Elegi Lukisan Bunga Sri Mulyani, Cermin Retak Empati Manusia

Retoria.id – Pagi tadi, Sri Mulyani menulis sebuah catatan berjudul “Lukisan Bunga Itu” di akun Instagram pribadinya. Bagi sebagian orang, barangkali ia hanya seorang pejabat yang rumahnya dijarah dalam kerusuhan.

Tetapi siapa pun yang membaca tulisannya akan segera sadar tulisan itu bukan sekadar kisah perempuan yang kehilangan barang. Itu adalah elegi—pertemuan antara duka pribadi, tragedi sosial, dan krisis kebangsaan.

Dalam catatannya, ada seorang lelaki berjaket merah yang memanggul lukisan bunga, keluar dari rumahnya dengan helm hitam menutup wajah. Ia melangkah ringan, bahkan sempat diwawancarai media dengan nada bangga.

Bagi penjarah itu, mungkin lukisan hanyalah hasil rampasan. Tetapi bagi Sri Mulyani, itu adalah simbol ruang intim keluarga, kenangan yang tidak tergantikan yang ia lukis sendiri.

Namun yang hilang bukan sekadar lukisan. Ia menulis “Lukisan bunga itu telah raib seperti lenyapnya rasa aman, kepastian hukum, dan perikemanusiaan.”

Di sinilah kekuatan tulisan bu Sri bekerja dengan kuat. Sebuah benda yang konkret—lukisan—digeser maknanya menjadi metafora kehilangan yang jauh lebih besar. Dari kehilangan pribadi, ia menarik garis menuju hilangnya hukum dan kemanusiaan.

Baca Juga: Sri Mulyani Kehilangan Lukisan Tak Ternilai dalam Penjarahan, Soroti Runtuhnya Rasa Kemanusiaan

Retorikanya jelas satu rumah yang dijarah adalah bayangan dari sebuah bangsa yang bisa kehilangan dirinya.

Kalimat berikutnya bahkan lebih tajam: “Hilang hukum, hilang akal sehat, hilang peradaban.”
Ini repetisi yang disusun seperti mantra. Tiga klausa pendek dengan ritme yang menekan, mirip dentang lonceng duka.

Bahasa di sini bukan hanya alat ekspresi, tetapi juga alat guncangan ia memaksa pembaca menyadari bahwa tragedi ini bukan sekadar soal barang yang raib, melainkan tentang sebuah peradaban yang terancam retak.

Ketika ia menulis: “Dalam kerusuhan tidak pernah ada pemenang,” retorikanya berubah menjadi aforisme. Sebuah kalimat singkat, mudah diingat, tetapi sarat paradoks.

Kerusuhan memang sering tampak menguntungkan bagi pihak tertentu, entah politik atau ekonomi. Namun Sri Mulyani mengingatkan: semua sebenarnya kalah. Kalimat ini berdiri seperti sebuah sententia klasik—ringkas, tajam, abadi.

Tetapi yang membuat catatan itu benar-benar mengguncang bukan hanya kemarahan pada penjarah, melainkan pada cara media memperlakukannya. Ia menulis tentang penjarahan yang “diviralkan secara sensasional.”

Di sini, duka pribadi bertemu dengan kritik sosial. Kata “viral”, yang biasanya melekat pada hiburan atau kegembiraan, justru ditempelkan pada tragedi. Ironi sastra bekerja di sana: penderitaan dijadikan tontonan, luka dijadikan konten.

Bayangkan, seorang reporter bertanya enteng kepada pelaku: “Dapat barang apa, Mas?” dan jawaban yang diterima adalah: “Lukisan.” Seolah itu bukan hasil jarahan, melainkan hasil belanja di pasar malam.

Pada titik ini, media kehilangan ethos—otoritas moral yang seharusnya menjaga akal sehat publik. Sri Mulyani marah bukan pada satu reporter, melainkan pada sistem yang menjadikan tragedi bahan hiburan. Jika penjarah pertama merampas benda, maka media hadir sebagai penjarah kedua: merampas martabat.

Di tengah amarah itu, ada kesedihan yang lirih. Sri Mulyani menyebut nama-nama korban jiwa satu per satu: Affan Kurniawan, Muhammad Akbar Basri, Sarinawati, Syaiful Akbar, Rhezha Sendy Pratama, Rusdamdiansyah, Sumari.

Penyebutan nama-nama ini bukan sekadar detail. Secara stilistika, ia bekerja seperti baris-baris puisi elegi. Nama-nama itu mengubah “korban” yang anonim menjadi manusia dengan wajah, keluarga, dan cerita. Retorikanya menghadirkan kembali kemanusiaan yang lenyap dalam statistik.

Dan akhirnya, meski ada rasa yang tumpanh tindih catatan itu ditutup dengan doa: “Indonesia adalah rumah kita bersama. Jaga dan terus perbaiki tanpa lelah, tanpa amarah, tanpa keluh kesah.”

Kalimat ini mengikat seluruh teks dalam satu bingkai metafora besar “rumah”. Rumah pribadi yang dijarah ditarik menjadi rumah bangsa yang harus dijaga.

Repetisi “tanpa lelah, tanpa amarah, tanpa keluh kesah” adalah gradatio—peningkatan retoris yang memberi tekanan emosional sekaligus harapan.

Ironinya pahit: seseorang yang rumahnya hancur masih mampu mengingatkan kita untuk menjaga rumah bersama. Tetapi justru di situlah daya ledak teks itu. Ia marah, ia sedih, ia getir—namun ia menolak menutup catatan dengan dendam. Ia memilih doa.

Tulisan Sri Mulyani bukan sekadar curahan hati seorang pejabat yang rumahnya dijarah. Ia adalah teks sastra sekaligus retorika elegi personal yang menjelma kritik sosial, amarah yang dikemas dalam simbol, dan doa yang lahir dari reruntuhan.

Kita bisa membacanya sebagai peringatan: bahwa yang paling berbahaya dari kerusuhan bukan hanya hilangnya harta benda, tetapi hilangnya empati.

Dan bila empati itu terus dirampas, maka benar kata Sri Mulyani: yang hilang bukan sekadar lukisan, melainkan peradaban itu sendiri. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2571543100/elegi-lukisan-bunga-sri-mulyani-cermin-retak-empati-manusia

Rekomendasi