• About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Retoria.id
  • Home
    • Home – Layout 1
    • Home – Layout 2
    • Home – Layout 3
    • Home – Layout 4
    • Home – Layout 5
    • Home – Layout 6
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    Fenomena Blood Falls Taylor Glacier, Air Terjun 'Darah' di Antartika.

    Fenomena Blood Falls Taylor Glacier, Air Terjun ‘Darah’ Antartika

    Misteri Batu Berjalan di Death Valley Terpecahkan, Ini Penjelasannya!

    Misteri Batu Berjalan di Death Valley Terpecahkan, Ini Penjelasannya!

    Daftar megaproyek termegah di dunia.

    9 Megaproyek Termegah di Dunia, Ratusan Gunung Dibabat Habis

    7 Orang Indonesia Ini Jadi Buronan Internasional

    7 Orang Indonesia Ini Jadi Buronan Internasional

    Berikut 3 Kota yang Dinobatkan Paling Kriminal di Indonesia

    3 Kota Ini Dinobatkan Paling Kriminal di Indonesia

    Hillary Clinton in white pantsuit for Trump inauguration

    Trending Tags

    • Trump Inauguration
    • United Stated
    • White House
    • Market Stories
    • Election Results
  • Tech
    • All
    • Apps
    • Gadget
    • Mobile
    • Startup

    The Legend of Zelda: Breath of the Wild gameplay on the Nintendo Switch

    Shadow Tactics: Blades of the Shogun Review

    macOS Sierra review: Mac users get a modest update this year

    Hands on: Samsung Galaxy A5 2017 review

    The Last Guardian Playstation 4 Game review

    These Are the 5 Big Tech Stories to Watch in 2017

    Trending Tags

    • Nintendo Switch
    • CES 2017
    • Playstation 4 Pro
    • Mark Zuckerberg
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    8091

    The Legend of Zelda: Breath of the Wild gameplay on the Nintendo Switch

    8093

    macOS Sierra review: Mac users get a modest update this year

    8094

    Hands on: Samsung Galaxy A5 2017 review

    8100

    Heroes of the Storm Global Championship 2017 starts tomorrow, here’s what you need to know

    8106

    Harnessing the power of VR with Power Rangers and Snapdragon 835

    8107

    So you want to be a startup investor? Here are things you should know

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel

    Shooting More than 40 Years of New York’s Halloween Parade

    Heroes of the Storm Global Championship 2017 starts tomorrow, here’s what you need to know

    Why Millennials Need to Save Twice as Much as Boomers Did

    Doctors take inspiration from online dating to build organ transplant AI

    How couples can solve lighting disagreements for good

    Ducati launch: Lorenzo and Dovizioso’s Desmosedici

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Game of Thrones
    • MotoGP 2017
    • eSports
    • Fashion Week
  • Review
    8091

    The Legend of Zelda: Breath of the Wild gameplay on the Nintendo Switch

    8092

    Shadow Tactics: Blades of the Shogun Review

    8093

    macOS Sierra review: Mac users get a modest update this year

    8094

    Hands on: Samsung Galaxy A5 2017 review

    8095

    The Last Guardian Playstation 4 Game review

    8128

    Intel Core i7-7700K ‘Kaby Lake’ review

No Result
View All Result
  • Home
    • Home – Layout 1
    • Home – Layout 2
    • Home – Layout 3
    • Home – Layout 4
    • Home – Layout 5
    • Home – Layout 6
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    Fenomena Blood Falls Taylor Glacier, Air Terjun 'Darah' di Antartika.

    Fenomena Blood Falls Taylor Glacier, Air Terjun ‘Darah’ Antartika

    Misteri Batu Berjalan di Death Valley Terpecahkan, Ini Penjelasannya!

    Misteri Batu Berjalan di Death Valley Terpecahkan, Ini Penjelasannya!

    Daftar megaproyek termegah di dunia.

