Retoria.id – Hampir dua bulan banjir bandang disertai longsor menerjang Aceh dan Sumatera Utara serta Sumatera Barat pada akhir November 2025 lalu.
Namun, sejumlah wilayah masih mengalami kesulitan akses dan menjadi desa terisolir.
Salah satunya di Dusun Sarah Raja, Desa Lubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara..
Kondisi salah satu dusun pedalaman di Aceh Utara itu kini kembali dibagikan oleh salah satu relawan sekaligus influencer, Manda, lewat akun Instagramnya @mnztl__.
Manda, dalam unggahannya mengungkapkan bahwa Dusun Sarah Raja masih terisolir dan butuh bantuan sanitasi yang memadai.
“Yang terhormat kepada seluruh relawan banjir Aceh, tolong jangan datang ke desa yang viral aja. Tolong bantu desa yang terisolir ini,” tulis Manda dalam keterangan videonya, dikutip pada Jumat, 23 Januari 2026.
“Hampir 2 bulan mereka belum punya listrik, air bersih, mandi dll pakai air sungai,” lanjutnya.
Video tersebut juga membagikan momen para relawan yang harus berjuang melewati sungai untuk bisa sampai ke Sarah Raja.
Pasalnya, menggunakan kapal nelayan adalah satu-satunya cara untuk bisa sampai ke lokasi.
“Untuk menuju ke desa terisolir ini, kami harus mengarungi sungai yang berlawanan arus. Kurang lebih 1 jam perjalanan,” tulisnya.
“Jalan satu-satunya untuk menuju ke sana hanya pakai boat karena tidak ada akses jalur darat, jembatan putus,” sambungnya.
Mengutip keterangan lain, jembatan baru dibuat mulai 21 Januari 2026 dan belum tahu kapan akan selesai.
Sarah Raja merupakan salah satu wilayah di Aceh Utara yang terdampak parah saat banjir bandang datang.
Tampak dalam video tersebut juga terlihat hamparan endapan lumpur bekas banjir beserta kayu–kayu yang berserakan dan saling bertumpuk.
“Ada 41 Kepala Keluarga (KK), ada 3 bayi yang baru lahir. Banyak yang mau bantu, tapi terhalang oleh akses jalan,” tulisnya lagi.
“Ketika kami datang, mereka sangat bahagia, mereka bahagia karena kita masih peduli sama mereka. Meskipun jumlah KK di sini sedikit, tapi mereka manusia, mereka juga butuh pertolongan. Mereka juga butuh makan,” imbuhnya.
Lebih lanjut, dari kapal nelayan bersandar hingga ke lokasi warga, masih harus berjalan kaki sejauh 1 kilometer untuk bisa bisa sampai ke desa.
Sementara itu, Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem kembali menetapkan perpanjangan keempat status tanggap darurat bencana hidrometeorologi Aceh selama 7 hari.
Penetapan masa tanggap darurat tersebut terhitung sejak tanggal 23 hingga 29 Januari 2026.
Perpanjangan tersebut atas pertimbangan kondisi penanggulangan bencana dan sebaran korban terdampak karena belum tuntasnya penanganan darurat bencana dan laporan dari Bupati Aceh Tamiang, Bupati Aceh Utara dan Bupati Pidie Jaya.
Adapun Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian saat mengunjungi lokasi pengungsian di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara juga menyatakan kemungkinan Pemda memperpanjang masa tanggap darurat. (*)