Retoria.id – Empat bulan sudah sejumlah warga di Aceh Tamiang masih bertahan untuk tinggal di dalam tenda.
Bencana banjir bandang dan tang longsor yang terjadi pada akhir November 2025 lalu meluluhlantakkan tempat tinggal mereka.
Melewati 4 bulan pascabencana, kini warga Aceh Tamiang berharap agar bantuan hunian segera bisa diterima dan dinikmati.
Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu penyintas banjir di Aceh Tamiang.
Dalam video yang diunggah oleh akun Instagram @asarhumanity, seorang penyintas menceritakan kesehariannya di dalam tenda.
Meski tinggal di dalam tenda, ia mengaku tidak kekurangan makanan, tapi berharap agar bantuan rumah dapat diterima.
“Kalau soal makan, Insya Allah banyak, cukup banyak. Lihat ini dikasih-kasih orang, kue-kue itu kami nggak ada bikin sendiri,” dikutip dalam video yang diunggah pada Selasa, 24 Maret 2026.
“Nggak bisa bilang apa-apa lagi, udah 3 bulan lebih kami tinggal di sini,” imbuhnya sambil terisak.
Ibu tersebut menyatakan bahwa dirinya sudah sangat ingin untuk segera pindah ke tempat baru yang lebih layak.
“Yang kami minta, kami cepat pindah. Cepat dapat rumah, itu aja,” lanjutnya
Tinggal di tenda membuat beberapa hal menjadi penuh keterbatasan, termasuk persoalan ketika ada tamu yang berkunjung.
“Ada rasa sedih, ada rasa senang. Sedihnya kayak gini, rumahnya tenda-tenda begini kalau ada teman-teman yang mau dateng, nggak bisa duduk,” tuturnya.
“Kalau misal kita mau pulang, pulang ke mana?” Tambahnya.
Bertepatan dengan momen Idulfitri, Presiden Prabowo sempat mengunjungi Aceh Tamiang pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Presiden memastikan bahwa penanganan pada dampak bencana yang terjadi sudah mencapai hampir 100 persen.
Menurutnya saat itu, tinggal beberapa desa saja yang masih membutuhkan perhatian serius karena terhalang pada medan yang sulit.
“Alhamdulillah, di tenda sudah tidak ada lagi, sudah 100 persen keluar. Semua sudah masuk ke hunian-hunian sementara maupun tetap,” ujar Prabowo kepada awak media usai melaksanakan salat Id di Kebun Tanjung Seumantoh, Aceh pada 21 Maret 2026.
“Listrik juga hampir semuanya sudah jalan, hanya tersisa lima desa di seluruh Aceh yang memang medannya sulit. Bantuan semua sudah turun ke rakyat,” terangnya.
Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga telah mengejar penyelesaian pembangunan sebanyak 2.418 unit rumah hunian sementara (huntara) dari total 4.189 unit.
***