8 Negara Termalas di Dunia, Indonesia Nomor…

Inilah 8 Negara Termalas di Dunia

Kita semua pasti punya sisi “malas” dalam diri kita. Namun, memasuki pertengahan Mei 2026 ini, data kesehatan global kembali memicu perbincangan hangat mengenai tingkat aktivitas fisik masyarakat di berbagai negara. Ternyata, label “malas” di sini bukan cuma soal orang yang hobi tidur siang, lho, tapi lebih kepada rendahnya keinginan untuk bergerak aktif secara fisik.

Eits, tapi tunggu dulu! Sebelum kita merasa tersinggung atau menghakimi, kita perlu melihat kronologinya seolah sedang mengobrol santai dengan teman. Ternyata, predikat negara termalas ini sering kali muncul berdasarkan penelitian dari organisasi kesehatan dunia (WHO) dan jurnal medis seperti The Lancet. Mereka mengukur seberapa banyak warga suatu negara melakukan aktivitas fisik moderat setiap minggunya. Nah, kalian tahu enggak sih, kalau ada negara yang warganya lebih suka naik mobil meskipun jaraknya cuma selemparan batu? Dan yang paling bikin penasaran, kira-kira Indonesia ada di nomor berapa ya? Yuk, kita bedah bareng-bareng 8 negara termalas di dunia yang faktanya bakal bikin kalian refleksi diri sekaligus melongo!

Mengapa Bergerak Menjadi Hal yang Begitu Berat?

Kalian tahu enggak sih kalau gaya hidup modern di tahun 2026 ini sebenarnya adalah musuh utama dari aktivitas fisik? Ternyata bukan cuma soal sifat bawaan, tapi ada faktor kenyamanan teknologi, fasilitas transportasi yang terlalu memanjakan, hingga kondisi cuaca yang ekstrem. Di saat kita mungkin merasa sudah “sibuk” bekerja di depan laptop seharian, tubuh kita sebenarnya sedang berteriak minta digerakkan.

Nah, transisi dari gaya hidup aktif menjadi “kaum rebahan” ini biasanya dipicu oleh kemudahan akses digital. Sekarang, mau makan tinggal klik, mau belanja tinggal geser layar, bahkan mau kerja pun nggak perlu keluar kamar. Fenomena ini menciptakan generasi yang secara fisik sangat tidak aktif. Penasaran kan negara mana saja yang masuk daftar paling kurang gerak ini? Mari kita telusuri satu per satu kronologinya agar kita bisa melihat polanya dengan lebih jelas!

8. Brasil

Di urutan kedelapan, kita punya Brasil. Kalian mungkin kaget, “Bukannya orang Brasil itu hobi main bola dan menari samba?” Benar banget, tapi ternyata ada kontradiksi yang unik di sana. Berdasarkan laporan kesehatan tahun 2026, hampir setengah dari penduduk dewasa di Brasil tidak memenuhi standar minimal aktivitas fisik mingguan.

Ternyata bukan cuma soal olahraga, tapi gaya hidup di kota-kota besar Brasil kini makin condong pada aktivitas yang menetap (sedentary). Banyak warga yang menghabiskan waktu luang dengan menonton televisi atau duduk di kafe daripada berolahraga secara rutin. Lucunya, meskipun budaya olahraga sangat kuat, kesenjangan antara atlet profesional dan warga biasa sangatlah lebar. Sisi gelapnya, tingkat obesitas di Brasil juga mulai merayap naik karena kurangnya gerak jalan kaki di kawasan perkotaan yang padat.

7. Inggris

Nah, kalian tahu enggak sih kalau warga Inggris sering kali dikategorikan sebagai salah satu yang paling tidak aktif di Eropa? Di negara ini, pekerjaan kantoran yang menyita waktu 9 pagi sampai 5 sore membuat banyak orang merasa sudah terlalu lelah untuk pergi ke gym atau sekadar jalan kaki setelah pulang kerja. Cuaca yang sering hujan dan mendung juga menjadi alasan klasik bagi warganya untuk tetap berada di dalam ruangan.

