Mengapa Trump Membatalkan Serangan ke Iran? ‘Rencana Rahasia’ Terungkap…

Retoria.id – Di tengah unjuk rasa berdarah di Iran dan ancaman keras dari Washington, dunia menunggu dimulainya perang baru. Namun, Presiden AS Donald Trump pada tahap terakhir membatalkan rencana menyerang militer ke Teheran.

Surat kabar The Washington Post dan Axios, mengacu pada sumber-sumber di Gedung Putih, mengungkap alasan pragmatis yang memaksa Trump mengambil keputusan tersebut.

Bagaimana situasinya berubah: dari demonstrasi tanpa semangat hingga bentrokan berdarah

Awalnya, intelijen AS tidak menganggap aksi protes di Iran sebagai ancaman serius bagi rezim. Namun, pada 8 Januari, situasi memanas:

Kekejaman: Pemerintah Iran memutus internet dan mulai menembaki para demonstran secara besar-besaran.

Janji: Trump pada 13 Januari menyerukan kepada demonstran untuk menggulingkan kekuasaan dengan mengatakan, “bantuan sudah dalam perjalanan.”

Persiapan: Rencana menyerang target strategis dengan kapal perang dan kapal selam disiapkan di meja Trump di Gedung Putih.

Baca Juga: Iran mengirimkan ‘sinyal’ serius kepada AS: Teheran akan menghancurkan pangkalan-pangkalan Amerika…

Tiga faktor utama yang menghentikan serangan

Apa yang menghalangi Trump memberi perintah? Para analis menunjukkan beberapa alasan penting:

Negosiasi rahasia: Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menghubungi perwakilan khusus AS, Steve Witkoff, dan berjanji untuk membatalkan rencana eksekusi massal demonstran. Ini menjadi alasan yang dibutuhkan Trump untuk “menyelamatkan muka.”

Kekhawatiran sekutu: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan Israel belum siap untuk perang baru, sementara Arab Saudi dan Qatar khawatir ketidakstabilan di kawasan, sehingga menahan Washington.

Keterbatasan kekuatan militer: Pentagon menekankan bahwa kekuatan utama laut AS saat ini dialihkan ke Karibia untuk menekan Venezuela. Sumber daya di Timur Tengah tidak cukup untuk menangkis serangan balasan Iran yang menghancurkan.

Keputusasaan demonstran dan jumlah korban

Keputusan Trump mundur menjadi pukulan tak terduga bagi oposisi di Iran. Banyak demonstran merasa “dikhianati.”

Amarah: “Trump telah menjual nyawa kaum muda Iran,” kata aktivis yang melarikan diri ke Turki dan Kanada.

Korban: Menurut data terbaru dari kelompok hak asasi, jumlah orang tewas dalam bentrokan bisa mencapai 5 ribu orang.

Wibawa atau perdamaian?

Argumen utama Trump adalah bahwa serangan tidak menjamin runtuhnya rezim. Konsekuensi negatif operasi militer diperkirakan lebih besar daripada manfaat yang mungkin diperoleh.

Namun, menurut para ahli, jika Trump tidak menyalurkan bantuan yang dijanjikan, ia bisa tercatat dalam sejarah sebagai pemimpin yang mendorong orang untuk berdemonstrasi, lalu meninggalkan mereka.

Saat ini, “pertarungan kata-kata” antara Ayatollah Khamenei dan Trump masih berlangsung. Opsi militer tetap ada di atas meja, namun Washington memilih posisi menunggu dan mengamati.

Menurutmu, apakah keputusan Trump untuk membatalkan serangan militer adalah keputusan yang tepat, atau justru memberi peluang bagi rezim Iran untuk semakin kuat? (*)

Sumber: https://www.retoria.id/internasional/2572183222/mengapa-trump-membatalkan-serangan-ke-iran-rencana-rahasia-terungkap

Rekomendasi