Retoria.id – Pengamat geopolitik Timur Tengah, Dina Sulaeman, menyerukan pentingnya persatuan negara-negara Global Selatan dalam menghadapi tekanan yang ia nilai sebagai pola imperialisme modern oleh negara-negara Barat.
Dalam sebuah pandangan terbarunya, Dina Sulaeman menilai berbagai konflik global mulai dari Iran, Kuba, Venezuela, hingga Palestina tidak bisa dilihat sebagai peristiwa yang berdiri sendiri.
Ia menegaskan bahwa terdapat pola yang sama di baliknya, yakni tekanan sistematis terhadap negara-negara yang tidak sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya.
“Negara yang tidak mengikuti kepentingan Barat akan ditekan, disanksi, diisolasi, bahkan diserang,” ujarnya.
Menurut Dina, bentuk imperialisme saat ini tidak lagi hadir dalam wajah kolonialisme klasik, melainkan melalui instrumen yang lebih kompleks seperti tekanan ekonomi, politik, media, hingga intervensi militer.
Ia menilai, meskipun banyak negara telah merdeka secara formal, namun belum sepenuhnya bebas secara politik dan ekonomi.
Baca Juga: Rating Terjun Bebas: Dukungan Publik terhadap Donald Trump Anjlok ke Titik Terendah
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa fenomena tersebut bukan hanya menjadi persoalan bagi negara-negara seperti Iran atau Palestina, melainkan juga menyangkut negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, termasuk Indonesia.
Dalam pandangannya, banyak negara berkembang masih berada dalam posisi rentan dan cenderung tidak berani mengambil sikap tegas karena tekanan global.
Dina juga menyoroti posisi Iran sebagai negara yang, menurutnya, menunjukkan keberanian dalam menghadapi dominasi Barat. Namun, ia menilai Iran harus menanggung konsekuensi besar karena berjuang secara relatif sendirian.
“Iran sudah membuktikan bahwa perlawanan itu mungkin. Tapi karena sendirian, mereka harus membayar dengan harga yang mahal,” ungkapnya.
Karena itu, ia menyerukan agar negara-negara Global Selatan membangun solidaritas yang lebih kuat. Menurutnya, jika negara-negara tersebut bersatu, dominasi Barat dapat dilemahkan dalam waktu yang relatif singkat.
Ia pun menggambarkan visi tatanan dunia yang lebih adil tanpa dominasi satu kekuatan atas yang lain di mana setiap negara dihormati kedaulatannya dan dapat berkembang secara setara.
Pandangan ini sekaligus menjadi kritik terhadap konfigurasi geopolitik global saat ini, yang dinilai masih menyisakan ketimpangan kekuasaan antara negara-negara “Utara” dan “Selatan”.