8 Fakta Negara Terpelit di Dunia

Inilah 8 Fakta Negara Terpelit di Dunia

Pernah nggak sih kalian lagi nongkrong bareng teman, lalu ada satu orang yang kalau mau bayar parkir saja hitung-hitungannya sampai ke digit terakhir? Kita sering menyebutnya “pelit”. Tapi, gimana kalau sifat itu ternyata melekat pada sebuah negara? Nah, memasuki pertengahan Mei 2026 ini, isu mengenai indeks kedermawanan dunia kembali mencuat dan menjadi topik hangat di berbagai forum diskusi global. Di saat banyak negara saling berlomba memberikan bantuan kemanusiaan, ternyata ada beberapa negara yang secara statistik terlihat sangat “menahan diri”.

Eits, tapi tunggu dulu! Sebelum kita menjudge sebuah negara itu “pelit”, kita perlu melihat kronologinya seolah sedang bercerita dengan teman. Ternyata bukan cuma soal sifat orang-orangnya, lho. Ada banyak faktor tersembunyi seperti trauma sejarah, krisis ekonomi yang mencekik, hingga budaya hemat yang sudah mendarah daging selama ratusan tahun. Nah, kalian tahu enggak sih, negara mana saja yang masuk daftar ini? Yuk, kita bedah bareng-bareng 8 fakta negara yang dianggap paling tidak dermawan di dunia versi World Giving Index dan data pendukung lainnya yang bakal bikin kamu geleng-geleng kepala, Rabu, 13 Mei 2026.

Membedah Fakta di Balik Label “Terpelit” di Dunia

Label “negara terpelit” biasanya didasarkan pada World Giving Index (WGI), sebuah laporan tahunan yang mengukur tiga hal utama: membantu orang asing, menyumbangkan uang untuk amal, dan waktu yang dihabiskan untuk menjadi sukarelawan. Menariknya, Indonesia sering kali duduk di peringkat satu sebagai negara paling dermawan, yang membuat kita bertanya-tanya: “Kalau ada yang paling baik, siapa sih yang berada di urutan paling bawah?”

Nah, perlu diingat kalau data ini bersifat statistik. Jadi, jangan kaget kalau negara-negara yang masuk daftar ini sebenarnya punya alasan kuat di balik angka-angka tersebut. Ada yang memang sedang berjuang bertahan hidup di tengah konflik, ada juga yang budayanya sangat individualis. Mari kita telusuri satu per satu biar kalian nggak salah paham!

8. Negara Yaman

Negara Yaman jadi negara terpelit ke-8 di dunia
Negara Yaman jadi negara terpelit ke-8 di dunia

Melihat Yaman berada di jajaran bawah indeks kedermawanan dunia itu sebenarnya sangat memilukan. Kalian tahu nggak sih, kalau Yaman sudah bertahun-tahun terjebak dalam perang saudara yang menghancurkan hampir seluruh infrastruktur negaranya? Di sini, istilah “pelit” rasanya kurang tepat, melainkan lebih ke arah “ketidakmampuan”. Bagaimana seseorang bisa menyumbangkan uang atau membantu orang asing jika untuk makan besok saja mereka tidak tahu harus mencari di mana?

Data menunjukkan bahwa Yaman sering kali menempati posisi rendah bukan karena warganya tidak mau berbagi, tapi karena ekonomi mereka sudah runtuh. Berdasarkan laporan kemanusiaan tahun 2026, lebih dari 80% penduduknya membutuhkan bantuan luar negeri. Jadi, kalau kalian melihat angka donasi dari warga Yaman sangat rendah, itu karena mereka sendiri sedang berjuang menghadapi kelaparan dan krisis kesehatan yang luar biasa ekstrem. Ini adalah fakta pahit di mana kondisi ekonomi benar-benar melumpuhkan budaya berbagi.

7. Negara Yunani

Negara Yunani jadi negara terpelit ke-7 di dunia.
Negara Yunani jadi negara terpelit ke-7 di dunia.

