Namun sebelum itu, ada beberapa sifat yang memiliki relasi atau ta’alluq yang perlu diketahui seperti sifat “ilmun” dan sifat “kalam” yang memiliki relasi meliputi sesuatu yang wajib, muhal dan ja’iz.
Ada yang hanya memiliki hubungan kepada sesuatu yang Ja’iz atau (al mumkinat) saja seperti sifat “qudrah” dan “Iradah” ada pula yang hanya berhubungan pada sesuatu yang wajib dan jaiz saja semisal sifat “sama’ ” dan “basor”
makna ta’alluq mudahnya, sifat yang membutuhkan sesuatu (tambahan) selain dzat itu, contoh sifat yang tidak memiliki ta’alluq “sifat wujud” dia hanya membutuhkan dzat dan dengan adanya dzat Allah maka ia disebut maujud, “Qidam” dengan adanya dzat Allah maka ia disebut “Qadim” jadi, ia tidak menuntut apapun selain dzat itu sendiri.
Tetapi untuk sifat yang enam, atau sifat Allah yang memiliki ta’alluq di atas ia membutuhkan objek yang lebih dari sekadar dzat tuhan contoh, sifat “ilmun” ia tidak hanya membutuhkan dzat tuhan tetapi ia juga membutuhkan “ma’lum” (sesutu yang diketahui).
Terus apa pentingnya mengetahui ta’alluq dari sifat ini dan hubungannya dengan pertanyaan di atas? Sekurang-kurangnya kita akan salah dalam berlogika kalau sampai ta’alluqnya tidak sesuai.
karena tuhan maha kuasa sehingga tuhan harus bisa melakukan apapun. tanpa adanya ta’alluq seperti di atas penjelasannya akan menjadi ribet
“bisakah tuhan mati, atau bisakah tuhan meniadakan dirinya sendiri?” Disisi lain kita percaya tuhan itu “Baqa’” (kekal) tapi, disisi lain kita yakin tuhan maha kuasa akhirnya apa yang terjadi, tentu saja hal itu akan meniadakan salah satu diantara kedua sifat itu (Baqa’ dan qudrah). Dan itu mustahil
Maka, menurut hemat saya yang tidak terlalu hemat kalau kita memahami ta’alluq tidak akan ada pertanyaan semacam itu. karena sifat qudrah dan iradah ta’alluq nya hanya kepada sesuatu yang ja’iz artinya tidak berhubungan dengan sesutu yang wajib ataupun muhal.
Dan pertanyaan nakal itu selesai jika kita tahu teori ta’alluq, jawabannya sederhana apakah pertanyaan “tuhan tidak bisa mengangkat batu” pada pertanyaan di atas dimaksudkan untuk menjelaskan “kemustahilan, wajib atau jaiz ?”
Jadi, sekali lagi mustahil itu tidak bisa memperoleh ta’alluq qudrah dan iradah karena yang disebut mustahil tidak ada dan tidak mungkin ada.
justru malah aneh jadinya, jika misalnya kita meminta kepada jomblo untuk mencari mantan yang paling berkesan padahal kita tahu bahwa jomblo itu tidak pernah punya pacar dan apalagi mantan.