Kasus Epstein Membuka Fakta Perang Kelas Global Elite Barat

Retoria.id – Pengungkapan berkas-berkas kasus Jeffrey Epstein kembali memunculkan perdebatan luas di tingkat global.

Namun bagi pengamat geopolitik Timur Tengah, Dina Y. Sulaeman, kasus ini tidak bisa dibaca semata sebagai kejahatan individual atau skandal moral elite, melainkan sebagai bagian dari pola kekuasaan global yang lebih besar.

Dalam catatan analisisnya, Dina menilai kasus Epstein memperlihatkan bagaimana kelas penguasa kapitalis internasional menjalankan apa yang dapat disebut sebagai perang kelas global terhadap masyarakat dunia.

“Kasus Epstein menunjukkan bahwa kekerasan seksual, perdagangan manusia, hingga eksploitasi negara-negara yang hancur bukanlah anomali, tetapi bagian dari mekanisme kekuasaan,” tulis Dina.

Menurutnya, perang modern tidak selalu hadir dalam bentuk invasi militer terbuka. Ia justru bekerja melalui jaringan ekonomi, politik, budaya, dan teknologi yang saling terhubung.

Dina menjelaskan bahwa negara-negara yang dilanda perang, krisis ekonomi, atau instabilitas politik sering kali berubah menjadi ruang bebas bagi predator global. Sumber daya murah dan tubuh manusia diperlakukan sebagai komoditas.

“Perang hari ini adalah perang privatisasi, jebakan utang, perubahan rezim, rekayasa budaya, dan eksploitasi seksual. Negara yang hancur adalah lahan subur bagi praktik-praktik itu,” tulisnya.

Dan kasus Epstein dinilai telah menjadi simbol ekstrem dari relasi kuasa tersebut: jejaring elite global yang dapat bergerak lintas negara, hukum, dan institusi tanpa tersentuh pertanggungjawaban.

Ukraina dan Logika Kekacauan

Salah satu bagian yang disorot Dina adalah korespondensi Epstein yang menyebut kekacauan di Ukraina sebagai “peluang”.

Pernyataan ini, menurutnya, tidak bisa dilepaskan dari konteks perang proksi yang melibatkan NATO dan Rusia.

“Satu kalimat Epstein tentang Ukraina sudah cukup menunjukkan bahwa perang dilihat sebagai peluang ekonomi dan politik, bukan tragedi kemanusiaan,” catat Dina.

Baca Juga: Trump Bantah Tuduhan Pernah ke Pulau Epstein, Sebut Tak Pernah ke Area Sekitarnya

Ia menambahkan, laporan mengenai perempuan muda Ukraina yang diperdagangkan di tengah situasi perang semakin memperjelas bagaimana konflik bersenjata menciptakan pasar gelap bagi eksploitasi manusia.

Dina juga menyoroti peran negara-negara Barat yang dinilainya bertindak sebagai instrumen perlindungan kelas penguasa.

Aparat hukum, media arus utama, hingga institusi militer berfungsi menjaga agar jejaring elite tetap aman.

“Itulah sebabnya figur seperti Epstein dapat beroperasi begitu lama. Bukan karena sistem gagal, tetapi karena sistem memang bekerja untuk melindungi mereka,” tulisnya.

Ia menyinggung keterlibatan institusi-institusi resmi Barat, termasuk akses Epstein ke lingkungan keluarga kerajaan Inggris, sebagai contoh bagaimana kekuasaan kelas bekerja lintas batas negara.

Mengapa Musuh Barat Selalu Sama

Dalam analisanya, Dina juga mengaitkan kasus ini dengan pola geopolitik global. Negara-negara yang kerap dimusuhi Barat seperti Iran, Kuba, Venezuela, Rusia, dan Tiongkok dipandang bermasalah justru karena mempertahankan ruang otonomi dari dominasi kekuatan imperialis.

“Sejarah mencatat bagaimana Kuba pernah dijadikan kasino dan rumah bordil di bawah bayang-bayang kekuasaan AS. Setelah Uni Soviet runtuh, ratusan ribu perempuan Rusia diperdagangkan secara global. Ini bukan kebetulan,” tulis Dina.

Dina menegaskan, kelas penguasa global sangat serius dalam menjalankan perang kelas. Karena itu, masyarakat global tidak bisa membaca kasus Epstein sekadar sebagai gosip elite atau drama hukum.

“Satu-satunya cara bertahan adalah dengan memperlakukan kasus ini dengan keseriusan yang sama. Ini soal struktur kekuasaan, bukan sekadar individu,” tulisnya.

Bagi Dina, kasus Epstein adalah cermin paling telanjang dari wajah kekuasaan global hari ini brutal, terorganisir, dan dilindungi oleh sistem. (*)

Sumber: https://www.retoria.id/internasional/2572275631/kasus-epstein-membuka-fakta-perang-kelas-global-elite-barat

Rekomendasi