Di tahun 2026 ini, pemerintah Inggris bahkan sempat mengeluarkan kampanye besar-besaran untuk mengajak warganya lebih banyak berjalan kaki. Pasalnya, kebiasaan menggunakan transportasi umum atau mobil pribadi untuk jarak pendek sudah mendarah daging. Budaya “pub” di mana orang menghabiskan waktu berjam-jam sambil duduk minum juga berkontribusi pada rendahnya angka pengeluaran kalori harian mereka. Ini adalah contoh di mana kenyamanan negara maju justru membuat warganya “malas” bergerak.

6. Arab Saudi

Bergerak ke Timur Tengah, Arab Saudi menduduki posisi yang cukup tinggi dalam daftar ini. Tapi, kalian perlu paham kronologinya. Bayangkan hidup di tempat yang suhu udaranya bisa mencapai 45 derajat Celsius setiap hari. Tentu saja, berjalan kaki di luar ruangan adalah sebuah tantangan maut! Inilah yang membuat warga di sana sangat bergantung pada mobil ber-AC dan mal-mal yang sejuk.

Ternyata bukan cuma soal cuaca, gaya hidup masyarakat Arab Saudi yang sangat sejahtera membuat banyak pekerjaan fisik dilakukan oleh tenaga kerja asing. Budaya makan bersama yang porsinya besar tanpa dibarengi dengan fasilitas olahraga indoor yang merata membuat angka ketidakaktifan fisik di sini sangat tinggi. Di tahun 2026, meskipun visi pemerintah mulai membangun kota-kota ramah pejalan kaki, kebiasaan untuk tetap berada di dalam ruangan yang nyaman masih menjadi tantangan utama.

5. Amerika Serikat

Amerika Serikat adalah negara yang sangat memuja efisiensi. Lucunya, efisiensi ini sering kali berarti “tidak perlu turun dari mobil.” Dari beli kopi, bayar bank, sampai beli obat, semuanya bisa dilakukan lewat jendela mobil alias drive-thru. Inilah fakta yang membuat banyak orang Amerika memiliki tingkat aktivitas fisik yang sangat rendah.

Kalian tahu enggak sih, desain kota-kota di AS (kecuali mungkin New York) sangat tidak ramah pejalan kaki. Tanpa mobil, kalian akan kesulitan melakukan apa pun. Sisi gelapnya, ketergantungan pada kendaraan pribadi ini menciptakan gaya hidup yang sangat statis. Di tahun 2026, meskipun tren hidup sehat melalui media sosial sedang meledak, data menunjukkan bahwa sebagian besar populasi masih menghabiskan waktu lebih dari 8 jam sehari hanya untuk duduk, baik di depan komputer maupun di sofa depan TV.

4. Kuwait

Nah, di urutan keempat ada Kuwait. Negara ini sering kali berada di posisi puncak dalam berbagai survei kesehatan mengenai ketidakaktifan fisik. Mirip dengan Arab Saudi, faktor cuaca ekstrem memainkan peran besar. Namun, di Kuwait, hal ini diperparah dengan tingkat urbanisasi yang mencapai hampir 100%. Tidak ada area terbuka hijau yang cukup untuk memotivasi orang berolahraga di luar ruangan.

Ternyata, kemakmuran ekonomi yang luar biasa di Kuwait membuat segala sesuatunya menjadi otomatis. Hampir semua rumah tangga memiliki asisten yang membantu segala urusan fisik, sehingga pemilik rumah praktis tidak perlu melakukan aktivitas rumah tangga yang membakar kalori. Akibatnya, Kuwait menghadapi krisis kesehatan berupa tingkat diabetes dan penyakit jantung yang cukup tinggi. Label “malas” di sini benar-benar merupakan konsekuensi dari gaya hidup yang terlalu dimanjakan oleh fasilitas.

