ChatGPT mengusulkan mantan hakim agung untuk jabatan perdana menteri Nepal


Retoria.id – Pemberontakan kaum muda di Nepal mengguncang seluruh negeri. Siswa sekolah dan mahasiswa berfoto dengan latar belakang gedung pemerintah yang terbakar, lalu menyebarkannya di media sosial.

Hanya dalam beberapa jam, foto itu mengumpulkan lebih dari 300 ribu tanda suka dan memicu perdebatan global.

Kaum muda menentang pembatasan internet dan media sosial. Akibatnya, sistem politik negara benar-benar kacau.

Baca Juga: Lahir Tuntutan 17 Plus 8 usai Aksi Demo Agustus 2025, Tom Lembong Analogikan Jadi Sebutir Beras untuk sang Raja

Para menteri melepaskan jabatannya dan terpaksa melarikan diri ke luar negeri. Sementara itu, diskusi tingkat negara berpindah ke platform Discord.

Yang paling menarik, persoalan perdana menteri baru juga bisa diselesaikan melalui internet. Sebagian besar kaum muda dan warga mengusulkan ide memilih kandidat dengan bantuan ChatGPT.

Jaringan saraf itu menyebut mantan ketua Mahkamah Agung — Sushila Karki yang berusia 73 tahun — sebagai sosok paling layak untuk jabatan tersebut.

Menurutnya, Karki adalah figur berpengalaman yang mampu meraih kepercayaan berbagai kelompok politik dan sanggup melakukan reformasi yang diperlukan di negara itu.

Peristiwa yang terjadi di Nepal ini tidak hanya menarik perhatian di dalam negeri, tetapi juga di panggung internasional.

Pemberontakan kaum muda dinilai bisa membuka babak baru politik. Pada saat yang sama, gagasan tentang pemerintahan berbasis internet dan pengambilan keputusan dengan bantuan kecerdasan buatan juga memicu perdebatan hangat di komunitas global. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/internasional/2571578173/chatgpt-mengusulkan-mantan-hakim-agung-untuk-jabatan-perdana-menteri-nepal

Rekomendasi