    9 Megaproyek Termegah di Dunia, Ratusan Gunung Dibabat Habis

    7 Orang Indonesia Ini Jadi Buronan Internasional

    7 Orang Indonesia Ini Jadi Buronan Internasional

    Berikut 3 Kota yang Dinobatkan Paling Kriminal di Indonesia

    3 Kota Ini Dinobatkan Paling Kriminal di Indonesia

    Hillary Clinton in white pantsuit for Trump inauguration

    Trending Tags

    • Trump Inauguration
    • United Stated
    • White House
    • Market Stories
    • Election Results
  • Tech
    • All
    • Apps
    • Gadget
    • Mobile
    • Startup

    The Legend of Zelda: Breath of the Wild gameplay on the Nintendo Switch

    Shadow Tactics: Blades of the Shogun Review

    macOS Sierra review: Mac users get a modest update this year

    Hands on: Samsung Galaxy A5 2017 review

    The Last Guardian Playstation 4 Game review

    These Are the 5 Big Tech Stories to Watch in 2017

    Trending Tags

    • Nintendo Switch
    • CES 2017
    • Playstation 4 Pro
    • Mark Zuckerberg
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    8091

    The Legend of Zelda: Breath of the Wild gameplay on the Nintendo Switch

    8093

    macOS Sierra review: Mac users get a modest update this year

    8094

    Hands on: Samsung Galaxy A5 2017 review

    8100

    Heroes of the Storm Global Championship 2017 starts tomorrow, here’s what you need to know

    8106

    Harnessing the power of VR with Power Rangers and Snapdragon 835

    8107

    So you want to be a startup investor? Here are things you should know

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel

    Shooting More than 40 Years of New York’s Halloween Parade

    Heroes of the Storm Global Championship 2017 starts tomorrow, here’s what you need to know

    Why Millennials Need to Save Twice as Much as Boomers Did

    Doctors take inspiration from online dating to build organ transplant AI

    How couples can solve lighting disagreements for good

    Ducati launch: Lorenzo and Dovizioso’s Desmosedici

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Game of Thrones
    • MotoGP 2017
    • eSports
    • Fashion Week
  • Review
    8091

    The Legend of Zelda: Breath of the Wild gameplay on the Nintendo Switch

    8092

    Shadow Tactics: Blades of the Shogun Review

    8093

    macOS Sierra review: Mac users get a modest update this year

    8094

    Hands on: Samsung Galaxy A5 2017 review

    8095

    The Last Guardian Playstation 4 Game review

    8128

    Intel Core i7-7700K ‘Kaby Lake’ review

No Result
View All Result
Retoria.id
No Result
View All Result

Cashless Only dan Nenek yang Tertinggal: Apakah Rupiah Sudah Tak Laku?

Jurnalis Retoria by Jurnalis Retoria
21 Desember 2025
in Suara Retor
0

Retoria.id – Kadang saya merasa hidup di Indonesia ini sungguh absurd. Bayangkan, kita punya uang tunai dalam jumlah yang cukup untuk membeli secangkir kopi atau sepotong roti. Tapi kasir menolak rupiah kita sebagai alat pembayaran yang sah di negeri ini.

“Maaf, kami hanya menerima pembayaran non tunai. Silakan pakai kartu debit, kartu kredit, atau qris. Silakan scan barcode ini,” kata kasir dengan wajah nyaris tanpa ekspresi. .

Maka saya bisa membayangkan perasaan nenek dalam video yang viral itu. Ia memakai baju sederhana, berdiri di dekat etalase roti sebuah gerai kecil. Tangannya menggenggam uang, masih kaku, masih sah, masih bergambar pahlawan. Ia menunjuk roti, yang mungkin nanti akan ia makan dengan teh panas sore hari.

Kasir tersenyum tipis, lalu berkata dengan suara datar yang sudah sering diucapkan, “Maaf, Bu. Di sini hanya terima QRIS atau dompet digital.”

Nenek itu terdiam. Wajahnya bukan marah, bukan juga memohon. Lebih ke bingung yang sudah sering dialami tapi belum pernah benar-benar diterima.

Ia menoleh ke uang di tangannya, seperti memastikan apakah benda itu telah berubah status menjadi tidak diakui negara. Lalu ia melangkah pergi. Lalu seorang pemuda membuat video kejadian yang kemudian viral itu.

