Retoria.id – Ledakan besar mengguncang distrik elit Leqtaifiya, Doha, pada Selasa sore (9/9). Asap hitam membumbung tinggi di atas skyline ibu kota Qatar setelah jet tempur Israel melancarkan serangan udara yang menargetkan pertemuan tingkat tinggi pejabat Hamas.
Aksi militer Israel ini memicu kepanikan warga, menewaskan sedikitnya enam orang—termasuk seorang pengawal keamanan Qatar—dan meninggalkan jejak kehancuran di salah satu kawasan paling bergengsi di Doha.
Detik-detik Serangan
Saksi mata menggambarkan suasana mencekam. “Kami mendengar dua ledakan keras, jendela apartemen pecah, orang-orang berlari keluar dengan panik,” kata seorang warga yang tinggal di dekat lokasi.
Menurut keterangan pejabat Qatar, serangan terjadi tepat pukul 15:46 waktu setempat. Rudal presisi menghantam gedung tempat sejumlah pemimpin Hamas tengah melakukan diskusi internal mengenai usulan gencatan senjata di Gaza.
Israel menamai operasi ini “Fire Summit”, sebuah langkah berisiko yang membawa medan konflik Gaza ke jantung Teluk.
Baca Juga: Kerusuhan di Nepal: 1.500 Tahanan Kabur, Demonstran Klaim Kendalikan Negara
Target & Korban
Intelijen Israel (Shin Bet) mengklaim operasi tersebut menyasar tokoh penting Hamas, di antaranya:
Namun laporan terbaru menyebutkan, tokoh-tokoh tersebut selamat dari serangan. Sebaliknya, enam orang tewas, termasuk anggota keamanan Qatar dan beberapa pengawal Hamas.
Gelombang Kecaman Internasional
Serangan ini langsung memicu reaksi keras dari berbagai belahan dunia:
Dampak Diplomasi di Ambang Kehancuran
Qatar selama ini menjadi mediator utama antara Hamas dan Israel dalam upaya gencatan senjata Gaza. Dengan serangan ini, posisi Doha terancam hancur sebagai jembatan diplomasi.
“Israel tampaknya ingin mengirim pesan bahwa mereka tidak akan membiarkan Hamas berlindung bahkan di negara Teluk,” ujar analis politik Timur Tengah. “Namun konsekuensinya bisa sangat serius: Qatar kini berhak membalas, dan seluruh kawasan bisa terseret dalam spiral konflik baru.”
Serangan udara Israel ke Doha menandai babak baru yang sangat berbahaya dalam konflik Timur Tengah.
Bukan hanya soal Gaza, tetapi juga menyentuh hubungan strategis antara Israel, negara Teluk, dan Amerika Serikat.
Doha yang selama ini dikenal sebagai pusat diplomasi internasional kini menjadi medan perang baru—dan dunia menunggu, apakah api konflik akan semakin membesar, atau diplomasi masih punya ruang untuk bernafas.