Retoria.id – Suka atau tidak, setiap manusia sedang berada dalam sebuah perjalanan. Perjalanan itu memiliki awal, tengah, dan akhir. Kehidupan dunia yang kini kita jalani bukanlah titik mula, juga bukan tujuan akhir ia adalah fase tengah. Sebuah persinggahan.
Dalam pandangan tradisi Islam, setelah kematian masih ada tahapan-tahapan lain yang menunggu, dan Islam memberikan salah satu penjelasan paling jernih tentang apa yang terjadi setelah hidup ini dibandingkan tradisi-tradisi keagamaan sebelumnya.
Perjalanan manusia bermula bukan dari dunia materi, melainkan dari alam malakut sebuah dimensi non-material tempat ruh berasal. Ruh memiliki sifat malakuti, bukan mulk. Dunia yang kini kita huni adalah alam mulk, alam dominion, alam kekuasaan yang bersifat fisik dan kasatmata.
Di atasnya ada malakut, dan di atas malakut ada jabarut. Tiga dunia ini bukan sekadar konsep abstrak, melainkan struktur kosmik yang membingkai eksistensi manusia.
Sebelum ruh dimasukkan ke dalam tubuh, manusia pernah berada dalam keadaan penyaksian. Dalam keadaan itu, seluruh ruh tanpa kecuali, apa pun agama atau identitasnya kelak di dunia menyaksikan dan mengakui ketuhanan Allah.
Baca Juga: Hamza Yusuf: Setan Mengalir Dalam Pembuluh Darah Kita
Kesaksian itu bukan pengetahuan rasional, melainkan pengalaman eksistensial yang sangat dalam. Namun kemudian ruh dimasukkan ke dalam “sangkar” bernama tubuh. Seperti burung yang terkurung dalam jeruji, ruh kini hidup dalam balutan daging dan darah.
Tubuh ini bukan diri kita yang sejati. Ia hanyalah wadah sementara. Ruh adalah tawanan yang suatu hari akan pergi, meninggalkan tubuh sebagaimana burung meninggalkan sangkar yang terbuka tanpa menoleh ke belakang. Kematian, dalam kerangka ini, bukan kehancuran, melainkan pembebasan.
Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai pertemuan dua dunia: langit dan bumi. Seperti cakrawala tempat keduanya tampak bersentuhan, manusia adalah mikrokosmos titik temu antara alam materi (mulk) dan alam ruhani (malakut). Apa yang terbentang luas di semesta raya juga hadir, dalam bentuk lain, di dalam diri manusia.
Baca Juga: Panduan Profetik dalam Menghadapi Penderitaan
Modernitas kerap mereduksi manusia menjadi makhluk kecil yang tak berarti: penghuni planet remeh di sudut galaksi yang tak signifikan. Secara kosmologis, klaim ini tampak benar.
Namun kesalahan besar modernitas adalah berhenti di sana. Jika kita menengok ke dalam diri manusia, justru seluruh kosmos itu tercermin di dalamnya. Manusia bukan sekadar debu kosmik; ia adalah cermin semesta.
Tubuh manusia dibekali lima indera yang sangat kuat. Indera-indera ini menjadi pintu masuk pengalaman. Di sinilah bahaya sekaligus ujian bermula. Ketika kesadaran manusia sepenuhnya tenggelam dalam pengalaman inderawi, ia lupa asal-usulnya.
Materialisme modern memanfaatkan ini dengan mengajarkan bahwa seluruh pengetahuan bersumber dari pengalaman sensorik semata bahwa manusia adalah “kertas kosong” yang diisi oleh dunia.
Pandangan ini melahirkan kesimpulan fatal: hidup tidak punya tujuan. Manusia hanyalah produk kebetulan kosmik. Hiburan menjadi makna hidup. Musik, film, kesenangan, distraksi itulah tujuan akhir. Generasi modern, berbeda dengan manusia purba, justru percaya bahwa hiburan adalah alasan utama keberadaan mereka.
