Retoria.id – Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa seseorang tidak boleh menghinakan dirinya sendiri. Waktu itu Para sahabat dan orang-orang Arab yang secara fitrah memiliki ‘izzah (harga diri) terkejut mendengar pernyataan itu.
Mereka bertanya, “Bagaimana mungkin seseorang menghinakan dirinya sendiri?” Dalam nalar mereka, itu bahkan tak terpikirkan.
Namun Nabi SAW menjelaskan bahwa menghinakan diri berarti membiarkan diri terpapar cobaan yang tidak sanggup ia tanggung.
Ada ujian yang Allah tetapkan tanpa kita pilih penyakit terminal, kehilangan, kesedihan mendalam, atau depresi. Itulah dunia (dunyā). Ujian semacam ini bukan tanda kelemahan iman, melainkan bagian dari takdir kehidupan.
Dalam khazanah bahasa Arab, depresi bahkan dipahami sebagai keadaan yang bisa datang dari Allah kepada sebagian hamba-Nya, kesedihan bukan dosa, berduka adalah hal yang manusiawi.
Namun kita juga perlu menyadari bahwa Allah menghendaki kegembiraan bagi manusia. Al-Qur’an tidak diturunkan agar manusia tenggelam dalam kesengsaraan, melainkan agar mereka hidup dengan harapan dan makna.
Karena itulah Nabi SAW dikenal sebagai pribadi yang murah senyum. Beliau menghadirkan rasa nyaman dan kebahagiaan bagi siapa pun yang berada di dekatnya.
Baca Juga: Hamza Yusuf: Orang-orang Mendambakan Untuk Jatuh Cinta
Bahkan di tengah masa-masa paling berat, senyum itu tetap hadir. Ironisnya, di balik keteduhan itu, Nabi SAW menanggung penderitaan yang tak terbayangkan: beliau menguburkan hampir seluruh anaknya dengan tangannya sendiri, kecuali Fatimah. Tak ada seorang pun yang mengalami ujian seperti ujian para nabi.
Para nabi menghadapi penderitaan yang jauh lebih berat daripada yang bisa kita bayangkan. Nabi Isa, misalnya, disakiti hingga berdarah, namun tetap berdoa, “Ya Allah, ampunilah kaumku, sebab mereka tidak mengetahui apa yang mereka perbuat.”
Banyak manusia menyakiti orang lain bahkan tanpa memahami alasan perbuatannya. Mereka menjadi ujian bagi sesama.
Karena itu, pesan terpentingnya cukup sederhana tapi sukar dilakukan: jangan menjadi ujian bagi orang lain.
Kita akan diuji bahkan oleh keluarga kita sendiri. Nabi Yusuf pernah dikhianati oleh saudara-saudaranya, direncanakan untuk dibunuh, lalu dibuang ke dalam sumur. Mereka adalah anak-anak seorang nabi. Siapa di antara kita yang pernah mengalami penderitaan seperti itu?
Baca Juga: Hamza Yusuf: Setan Mengalir Dalam Pembuluh Darah Kita
Dunia ini memang bukan tempat tanpa masalah. Seorang guru pernah menegur anaknya yang mengeluh, “Bisakah kita menjalani satu hari saja tanpa masalah?” Sang ayah menjawab, “Singkirkan kesombongan dari hatimu. Apakah kamu kira Nabi pernah menjalani satu hari tanpa ujian?”
Inilah sunnah kehidupan. Ada hari untukmu, dan ada hari yang terasa melawanmu. Ada yang di atas, ada yang di bawah. Semua adalah hikmah yang dirajut oleh tangan Yang Maha Bijaksana. Dan Allah menegaskan: mereka yang bersabar dan bertakwa-lah yang akan meraih keberuntungan.
Nabi SAW bersabda bahwa pada hari kiamat kelak, orang-orang yang hidup nyaman di dunia akan berharap bisa kembali ke dunia dan mengalami penderitaan yang amat berat, ketika mereka melihat betapa besar pahala orang-orang yang diuji.
Sebaliknya, orang beriman yang paling menderita di dunia, ketika ditanya apakah ia pernah merasakan penderitaan, akan menjawab, “Tidak. Aku tak pernah merasakannya.”
Segala ingatan tentang rasa sakit akan hilang. Aristoteles mengatakan bahwa salah satu keajaiban tubuh manusia adalah kita tidak bisa mengingat rasa sakit kita ingat bahwa kita pernah merasakannya, tetapi tidak bisa mengingat rasa sakit itu sendiri. Beginilah keadaan akhirat. Kalian tidak akan mengingat cobaan-cobaan itu.
Hari kiamat adalah hari tanpa kezaliman. Hari ketika bahkan hewan yang dizalimi akan mendapatkan keadilan. Maka dunia ini bukan tempat pembalasan akhir; ia hanyalah tempat ujian.
Karena itu, tugas kita bukan sekadar bertahan, tetapi membangun komunitas yang hidup: komunitas yang shalat bersama, belajar bersama, dan saling menenangkan.
Shalat adalah fondasi paling mendasar agama ini. Ilmu dan ibadah adalah dua jalan sah menuju Allah. Keduanya saling membutuhkan.
Bagi jiwa yang gelisah, dzikir adalah penenang. Bagi masyarakat yang retak, akhlak adalah penyembuh. Menyakiti seorang mukmin lebih berat di sisi Allah daripada menghancurkan bangunan suci batu demi batu.
Puncak dari semua ini adalah dua hal: berbaik sangka kepada Allah dan berbaik sangka kepada sesama hamba-Nya. Dan akhirnya, dakwah mengundang manusia kepada keindahan Islam bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan keadaan hidup kita.
Islam harus kembali tampak indah, agung, dan memikat, sebagaimana dahulu ia hadir ke dunia.
Mari hidup dengan Al-Qur’an setiap hari. Satu juz sehari, setengah jam saja. Sedikit, tetapi konsisten. Dari sanalah ketenangan tumbuh, dan dari sanalah kekuatan sebuah umat lahir.
Semoga Allah memberkahi hari-hari kita, memenuhi hati kita dengan kegembiraan di tengah luka, dan menjadikan kita hamba-hamba yang mengingat-Nya, bersabar dalam ujian, serta tidak pernah menjadi ujian bagi orang lain. (*)
*Catatan: Artikel adalah hasil terjemahan dan penulisan ulang dari cermah-ceramah Syaikh Hamza Yusuf, Zaytuna College California.
Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2572371711/hamza-yusuf-menjaga-martabat-diri-adalah-sunnah-nabi