Nasihat Para Arif tentang Waktu yang Tak Pernah Menunggu

Retoria.id – Sebuah pelajaran sunyi dari para arif, tentang sesuatu yang setiap hari kita sentuh, tetapi jarang kita sadari “Waktu”.

Ia tidak datang membawa suara. Tidak mengetuk pintu. Tidak pula meminta izin. Ia hadir begitu saja, lalu pergi sambil membawa sebagian dari diri kita.

Para sufi mengajarkan, dan pelajaran ini diakui sendiri oleh Imam Al-Ghazali, bahwa waktu adalah pedang. Jika engkau tidak memotong dengannya, ia akan menebasmu.

Bukan dengan luka berdarah, melainkan dengan pengikisan pelan-pelan meliputi usia, kesadaran, dan kesempatan untuk kembali.

Kita sering berkata ingin “mengatur waktu”. Padahal yang sesungguhnya terjadi: kita sedang diatur olehnya.

Kita menyusunnya dalam jadwal, menjejalkannya dengan rencana, lalu menenangkannya dengan kalimat, “nanti saja”. Seolah-olah waktu bisa disuruh menunggu, atau disimpan untuk hari lain.

Setiap pagi, waktu bangun lebih dulu dari kita. Ia tidak peduli apakah kita siap atau belum. Ia hanya berjalan.

Dan setiap langkahnya, ia mengambil sedikit dari kita, tenaga yang tak kembali, niat yang tertunda, doa yang tak sempat terucap.

Bagi kebanyakan manusia, waktu hanyalah angka. Jam, menit, kalender. Sesuatu yang diukur, dihitung, lalu habis. Namun bagi para arif, waktu bukan angka. Ia adalah apa yang sedang kita alami.

Jika seseorang hidup dalam kelalaian, maka waktunya adalah lalai. Jika ia tenggelam dalam kegelisahan, maka waktunya adalah gelisah. Jika ia hadir sepenuhnya tenang, sadar, dan waspada maka itulah waktunya.

Baca Juga: Hamza Yusuf: Setan Mengalir Dalam Pembuluh Darah Kita

Karena itu, waktu tidak pernah kosong. Ia selalu berisi. Dan isi waktu selalu mencerminkan isi hati manusia yang menjalaninya.

Kita sering sibuk memikirkan masa depan, seolah-olah ia telah memesan tempat bagi kita. Kita menyesali masa lalu, seolah-olah ia masih bisa diperbaiki.

Padahal yang sering luput dari perhatian bukanlah masa depan atau masa lalu, melainkan saat ini, yang kita jalani sambil lalu.

Nabi SAW mengingatkan dengan kalimat yang sederhana namun mengguncang: manusia tak akan benar-benar tenang sebelum ia sadar bahwa satu-satunya waktu yang ia miliki adalah yang sedang ia jalani.

Bukan kemarin, bukan esok. Melainkan detik ini yang sering kita lewati tanpa hadir.

Orang bangun pagi dan bertanya, “Apa yang akan aku lakukan hari ini?” Orang lain bangun dengan tanya yang lebih dalam, “Apa yang sedang Allah kehendaki dariku hari ini?”

Yang satu ingin mengisi waktu. Yang lain ingin selamat di dalam waktu.

Sebab waktu tidak menunggu kita menjadi baik. Ia hanya berjalan, dan terus berjalan. Dan di setiap langkahnya, ia selalu mengajukan satu pertanyaan yang sama, tanpa suara:

“Apakah engkau hidup di dalamku,
atau sekadar habis olehnya?”

Di sanalah waktu berhenti menjadi angka. Dan mulai menjadi jalan pulang. (*)

Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2572376785/nasihat-para-arif-tentang-waktu-yang-tak-pernah-menunggu

Rekomendasi