“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali” – Tan Malaka
Retoria.id – Namanya Mahrus Ali, pemuda yang lahir pada 17 Maret 2003, saat ini berusia 22 tahun. Usia dimana seharusnya anak muda masih sibuk mempersolek citra diri, memiliki gengsi yang tinggi, larut dalam dunia idealnya dan mimpi-mimpi besar yang menjulang ke langit hingga tidak tahu bagaimana cara menurunkannya ke bumi.
Namun berbeda dengan Mahrus Ali, status mahasiswanya sepertinya sama sekali tidak menjadi penghalang untuk menceburkan diri pada usaha peternakan sapi. Dia sama sekali tidak takut dan gengsi almamaternya terkena cipratan kotoran sapi. Saat ini tidak banyak anak muda yang bersedia terjun langsung di dunia peternakan dan memulainya dari bawah. Kebanyakan dari mereka justru lebih memilih untuk menjadi konten kreator.
Ketika ditanya apakah usaha yang dipilihnya tidak mengganggu aktivitas kuliahnya? Dia mengakui bahwa memang tidak mudah baginya mendialogkan kandang dan kampus. Tapi, keduanya bukanlah sebuah pilihan yang harus dibuang salah-satunya, baginya keduanya masih bisa diupayakan secara bersamaan.
“Dengan konsistensi, disiplin menejemen waktu yang tinggi keduanya bisa berjalan simultan. Justru dari usaha ini saya menyadari bahwa masa depan usaha ini menuntut manajemen yang cerdas. Oleh karena itu, saya memilih jalur pendidikan tinggi yang strategis yaitu jurusan Ekonomi, dengan fokus pada Perbankan Syariah,” Terangnya.
Saat ini Mahrus Ali berstatus sebagai mahasiswa aktif Universitas Almaata Yogyakarta. Sebagai pemuda yang lahir dan besar dengan kultur lokalitas Madura dan ditempa dengan semangat kerja keras dan religiusitas Pesantren, hal ini telah menjadikannya sebagai sosok yang tak kenal lelah dan berani memilih kembali ke tanah, kembali ke kandang, dan ke akar.
Pemuda yang akrab disapa Mahrus ini menjelaskan alasan memilih usaha peternakan, dia bercerita tentang masa kecilnya, dan keluarga yang sudah akrab dengan sapi dan peternakan. “Saya tumbuh dan besar di lingkungan yang kental dengan budaya dan usaha keluarga yang tidak lain ‘Peternakan sapi’,” Jelasnya.
Seperti yang sudah dikenal banyak orang, Masyarakat Madura memang memiliki relasi yang unik dan begitu akrab dengan sapi. Dikutip dari National Geographic Kandang sapi bagi masyarakat madura menjadi bagian integral tidak terpisahkan dalam setiap pekarangan rumah. Sebab, masyarakat memiliki kecintaan luar biasa terhadap sapi.
Bagi masyarakat madura hewan ini adalah ikon, bukan totem sebagaimana iman masyarakat Hindu-India. Sapi atau Zebu Jantan di Madura bisa dikatakan sebagai simbol harga diri dan stabilitas ekonomi.
Saat Presiden ke- 6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono berkunjung ke Madura dia menyampaikan, Provinsi Jawa Timur diproyeksikan sebagai lumbung peternakan sapi dan Pulau Madura secara khusus ditunjuk sebagai pulau sapi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Baca Juga: Kisah Inspiratif: Anak Buruh Bawang Dapat Pendidikan Gratis di SRMA 26
Kultur dan kondisi seperti di atas inilah yang mendorongnya untuk membangun Usaha Peternakan. Dalam pengakuan Mahrus, mulanya ia hanya membantu usaha ayahnya, lambat laun keterlibatannya memberinya kepercayaan diri untuk merintis usaha peternakan sendiri dan memberinya nama Sarjana Farm, sebuah peternakan sapi yang memiliki dua kandang dengan kapasitas seratus sapi. Kandang yang pertama berlokasi di Lonbilleh, Tramok, Kokop Bangkalan, Jawa Timur.
Sementara, kandang yang kedua berlokasi di Pajanhan, Guwosari, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejak 2014 Peternakan miliknya sudah berhasil menjual lebih dari delapan ratus lebih sapi ke berbagai wilayah di Indonesia seperti Kalimantan, Bali, Banjarmasin dan lainnya. Sapi yang tersedia bermacam-macam mulai dari sapi Madura, Bali, dari limousin hingga simental dan jenis lainnya.
Menjadi mahasiswa dan bertenak sapi telah menghadirkan warna dan perpaduan yang unik dalam hidup Mahrus. Menurutnya perpaduan inilah yang menjadikan titik balik dalam hidupnya. Tahun ini untuk pertamakalinya dia berhasil membukukan 25 ekor sapi di kandang keduanya yang baru saja dia bangun yang berlokasi di Guwosari Bantul.
“Keberhasilan ini bukan hanya tentang penjualan, melainkan saya bisa membuktikan bahwa saya bisa memadukan tradisi lama dengan strategi modern yang saya peroleh,” Terangnya.
Pengalaman baru ini telah memberinya banyak pelajaran dan melihat peluang besar usahanya, sehingga di usianya yang masih sangat muda 22 tahun dia meresmikan usahanya Sarjana Farm menjadi PT. Peternakan Sarjana Mandiri. Pencapaian ini menjadikan dirinya sebagai pemilik PT. Termuda di Kabupaten Bangkalan.
Dalam penuturannya, filosofi nama PT. yang dipilihnya tidak jauh dari status dirinya sebagai mahasiswa.
Baca Juga: Kisah Inspiratif: Susan Wojcicki, Perempuan Visioner di Balik Kesuksesan Google dan YouTube
“Nama perusahaan ini adalah cerminan dari perjalanan saya seorang Sarjana yang sedang berjuang dengan studi Ekonomi dan Perbankan Syariah dan bertekad membawa usaha Peternakan keluarga menuju kemandirian,” Jelasnya.
Bermodal keberanian dan disiplin yang tak kenal lelah kini Peternakan Sarjana berhasil meraih pendapatan mencapai ratusan juta, Peternakan Sapi Sarjana Mandiri tidak hanya merupakan bisnis dengan probabilitas keberhasilan yang tinggi, tetapi juga merupakan bukti nyata dari dedikasi dan ketekunan Mahrus Ali dalam mengembangkan usahanya.
Belajar dari pengalaman tahun ini banyak pembeli yang tidak kebagian, dan semakin banyaknya orang yang kini mulai mengenal nama peternakannya, Melihat potensi itu dan penurunan wabah PMK, Mahrus menargetkan peningkatan kapasitas kandang dua kali lipat pada bulan Desember 2025 dan omset miliaran rupiah di tahun mendatang.
Kisah Mahrus Ali adalah bukti nyata bahwa kerja keras dan ketulusan dapat membawa perubahan besar, tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi pelajar dan pemuda sekitarnya.
Di usia yang belum mencapai 25 tahun, Mahrus telah menjadi teladan inspiratif bagi banyak orang. Bahwa kerja keras, adalah wajah sejati dari pendidikan. (*)