Baca Juga: Ibu di Aceh Tamiang Bertahan 3 Hari Tanpa Air Sebelum Bantuan Tiba: Sedihnya Luar Biasa

Kalau ini sinetron, mungkin akan ada musik sendu. Tapi ini Indonesia. Adegan seperti ini tidak cukup dramatis untuk jadi berita utama. Padahal di situlah konflik besar sering bersembunyi: di transaksi kecil, di uang receh, di rasa malu orang tua yang tak paham aplikasi tapi juga tak ingin merepotkan.

Kita semua barangkali sudah cukup paham alasan para pemilik usaha memberlakukan aturan demikian. Mereka lelah dengan kasir yang “kurang jujur”, dengan uang palsu, dengan salah hitung kembalian, dengan laporan keuangan yang bocor di sana-sini.

Pembayaran digital menawarkan ketertiban. Semua tercatat. Semua rapi. Tidak ada kembalian kurang seribu yang hilang entah ke mana.

Di atas kertas, ini indah. Di slide presentasi, ini masa depan. Di lapangan, ini sering jadi tembok.

Pemilik usaha berdalih, dan saya tidak sepenuhnya menyalahkan mereka. “Ini demi efisiensi,” kata mereka. “Demi keamanan.” “Demi transparansi.”

Semua kata yang kalau dikumpulkan bisa jadi judul seminar berbayar dengan coffee break mewah. Tapi entah mengapa, dalam semua alasan itu, konsumen tertentu seolah tidak ikut dihitung. Terutama para orang tua.

Baca Juga: Bertaruh Nyawa demi Sembako, Perjuangan Ibu di Tapanuli Tengah Jalan Kaki 9 Jam Tembus Sisa Banjir

Generasi yang hidupnya sudah cukup rumit sebelum harus memindai kotak hitam bernama QR code. Mereka yang masih percaya bahwa uang adalah sesuatu yang bisa dipegang, dilipat, disimpan di saku. Bukan sesuatu yang butuh sinyal, baterai, dan update aplikasi.

Saya sering mendengar kalimat ini dari mereka, “Uangnya ada, tapi nggak bisa bayar.”

Ini kalimat yang absurd sekaligus menyedihkan. Karena di negeri ini, uang seharusnya memudahkan, bukan malah mempermalukan.

Ironisnya, aturan negara sebenarnya jelas. Bank Indonesia sudah berkali-kali menegaskan bahwa rupiah adalah alat pembayaran yang sah. Sah. Bukan opsional. Bukan cadangan. Bukan sekadar kenang-kenangan. Tapi di banyak gerai kecil dan menengah, rupiah dalam bentuk fisik mulai diperlakukan seperti tamu tak diundang.

Kita sedang hidup di masa ketika legalitas kalah oleh kenyamanan sistem. Ketika “aturan negara” sering kalah oleh “kebijakan internal outlet”. Ketika tulisan kecil di pintu kaca lebih berkuasa daripada undang-undang yang dibahas bertahun-tahun.

Di sinilah dilema itu mengeras.

Di satu sisi, negara mendorong transformasi digital. Inklusi keuangan. Sistem pembayaran modern. Semua itu penting. Tidak ada yang menolak kemajuan. Saya sendiri pakai QRIS, kadang. Tapi di sisi lain, kita juga hidup di negara dengan kesenjangan literasi digital yang nyata. Bukan cuma antara kota dan desa, tapi antara anak dan orang tuanya sendiri.

Lucunya, kita sering bicara inklusi dengan cara yang eksklusif.

“Semua orang bisa belajar,” kata kita, sambil lupa bahwa belajar butuh waktu, butuh pendampingan, dan butuh rasa aman. Bagi sebagian orang tua, salah pencet tombol saja bisa terasa seperti bencana kecil. Takut uangnya hilang. Takut salah transfer. Takut dimarahi anaknya karena “kok sih nggak bisa-bisa”.

Dan ketika mereka memilih bertahan dengan uang tunai, sistem malah menutup pintu.

Saya membayangkan nenek tadi pulang ke rumah, mungkin mengeluh pelan, “Sekarang beli roti saja susah.” Bukan karena roti mahal, tapi karena dunia bergerak terlalu cepat tanpa menoleh ke belakang.

