan Iran.
Hal ini secara alami memicu kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya konfrontasi langsung.
Sementara itu, Teheran dilaporkan telah memperingatkan bahwa jika terjadi serangan, Iran dapat melancarkan serangan balasan terhadap aset Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk pangkalan dan kapal yang terkait dengan Israel.
Trump sendiri menyatakan keyakinannya bahwa Iran lebih memilih kesepakatan mengenai program nuklir dan misilnya daripada terlibat dalam perang. (*)