Padahal manusia purba, betapapun sederhana teknologinya, tahu bahwa hidup memiliki tujuan. Ada telos arah, makna, dan tujuan akhir. Al-Qur’an menantang asumsi nihilistik ini dengan pertanyaan tajam: Apakah manusia mengira ia dibiarkan begitu saja, tanpa tujuan?
Anak kecil adalah makhluk spiritual. Mereka percaya pada yang gaib, memahami tujuan secara intuitif, dan memiliki naluri kausalitas. Seorang bayi tidak akan mengira batu yang jatuh muncul dari ketiadaan; ia akan menoleh mencari sumbernya. Keyakinan bahwa segala sesuatu memiliki sebab bukan hasil pendidikan, melainkan bagian dari fitrah.
Namun seiring waktu, ruh yang semakin tenggelam dalam tubuh dan pengalaman inderawi mulai lupa. Karena itulah fungsi orang tua bukan sekadar membesarkan anak, tetapi mengingatkan.
Adzan di telinga bayi, syahadat, dan rasa manis di lidah adalah simbol: jiwa diingatkan pada kebenaran yang sudah ia ketahui, dan pada kenikmatan yang dijanjikan jika ia setia pada kebenaran itu.
Agama, dalam makna terdalamnya, bukan transmisi informasi baru. Ia adalah pengingat. Al-Qur’an sendiri menyebut dirinya sebagai dzikr pengingat atas sesuatu yang telah dikenal ruh manusia.
Kesadaran adalah inti manusia. Ia tidak pernah lenyap bahkan dalam koma. Karena itu manusia bertanggung jawab atas apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan.
Setiap pengalaman hidup, termasuk kejadian-kejadian ganjil, kebetulan, dan sinkronisitas, adalah isyarat dari alam tak kasatmata. Mereka yang memiliki kerangka kenabian akan memahaminya sebagai tanda; yang tidak, akan terperangah tanpa arah.
Islam berdiri sebagai tradisi terakhir yang masih menyimpan kosmologi utuh tidak terpotong oleh reduksionisme modern. Namun kebenaran ini pun bisa terlupakan. Karena itu manusia memiliki musuh-musuh utama: nafsu, setan, hawa, dan dunia. Seluruh hidup adalah pergulatan dengan keempatnya.
Kesempurnaan iman bukan sekadar ritual atau keyakinan verbal. Ia mencapai puncaknya dalam ihsan: beribadah seakan-akan melihat Allah. Inilah keadaan penyaksian kembali ke kondisi ruhani awal manusia. Jalan menuju ke sana bukan hanya lewat ilmu tekstual, tetapi lewat pemurnian hati dan kebersamaan dengan orang-orang yang tulus.
Manusia merindukan cinta. Sebagian mengulang jatuh cinta berkali-kali hanya demi merasakan kembali getaran itu. Cinta duniawi betapapun menyakitkan adalah bayangan dari cinta ilahi. Jika manusia rela menempuh segala risiko demi cinta sesama makhluk, bagaimana seharusnya cinta kepada Sang Pencipta?
Masalahnya bukan manusia tak ingin mencintai Tuhan. Masalahnya, kita malas. Kita mengaku cinta, tapi enggan mempelajari bahasa-Nya, enggan mendekat, enggan berkorban. Namun para pecinta sejati itu ada. Jika kita belum mampu menjadi salah satu dari mereka, setidaknya kita bisa mengagumi mereka.
Karena pada akhirnya, manusia selalu rindu untuk jatuh cinta. Dan cinta sejati yang tidak melilit dan mencekik seperti cinta dunia hanya ditemukan ketika ruh kembali mengingat asalnya. (*)
*Catatan: Artikel adalah hasil terjemahan dan penulisan ulang dari cermah-ceramah Syaikh Hamza Yusuf, Zaytuna College California.
Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2572368533/hamza-yusuf-orang-orang-mendambakan-untuk-jatuh-cinta