Retoria.id – Langit di atas kota Patras, Yunani barat, memerah menyala pada Selasa (13/8/2025) ketika kobaran api mendekat dari perbukitan sekitarnya. Asap tebal menyelimuti horizon, memaksa ribuan warga mengungsi dan meninggalkan rumah mereka. Bagi banyak orang, ini bukan sekadar peristiwa kebakaran, melainkan bencana berulang yang setiap musim panas menghantui wilayah selatan Eropa.
Lebih dari 20 titik kebakaran dilaporkan di seluruh Yunani. Patras, kota terbesar ketiga di negara itu, menjadi salah satu pusat perhatian karena kedekatannya dengan area permukiman padat. Petugas pemadam kebakaran berjibaku dengan peralatan dan pesawat pembom air, namun suhu udara yang mencapai rekor tinggi membuat api sulit dijinakkan.
“Api bergerak lebih cepat dari yang kami perkirakan,” ujar seorang petugas yang wajahnya tertutup jelaga. “Angin kencang membuat setiap percikan bisa berubah menjadi dinding api.”
Kebakaran ini adalah bagian dari krisis yang lebih luas. Gelombang panas ekstrem melanda Eropa selatan, mendorong suhu di atas 40 derajat Celsius di beberapa wilayah. Di Spanyol, Italia, dan Portugal, kebakaran juga membakar hutan dan lahan pertanian, memaksa evakuasi besar-besaran. Fenomena ini kian memperkuat kekhawatiran ilmuwan bahwa perubahan iklim membuat musim panas Eropa semakin mematikan.
Baca Juga: Gaza Dihantam Serangan Udara Tiga Hari Berturut-turut, Situasi Kemanusiaan Memburuk
Bagi warga Patras, bencana ini bukan hanya tentang kehilangan rumah atau lahan, tapi juga rasa aman. Banyak yang harus meninggalkan harta benda mereka dan mengandalkan bantuan darurat. Di pos-pos pengungsian, anak-anak mencoba bermain di tengah suasana tegang, sementara orang dewasa sibuk mencari kabar keluarga dan tetangga yang tertinggal.
Pemerintah Yunani mengumumkan keadaan darurat di beberapa wilayah dan meminta bantuan dari negara-negara tetangga. Namun, di lapangan, pertarungan melawan api masih terus berlangsung, dengan waktu yang menjadi musuh utama.
Di tengah kobaran ini, satu pertanyaan terus menggantung: berapa lama lagi musim panas di Eropa akan menjadi sinonim dengan musim bencana?