Retoria.id – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa tujuan utama dalam negosiasi gencatan senjata di Gaza adalah membebaskan semua sandera yang tersisa secara sekaligus.
Sebelumnya, rencana yang diusulkan mencakup gencatan senjata selama 60 hari dan pembebasan sebagian dari para sandera.
Baca Juga: Gaza Dihantam Serangan Udara Tiga Hari Berturut-turut, Situasi Kemanusiaan Memburuk
Perwakilan Hamas saat ini tengah menggelar pembicaraan awal dengan otoritas Mesir di Kairo. Menurut laporan, para mediator berupaya mencapai kesepakatan dalam beberapa minggu mendatang.
Setelah negosiasi sebelumnya terputus bulan lalu, Israel mengumumkan rencana untuk mengambil alih seluruh wilayah Gaza.
Dalam beberapa hari terakhir, serangan di Gaza meningkat tajam. Menurut Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas, sedikitnya 123 orang tewas dalam waktu 24 jam terakhir.
Distrik Zaytun di Kota Gaza menjadi salah satu area yang paling terdampak, dengan puluhan warga sipil, termasuk anak-anak, menjadi korban.
Netanyahu menegaskan bahwa perang tidak akan berakhir sampai semua sandera dikembalikan.
Berdasarkan data Israel, dari 251 orang yang disandera dalam serangan 7 Oktober, 50 orang masih berada di Gaza, dan sekitar 20 di antaranya diyakini masih hidup.
Mesir dan Qatar sedang menyiapkan proposal baru untuk menghentikan perang dengan syarat seluruh sandera dibebaskan.
Hamas menuntut agar para sandera ditukar dengan tahanan Palestina dan meminta penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza.
Sementara itu, PBB memperingatkan bahwa risiko kelaparan di Gaza meningkat tajam, dan menyatakan bahwa pengusiran paksa warga sipil melanggar hukum internasional. (*)