Nah, kalian tahu enggak sih kalau Yunani punya cerita yang berbeda lagi? Negara yang indah ini punya sejarah kedermawanan yang tinggi di masa lalu, tapi semua berubah sejak krisis utang yang menghantam mereka beberapa tahun silam. Trauma kehilangan pekerjaan, pemotongan dana pensiun, dan ketidakpastian ekonomi membuat warganya menjadi sangat protektif terhadap uang yang mereka miliki.

Masyarakat Yunani cenderung lebih memprioritaskan membantu keluarga inti mereka sendiri daripada menyumbang ke lembaga amal resmi atau membantu orang asing yang tidak dikenal. Dalam pandangan mereka, berbagi saat diri sendiri sedang tercekik utang adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Jadi, label “pelit” di sini lebih ke arah mekanisme pertahanan diri masyarakatnya agar tidak jatuh ke lubang kemiskinan yang lebih dalam lagi.

6. Negara Jepang

Jepang jadi negara terpelit ke-6 di dunia.
Jepang jadi negara terpelit ke-6 di dunia.

Eits, jangan kaget ya melihat nama Jepang di daftar ini! Padahal kita tahu Jepang adalah negara maju dengan ekonomi yang sangat kuat. Ternyata, dalam data kedermawanan global, Jepang sering kali berada di peringkat bawah. Kenapa bisa begitu? Nah, ceritanya unik banget. Di Jepang, ada budaya yang disebut “Meiwaku”, yaitu prinsip untuk tidak merepotkan orang lain dan juga tidak ingin direpotkan.

Bagi orang Jepang, menyumbangkan uang ke lembaga amal sering kali dianggap sebagai urusan pribadi yang sangat tertutup, sehingga jarang tercatat dalam survei resmi. Selain itu, masyarakat Jepang cenderung lebih percaya pada sistem sosial pemerintah daripada harus memberikan uang langsung kepada pengemis di jalan. Jadi, bukannya mereka “pelit” dalam arti negatif, tapi sistem nilai mereka memang sangat menghargai kemandirian dan privasi. Mereka beranggapan kalau membantu orang secara sembarangan malah bisa menyinggung harga diri orang yang dibantu.

5. Negara China

China jadi negara terpelit ke-5 di dunia
China jadi negara terpelit ke-5 di dunia

Ternyata bukan cuma Jepang, China juga sering mencatatkan angka yang rendah dalam hal donasi individu secara global. Padahal kalau kita lihat, China adalah raksasa ekonomi baru yang luar biasa kuat. Penyebabnya? Sebagian besar masyarakat China masih memiliki mentalitas “membangun diri sendiri” terlebih dahulu. Transisi dari negara berkembang menjadi negara maju yang sangat cepat membuat banyak warganya masih fokus pada akumulasi kekayaan untuk jaminan masa tua keluarga mereka.

Selain itu, regulasi mengenai lembaga amal di China sempat sangat ketat, yang membuat warganya agak ragu untuk menyalurkan dana melalui pihak ketiga. Meskipun dalam beberapa tahun terakhir tren menyumbang lewat aplikasi digital mulai naik, secara keseluruhan indeks kedermawanan individu di China masih tertinggal jauh dibandingkan negara-negara Barat atau Asia Tenggara seperti Indonesia. Di sini, semangat kompetisi ekonomi terkadang lebih dominan daripada semangat filantropi.

4. Negara Maroko

Mungkin kalian akan bertanya-tanya, “Bukannya Maroko itu negara dengan budaya Islam yang kental?” Benar banget! Secara tradisi, mereka punya zakat dan sedekah. Tapi menariknya, dalam survei WGI, Maroko sering kali mendapatkan skor rendah dalam hal membantu orang asing atau menjadi sukarelawan di lembaga resmi. Nah, kronologinya begini: banyak warga Maroko lebih memilih menyumbang secara langsung ke tetangga atau kerabat yang membutuhkan tanpa lewat perantara.

Sayangnya, bentuk kedermawanan “langsung” ini sering kali tidak terdata oleh lembaga survei dunia yang biasanya menggunakan data dari lembaga amal terdaftar. Ditambah lagi dengan tingkat pengangguran yang cukup tinggi di beberapa wilayah, membuat warganya lebih selektif dalam mengeluarkan uang. Jadi, kelihatannya pelit di atas kertas, tapi sebenarnya mereka punya cara berbagi sendiri yang lebih tradisional dan tertutup.

