Potensialitas dan Aktualitas Dalam Ilmu Tauhid: Benarkah Tuhan Maha Kuasa?

Retoria.id – Ada sebuah narasi sekaligus pertanyaan singkat yang menggelitik rasionalitas saya sebagai santri yang sempat ngaji tauhid (meskipun sedikit): “Benarkah Allah itu Maha Kuasa?”

Bukankah setiap kekuasaan meniscayakan adanya sesuatu yang dikuasai, setiap cinta meniscayakan adanya yang dicintai, dan subjek baru bisa disebut pemberi jika ada objek yang diberi?

Pertanyaannya kemudian, bagaimana dengan kekuasaan Allah Swt sebelum manusia dan alam ini diciptakan? Apakah sifat Qudrah-Nya masih bergantung pada sesuatu yang lain?

Kita semua tahu, mengingkari kekuasaan-Nya berarti keluar dari sesuatu yang sangat esensial dalam akidah Ahlussunnah. Maka, bagaimana cara memberi sanggahan yang tidak sekadar doktrinal terhadap narasi di atas?

Model narasi semacam itu sejatinya mirip dengan pertanyaan para filosof terdahulu: “Bagaimana mungkin Allah SWT yang Qadim menciptakan sesuatu yang baru (hadits)?”

Pertanyaan ini sempat menjadi perdebatan serius antara ahli kalam dan para filosof. Idealnya, yang qadim melahirkan yang qadim. Namun, kalangan Asy’ariyah menawarkan sejumlah gagasan yang kemudian dijadikan dasar bagi akidah Ahlussunnah wal Jama’ah hingga hari ini.

Baca Juga: Teori Relasi Dalam Ilmu Tauhid: Bisakah Tuhan Meledak Lalu Fana?

Dalam pandangan mereka, sifat Qudrah Allah SWT  memiliki dua ta’alluq (hubungan dengan objek). Pertama, ta’alluq suluhi qadim (potensial), dan kedua, ta’alluq tanjizi hadits (aktual).

Qudrah Allah memang qadim, tetapi memiliki potensi untuk menciptakan atau tidak menciptakan sesuatu. Potensi itu tidak hilang meski sudah teraktualkan.

Misalnya, seorang anak kecil sejak lahir telah memiliki mata dan kemampuan untuk melihat. Namun ia baru bisa melihat mobil setelah lima tahun kemudian, yakni setelah mobil itu ada. Artinya, anak tersebut bukan tidak bisa melihat sebelum mobil hadir.

Hal ini sama dengan sifat Ghufron (pemaaf) bagi Allah SWT. Sejak azali Allah sudah bersifat pengampun. Lalu kemudian, Ia menciptakan makhluk yang berdoa dan memohon ampunan, maka Allah mengampuni secara aktual.

Pertanyaannya, apakah sebelum atau ketika makhluk belum ada, sifat pengampun Allah menjadi hilang? Jawabannya tentu saja tidak. Secara suluhi qadim atau potensial, Allah sudah Maha Pengampun meskipun aktualisasinya datang kemudian.

Karena itu, jangan katakan bahwa Allah baru bisa disebut Ghufron setelah manusia berbuat dosa lalu meminta ampun. Itu konyol. Sejak azali, sifat pengampun itu sudah melekat pada-Nya. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2571562236/potensialitas-dan-aktualitas-dalam-ilmu-tauhid-benarkah-tuhan-maha-kuasa

Rekomendasi