Retoria.id – Banjir bandang yang menerjang Aceh pada akhir November 2025 lalu memberi perubahan di lingkungan terdampak.
Seperti pemukiman dan area persawahan milik warga yang kini memiliki ketinggian tanah berbeda dari sebelum banjir datang.
Banjir yang datang menerjang membawa lumpur yang sekarang mengendap, sehingga membuat permukaan tanah pun ikut naik.
Viral di media sosial, sejumlah petani di Gampong Pinto Makmur, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara menanam padi di sawah yang ini terendam lumpur pascabanjir.
“Lumpur sepinggang pascabanjir di Aceh Utara. Tanam padi atau mandi lumpur?” dikutip dari unggahan TikTok @paseimages pada Minggu, 25 Januari 2026.
Video yang sudah diputar lebih dari 320 ribu kali penayangan itu menunjukkan beberapa petani yang susah payah menanam padi di lumpur yang tinggi.
Terlihat tanaman padi ditanam tepat setinggi pinggang para petani, menunjukkan tingginya endapan lumpur bekas banjir dua bulan lalu.
Mengintip dari kolom komentar, warganet mengungkapkan kekaguman bahkan apresiasi kepada para petani yang mulai beraktivitas normal.
Beberapa komentar dari warganet seperti, “Ya Allah, begitu berat perjuangan petani, semoga diberi hasil yang melimpah,” tulis akun @nir*******_
“Kalau menunggu cetak ulang, entah akan selama apa,” tulis akun @deom******o
“Ibu-ibu yang luar biasa, semoga Allah beri hasil melimpah,” tulis akun @its**********6
“Semoga lumpurnya membawa kesuburan dan hasil berlimpah,” tulis akun @ikh*******i
Belum lama ini, Wakil Bupati Aceh Utara, Tarmizi, memberi kritikan pada penanganan banjir di Kabupaten Aceh Utara.
Menurutnya, pembersihan lumpur dan tumpukan kayu di beberapa daerah di kabupatennya itu masih menjadi PR besar.
Selain persoalan lumpur dan kayu, Tarmizi juga menyoroti pembangunan hunian sementara (huntara).
Pembangunan huntara perlu dikebut untuk bisa rampung dan ditempati oleh warga terdampak sebelum 18 Februari 2026, di mana umat Islam akan masuk bulan Ramadan.
Sementara itu, korban jiwa di Aceh Utara akibat banjir bandang dan tanah longsor November 2025 lalu menyebabkan 345 orang meninggal dunia, 6 orang masih hilang, dan lebih dari 33 ribu orang mengungsi yang tersebar di 12 kecamatan. (*)