Yang lebih pahit, banyak dari kita menganggap ini wajar. “Ya harus ikut zaman.” Kalimat yang sering diucapkan oleh orang yang tidak pernah ditolak membeli roti karena metode pembayaran. Kalimat yang terdengar progresif, tapi diam-diam kejam.

Transformasi digital sering kita rayakan sebagai kemajuan moral, padahal ia seharusnya cuma alat. Alat untuk memudahkan manusia. Bukan alat untuk menyeleksi siapa yang layak dilayani.

Saya tidak sedang membela kemalasan belajar teknologi. Tapi saya curiga, kita terlalu cepat menyalahkan individu, dan terlalu jarang mengkritik sistem. Kita bilang nenek itu gaptek, tapi jarang bertanya, apakah sistem kita ramah pada manusia yang menua.

Kita memuja efisiensi, tapi lupa empati.

Dalam banyak diskusi kebijakan, manusia sering direduksi jadi pengguna. User. Konsumen. Data. Padahal manusia juga punya keterbatasan, rasa malu, dan martabat. Nenek itu bukan “user yang gagal beradaptasi”. Ia warga negara yang membawa alat pembayaran sah, lalu ditolak oleh dunia yang katanya inklusif.

Humor pahitnya begini. Negara ini masih ribut soal uang receh di pasar swalayan yang ditukar permen, tapi di warung roti kecil, uang resmi negara bisa ditolak dengan santai. Tidak ada sirene. Tidak ada razia. Tidak ada peringatan keras. Yang ada hanya tulisan kecil: “Cashless Only.”

Tulisan itu terdengar modern, tapi bagi sebagian orang, artinya sederhana: “Bukan untuk kamu.”

Sebagai orang tua yang kadang juga hanya bawa uang cash karena malas top up dan lupa PIN, saya paham betul rasa canggung itu. Rasa berdiri di depan kasir sambil berharap ada keajaiban. Atau ada kasir baik hati yang bilang, “Tidak apa-apa, Pak, bayar tunai saja.”

Kadang ada. Kadang tidak. Dan hidup orang kecil sering ditentukan oleh kebetulan sekecil itu.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti melihat isu ini sebagai pertarungan antara masa lalu dan masa depan. Ini bukan soal menolak digital atau memuja cash. Ini soal pilihan. Soal memberi ruang bagi manusia dengan ritme hidup yang berbeda.

Solusinya sebenarnya tidak serumit jargon. Terima dua-duanya. Digital iya. Tunai juga iya. Edukasi jalan. Pendampingan ada. Bukan pemaksaan diam-diam lewat papan pengumuman.

Karena kalau transformasi hanya dinikmati oleh yang sudah siap, itu bukan transformasi. Itu seleksi alam versi aplikasi.

Dan kalau suatu hari nanti saya sendiri berdiri di depan kasir, rambut sudah lebih putih, tangan gemetar memegang uang kertas, lalu ditolak karena tidak punya QR, saya harap masih ada manusia di balik mesin kasir itu. Bukan sekadar sistem yang rapi, tapi dingin. (*)

Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2572076812/cashless-only-dan-nenek-yang-tertinggal-apakah-rupiah-sudah-tak-laku

Tags: Nenek Viralpembayaran QRISRoti Ouang tunai
Previous Post

Perempuan India Memanfaatkan AI dalam Pekerjaan Rumah Tangga

Next Post

Raffi Ahmad dan Iko Uwais Salurkan Pendapatan Film Timur untuk Penyintas Bencana di Aceh, Sumut dan Sumbar

Jurnalis Retoria

Jurnalis Retoria

Next Post

Raffi Ahmad dan Iko Uwais Salurkan Pendapatan Film Timur untuk Penyintas Bencana di Aceh, Sumut dan Sumbar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Browse by Category

  • Apps
  • Business
  • Daerah
  • Entertainment
  • Fashion
  • Food
  • Gadget
  • Gaming
  • Gaya Hidup
  • Health
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Mobile
  • Movie
  • Music
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Politics
  • Politik
  • Resensi
  • Review
  • Sains
  • Science
  • Sejarah
  • Sports
  • Startup
  • Suara Retor
  • Tech
  • Travel
  • Trivium
  • Wisata
  • World
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.