Tarif Trump Menghantam Industri Garmen Tiongkok: Ekspor ke AS Merosot dan Strategi Baru Dimulai

 

Retoria.id – Dalam salah satu pukulan ekonomi terberat di era modern, tarif tinggi yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump telah memaksa industri garmen Tiongkok untuk mengubah strategi dagang mereka secara drastis. Dampaknya sangat cepat dan terasa — ekspor ke Amerika Serikat anjlok hingga dua digit dalam hitungan minggu, memaksa produsen beralih ke pasar alternatif dan mempercepat diversifikasi global.

1. Runtuhnya Ekspor Garmen ke AS

Data terbaru menunjukkan bahwa di bulan April 2025, ekspor Tiongkok ke AS terjun bebas hingga 21 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sebagai respons langsung terhadap tarif tinggi yang diumumkan awal bulan tersebut.

Secara lebih luas, pada Mei 2025 volume ekspor ke AS merosot tajam sebesar 35 persen, menjadi salah satu penurunan terbesar sejak pandemi COVID-19.

Baca Juga: Indonesia dan Bangladesh Perkuat Kemitraan Energi demi Ketahanan dan Keberlanjutan

2. Siapa yang Menanggung Biaya?

Perusahaan-perusahaan Tiongkok seperti Feiyan Blanket Co – produsen selimut besar dari Jiangsu – awalnya menargetkan pengiriman hingga satu juta unit ke AS. Namun karena tarif mendadak, penjuru produksi itu hanya berhasil mengekspor sekitar 60.000 unit saja.

Menariknya, beban biaya ini justru ditanggung oleh konsumen Amerika. Menurut Goldman Sachs, masyarakat AS telah menanggung sekitar 22 persen dari biaya tarif hingga Juni, dan diproyeksikan bisa meningkat hingga 67 persen pada Oktober jika tren sama berlanjut.

3. Diversifikasi yang Dipaksa

Para eksportir Tiongkok kini tengah memusatkan perhatian ke pasar non-AS. Peningkatan permintaan terjadi di ASEAN, Afrika, Eropa Selatan, dan Amerika Latin—contohnya Vietnam, Thailand, dan Brasil menunjukkan lonjakan ekspor dua digit.

Perusahaan garmen seperti Feiyan dan Guangzhou Textiles Import & Export Group bahkan sedang aktif menjajaki pasar Afrika, Eropa, dan Amerika Latin, serta mempertimbangkan produksi di kawasan seperti UAE untuk tetap stabil dalam perdagangan global.

Baca Juga: 21 Negara Desak Israel Batalkan Rencana Permukiman E1 di Tepi Barat

4. Sektor Garmen Terancam Pindah ke Negara Lain

Pengamat industri memperingatkan bahwa tarif ekstrem ini dapat mempercepat relokasi produksi ke negara-negara seperti Vietnam dan Indonesia. Di wilayah Delta Sungai Mutiara (Guangdong), margin keuntungan industri furniture dan tekstil hanyalah 3–5 persen, dengan risiko kehilangan 20–30 persen kapasitas produksi apabila tarif tak berhenti diberlakukan.

5. Dampak Makro dan Global

Tarif ekstrem—mencapai hingga 145 persen pada beberapa produk garmen dan tekstil—menyebabkan gangguan signifikan pada rantai pasok global, memicu inflasi harga barang konsumen di AS dan mendorong perusahaan untuk mencari sumber produksi alternatif.

Permintaan global yang shifting memaksa supply chain mereformasi secara cepat, mencakup eksplorasi pasar di Amerika Latin, Eropa Selatan, Asia Selatan, dan Afrika.

Perang tarif yang dipicu kebijakan dari pemerintahan Trump telah menyulut goncangan besar bagi industri garmen Tiongkok: ekspor ke AS merosot drastis, perusahaan kehilangan relasi pasar lama, dan konsumen Amerika menghadapi kenaikan harga. Namun dari sisi Tiongkok, respons strategis yang adaptif tengah dijalankan—dengan memperluas pasar, mengoptimalkan rantai distribusi global, dan mempertahankan daya saing melalui inovasi.

 

Rekomendasi