Teori Relasi Dalam Ilmu Tauhid: Bisakah Tuhan Meledak Lalu Fana?


Retoria.id – Pertanyaan-pertanyaan bandel dan nakal seringkali terlahir dari wacana seputar teologi seperti pertanyaan yang lazim kita jumpai dalam berbagai kajian kitab tauhid di pesantren-pesantren misalnya “Bisakah tuhan menciptakan sebuah batu hingga ia sendiri tidak bisa mengangkatnya?
 
Atau bisakah tuhan membesar, meledak lalu kemudian mati dan sirna? barangkali pertanyaan ini terbilang jama’ dan terdengar sudah usang, itu benar sekali. Karena sudah banyak yang mempertanyakan pun juga sudah banyak para teolog yang telah menjawab pertanyaan ini. Dan umunya para teolog menjawab dengan teori regresi tak terbatas (tasalsul) dan tautologi (ad dhaur)
 
 
Namun, pada tulisan ini Al faqir bermaksud ingin memaparkan teori ta’alluq yang ada di kitab kifayatul awwam sebagai alternatif lain untuk menjawab pertanyaan bandel di atas.

Namun sebelum itu, ada beberapa sifat yang memiliki relasi atau ta’alluq yang perlu diketahui seperti sifat “ilmun” dan sifat “kalam” yang memiliki relasi meliputi sesuatu yang wajib, muhal dan ja’iz.

Ada yang hanya memiliki hubungan kepada sesuatu yang Ja’iz atau (al mumkinat) saja seperti sifat “qudrah” dan “Iradah” ada pula yang hanya berhubungan pada sesuatu yang wajib dan jaiz saja semisal sifat “sama’ ” dan “basor”

makna ta’alluq mudahnya, sifat yang membutuhkan sesuatu (tambahan) selain dzat itu, contoh sifat yang tidak memiliki ta’alluq “sifat wujud” dia hanya membutuhkan dzat dan dengan adanya dzat Allah maka ia disebut maujud, “Qidam” dengan adanya dzat Allah maka ia disebut “Qadim” jadi, ia tidak menuntut apapun selain dzat itu sendiri.

Tetapi untuk sifat yang enam, atau sifat Allah yang memiliki ta’alluq di atas ia membutuhkan objek yang lebih dari sekadar dzat tuhan contoh, sifat “ilmun” ia tidak hanya membutuhkan dzat tuhan tetapi ia juga membutuhkan “ma’lum” (sesutu yang diketahui). 

 
“Qudrah” ia membutuhkan objek yang dikuasai untuk memberikan akibat padanya, dengan kata lain tidak selesai denga sifa itu sendiri, misalnya “mata” sifat melihat pada mata kita ini membutuhkan objek misalnya warna, warna kulit yang putih, glowing, sawo matang dan objek lainnya.

Terus apa pentingnya mengetahui ta’alluq dari sifat ini dan hubungannya dengan pertanyaan di atas? Sekurang-kurangnya kita akan salah dalam berlogika kalau sampai ta’alluqnya tidak sesuai.

 
Seperti ini misalnya, “kalau ada manusia yang jadi tuhan itu mustahil tapi, kalau tuhan yang jadi manusia itu bisa dan tidak mustahil wong tuhan maha kuasa kok”

karena tuhan maha kuasa sehingga tuhan harus bisa melakukan apapun. tanpa adanya ta’alluq seperti di atas penjelasannya akan menjadi ribet

“bisakah tuhan mati, atau bisakah tuhan meniadakan dirinya sendiri?” Disisi lain kita percaya tuhan itu “Baqa’” (kekal) tapi, disisi lain kita yakin tuhan maha kuasa akhirnya apa yang terjadi, tentu saja hal itu akan meniadakan salah satu diantara kedua sifat itu (Baqa’ dan qudrah). Dan itu mustahil

Maka, menurut hemat saya yang tidak terlalu hemat kalau kita memahami ta’alluq tidak akan ada pertanyaan semacam itu. karena sifat qudrah dan iradah ta’alluq nya hanya kepada sesuatu yang ja’iz artinya tidak berhubungan dengan sesutu yang wajib ataupun muhal.

 
Dan Allah mati, fana dst itu semua adalah contoh sesutu yang mustahil atau pun contoh lain Allah wujud. Maka, dengan demikian wujudnya Allah tidak diciptakan oleh sifat Qudrah dan iradah, karena qudrah dan iradah ranahnya atau ta’alluqnya hanya pada sesuatu yang jaiz saja.

Dan pertanyaan nakal itu selesai jika kita tahu teori ta’alluq, jawabannya sederhana apakah pertanyaan “tuhan tidak bisa mengangkat batu” pada pertanyaan di atas dimaksudkan untuk menjelaskan “kemustahilan, wajib atau jaiz ?”

 
Sudah pasti jawabanya adalah mustahil dengan begitu berarti, seakan-seakan kita miminta “bisakah tuhan menciptakan sesuatu yang mustahil?” sedangkan definisi dari mustahil adalah tidak mungkin adanya menurut akal.
 
Jadi, sama saja kita dengan bertanya bisakah tuhan meciptakan sesuatu yang mustahil? kalau bisa diciptakan itu bukan mustahil namanya. sampai disini kita sudah tau bentuk kekacauan logikanya.

Jadi, sekali lagi mustahil itu tidak bisa memperoleh ta’alluq qudrah dan iradah karena yang disebut mustahil tidak ada dan tidak mungkin ada.

justru malah aneh jadinya, jika misalnya kita meminta kepada jomblo untuk mencari mantan yang paling berkesan padahal kita tahu bahwa jomblo itu tidak pernah punya pacar dan apalagi mantan.

 
Tapi, ternyata si jomblo malah berhasil menemukan mantan, itu pasti kacau, wong nggak ada, dicari malah ketemu. Bukankah itu adalah sesuatu yang mustahil dan konyol? (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2571562191/teori-relasi-dalam-ilmu-tauhid-bisakah-tuhan-meledak-lalu-fana

Rekomendasi