Retoria.id – Misi pemadaman dan penyelamatan masih berlangsung hingga Kamis, hari kedua setelah kebakaran besar melanda kompleks hunian bertingkat tinggi di Hong Kong. Kebakaran tersebut menelan sedikitnya 44 korban jiwa dan melukai puluhan lainnya, menjadikannya insiden kebakaran paling mematikan di wilayah itu dalam beberapa dekade terakhir.
Petugas pemadam kebakaran terus berjuang mengendalikan kobaran api yang menghanguskan beberapa menara hunian di Wang Fuk Court, distrik Tai Po, wilayah utara Hong Kong yang dekat dengan perbatasan Cina daratan.
Kepulan asap tebal masih terlihat pada Kamis pagi, sementara kobaran api yang mulai muncul pada Rabu sore waktu setempat telah menyebar ke tujuh dari delapan gedung di kompleks tersebut. Otoritas layanan pemadam mengatakan api di empat gedung sudah berhasil dikendalikan.
Satu petugas pemadam termasuk di antara 44 korban tewas yang telah dikonfirmasi. Setidaknya 62 orang mengalami luka, sebagian besar akibat luka bakar dan gangguan pernapasan.
Tiga pria para direktur dan konsultan teknik dari sebuah perusahaan konstruksi ditangkap dan tengah diselidiki atas dugaan kelalaian yang menyebabkan kematian. Polisi menduga material yang digunakan pada dinding luar bangunan tidak memenuhi standar tahan api, sehingga mempercepat penyebaran api secara tidak biasa.
“Kami memiliki alasan kuat untuk percaya bahwa pihak yang bertanggung jawab dari perusahaan konstruksi telah sangat lalai,” ujar Eileen Chung, pejabat senior kepolisian.
Polisi juga menemukan lembaran styrofoam material yang sangat mudah terbakar terpasang di dekat jendela setiap lantai, tepat di area lobi lift menara yang tidak terdampak api. Diduga material itu dipasang oleh pihak konstruksi, namun tujuannya belum jelas. Sekretaris Keamanan Hong Kong, Chris Tang, menyatakan investigasi atas penggunaan material tersebut masih berlangsung.
Kebakaran bermula dari perancah eksternal di salah satu menara setinggi 32 lantai, kemudian merambat melalui perancah bambu dan jaring konstruksi menuju bagian dalam bangunan, dan akhirnya menyebar ke gedung-gedung lain, kemungkinan dipicu oleh kondisi angin kencang.
Petugas pemadam menyemprotkan air dari kendaraan pemadam bertangga tinggi, namun mengakui upaya penyelamatan sangat menantang.
“Reruntuhan dan perancah dari bangunan yang terdampak terus berjatuhan,” kata Derek Armstrong Chan, Wakil Direktur Operasi Layanan Pemadam.
“Suhu di dalam gedung-gedung tersebut sangat tinggi. Sulit bagi kami untuk masuk ke dalam dan naik ke lantai atas untuk melakukan penyelamatan.”
Kompleks hunian ini terdiri dari delapan gedung dengan hampir 2.000 unit apartemen yang dihuni sekitar 4.800 penduduk, termasuk banyak lansia. Kompleks ini dibangun pada 1980-an dan sedang menjalani renovasi besar-besaran ketika kebakaran terjadi.
Hampir 1.000 orang telah dievakuasi ke tempat penampungan sementara sejak Rabu malam. Dalam pernyataannya, Pemimpin Hong Kong John Lee mengatakan sekitar 279 orang masih dinyatakan hilang. Upaya penyelamatan terus dilakukan hingga Kamis, namun data terbaru belum tersedia.
Ini merupakan kebakaran paling mematikan di Hong Kong dalam beberapa dekade. Sebelumnya pada November 1996, kebakaran di sebuah gedung komersial di Kowloon menewaskan 41 orang dan membutuhkan hampir 20 jam untuk dipadamkan. (*)