3. Negara Rusia

Rusia adalah contoh lain di mana faktor sejarah dan politik mempengaruhi kedermawanan warganya. Masyarakat Rusia memiliki tingkat kepercayaan yang cukup rendah terhadap lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau lembaga amal. Mereka sering khawatir kalau uang yang mereka sumbangkan tidak sampai ke tangan yang benar atau malah disalahgunakan untuk kepentingan politik.

Ternyata, orang Rusia sebenarnya sangat dermawan kepada teman dekat dan keluarga mereka, tapi sangat tertutup terhadap orang asing. Budaya “lingkaran dalam” ini sangat kuat. Jika kalian bukan bagian dari lingkaran pertemanan mereka, jangan harap mendapatkan bantuan dengan mudah. Jadi, angka kedermawanan mereka di mata dunia internasional terlihat kecil karena mereka lebih suka membantu secara personal daripada secara sistemik melalui organisasi resmi.

2. Negara Kamboja

Kamboja memiliki sejarah kelam di bawah rezim Khmer Merah yang meninggalkan trauma kolektif luar biasa. Masa-masa di mana sesama warga harus saling curiga demi bertahan hidup ternyata meninggalkan bekas dalam budaya sosial mereka. Hingga saat ini, meskipun ekonomi mulai membaik, tingkat partisipasi warga dalam kegiatan sukarela atau membantu orang asing masih tergolong rendah di kawasan Asia Tenggara.

Masyarakat Kamboja masih dalam tahap membangun kembali kepercayaan sosial antar individu. Ditambah dengan tingkat kemiskinan yang masih ada di beberapa daerah pedesaan, fokus utama warganya adalah mencukupi kebutuhan keluarga sendiri. Hal ini membuat mereka terlihat lebih “menahan diri” dibandingkan tetangga-tetangganya seperti Thailand atau Vietnam yang punya skor kedermawanan lebih tinggi.

1. Negara Palestina

Sama seperti Yaman, Palestina sering kali menduduki peringkat terbawah dalam indeks kedermawanan uang. Nah, kalian pasti paham kan alasannya? Berada di tengah konflik berkepanjangan dan blokade ekonomi membuat warga Palestina tidak punya banyak ruang untuk memberikan bantuan finansial keluar. Mereka sendiri adalah salah satu penerima bantuan terbesar di dunia karena kondisi yang sangat terhimpit.

Namun, fakta uniknya adalah meskipun secara finansial tercatat rendah, budaya membantu orang asing (terutama sesama pengungsi atau korban konflik) di sana sebenarnya sangat kuat. Hanya saja, bantuan tersebut berupa makanan atau tenaga yang sulit diukur oleh angka-angka statistik dunia. Jadi, predikat “pelit” dalam konteks uang di sini murni karena kondisi geografis dan politik yang tidak memungkinkan mereka memiliki kelebihan dana untuk disumbangkan.

Nah, setelah kita membedah satu per satu, kita jadi sadar kan kalau label “pelit” itu sebenarnya relatif banget? Kadang kita hanya melihat angka di atas kertas tanpa tahu perjuangan di baliknya. Negara-negara yang berada di peringkat bawah sering kali adalah mereka yang sedang terluka secara ekonomi, trauma secara sejarah, atau punya cara berbagi yang berbeda dari standar dunia.

Kita patut bersyukur tinggal di lingkungan yang punya budaya gotong royong tinggi. Tapi, kita juga perlu belajar empati bahwa tidak semua orang punya kemewahan untuk bisa berbagi. Terkadang, bertahan hidup saja sudah merupakan perjuangan yang luar biasa bagi mereka. Kesimpulannya, kedermawanan bukan cuma soal berapa banyak uang yang keluar dari dompet, tapi soal seberapa besar hati kita untuk peduli pada sesama, apa pun kondisinya. Semoga fakta-fakta ini bikin kita lebih bijak dalam menilai orang lain ya!

Rekomendasi