3. Malaysia

Eits, jangan kaget dulu, ternyata tetangga kita, Malaysia, masuk ke dalam jajaran atas negara paling tidak aktif secara fisik. Kalian pasti tahu kan betapa enaknya makanan di Malaysia? Nasi lemak, teh tarik, sampai laksa ada di setiap sudut jalan. Nah, budaya “makan-makan” inilah yang terkadang lebih dominan daripada budaya olahraga.

Berdasarkan data kesehatan regional tahun 2026, banyak warga Malaysia yang memiliki pola hidup menetap. Hal ini juga didorong oleh cuaca tropis yang lembap dan panas, yang membuat orang lebih memilih berdiam diri di dalam mal yang dingin daripada jogging di taman. Malaysia menjadi pengingat bahwa negara dengan pertumbuhan ekonomi yang baik dan kuliner yang melimpah harus bekerja ekstra keras untuk menjaga warganya agar tetap mau bergerak aktif.

2. Indonesia

Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu. Kalian tahu enggak sih, kalau menurut penelitian dari Universitas Stanford yang sempat viral dan datanya masih relevan di tahun 2026 ini, Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan penduduk yang paling malas jalan kaki di dunia? Rata-rata orang Indonesia hanya berjalan sekitar 3.513 langkah per hari, jauh di bawah rata-rata global yang mencapai 5.000 langkah.

Ternyata bukan cuma karena kita malas, lho. Ada alasan logis di baliknya: trotoar kita yang sering kali tidak layak (atau malah dipakai jualan), cuaca yang bikin keringat bercucuran, sampai harga transportasi online yang sangat terjangkau. Kita lebih memilih naik motor meskipun cuma mau ke minimarket di depan kompleks. Budaya “mager” atau malas gerak sudah menjadi identitas digital kita. Meskipun kita sibuk bekerja, tubuh kita secara fisik sering kali tidak bergerak. Jadi, Indonesia bukan termalas dalam arti tidak bekerja, tapi paling malas dalam hal menggerakkan kaki untuk berjalan.

1. Malta

Dan peringkat pertama sebagai negara paling tidak aktif fisik jatuh pada Malta. Negara kepulauan kecil di Mediterania ini memiliki skor ketidakaktifan fisik tertinggi dalam berbagai survei Uni Eropa. Kalian mungkin bertanya-tanya, “Kok bisa?” Padahal pemandangannya indah banget buat jalan kaki.

Ternyata, masyarakat Malta memiliki ketergantungan yang sangat tinggi pada mobil pribadi karena ukuran pulaunya yang kecil tapi berbukit-bukit. Budaya bersantai dan menikmati hidup dengan makan enak di tepi pantai lebih populer daripada budaya berolahraga. Di tahun 2026, Malta menjadi simbol bagi negara-negara maju lainnya bahwa keindahan alam tidak menjamin warganya mau bergerak aktif jika tidak didukung dengan perubahan gaya hidup yang mendasar.

Nah, setelah kita membedah kedelapan negara tadi, kita jadi sadar kan kalau predikat “termalas” itu sebenarnya adalah sebuah peringatan kesehatan? Ternyata, kemudahan teknologi dan kenyamanan hidup di tahun 2026 ini bisa menjadi bumerang bagi kesehatan fisik kita. Indonesia memang sering dicap sebagai yang paling malas jalan kaki, tapi bukan berarti kita tidak bisa berubah.

Kita patut bersyukur tinggal di negara yang dinamis, tapi jangan biarkan kenyamanan membuat kita lupa untuk menggerakkan tubuh. Jalan kaki bukan cuma soal pindah tempat, tapi soal menjaga jantung dan umur panjang. Kesimpulannya, jangan sampai label “termalas” ini melekat selamanya pada kita. Yuk, mulai hari ini, coba kurangi sedikit waktu rebahan dan perbanyak langkah kaki, meskipun cuma keliling kompleks. Semoga fakta-fakta ini bikin kita makin semangat buat hidup lebih sehat dan aktif ya!

Rekomendasi