Meninggalkan Logika Mistika Sama Dengan Kemajuan?

Retoria.id – Pihak yang paling terserang oleh kritik Logika Mistika adalah agama. Tak ada suatu institusi agama apapun yang lepas dari paradigma logika mistika.

Logika mistika sendiri, sebagaimana yang disebutkan Tan Malaka dalam MADILOG, adalah cara berpikir yang meyakini bahwa segala sesuatu disebabkan oleh pengaruh hal-hal gaib.

Apa itu hal gaib? Segala hal yang tidak bisa diamati (logika material) dibuktikan secara empiris (logika saintifik). Semua jenis institusi agama, baik agama natural maupun agama samawi, tak lepas dari kritik Malaka tadi. Bahkan dengan nada yang amat sarkas, Malaka mengomentari Budha:

Gauthama Budha yang saya anggap ahli filsafat MISTIKA yang terbesar, semenjak dunia ini diketahui, ahli filsafat yang lebih besar pengaruhnya dari ahli filsafat Barat, dari Plato sampai Hegel, lebih besar dari pada pengakuan Barat sendiri.

Gauthama Budha yang sudah mengakui, bahwa Rohaninya sudah bersatu padu dengan Roh Alam, sudah sampai ke Nirwana jika disesakkan oleh muridnya dengan pertanyaan: apakah Roh Alam (Rohani) itu sama dengan Jiwa (manusia?), terpaksa menjawab: “Pertanyaan itu salah’’.

Kritik Tan Malaka terhadap Logika Mistika bertujuan untuk kemajuan peradaban suatu bangsa, yang dalam hal ini Indonesia. Apakah Malaka berhasil? Pertanyaan masih belum terjawab. MADILOG ditulis oleh Malaka sekitar 83 tahun yang lalu.

 Baca Juga: Membaca Madilog Tan Malaka: Perbandingan Logika Mistika dan Sapienza Poetica

Apakah masyarakat kita sudah lepas dari logika mistika? Kita bisa dengan tegas menjawab “belum!”. Ke-belum-an di sini mengandung satu pertanyaan, yaitu, kenapa? Kenapa sampai detik ini masyarakat kita masih belum bisa beranjak dari logika mistika ke logika dialektika (materialisme) dan logika saintifik?

Jawaban atas pertanyaan di atas bisa saya simpulkan ke dalam dua sebab.

Pertama, masyarakat kita semenjak semula (bahkan semenjak masa purba) adalah masyarakat yang religius (dalam arti yang paling luas). Hal itu sudah mendarah-daging dalam pola pikir kita.

Oleh karenanya, masyarakat kita punya tingkat protektifitas (penyeleksian) yang tinggi terhadap pandangan (atau keyakinan) yang diimpor dari luar. Bacalah bagaimana sejarah masuknya agama Budha, Hindu, Islam, dan bahkan Kristen di negeri kita.

Ketika seluruh agama ini masuk ke negeri kita, mereka harus berjibaku dengan tradisi dan kemelakatan yang ada di dalam tubuh masyarakat. Alhasil, seluruh cara pikir dan cara hidup yang ada dalam agama-agama itu harus menyesuaikan diri dengan lingkungan masyarakat kita pada waktu itu.

Sampai detik ini pun tradisi Hindu-Budha masih dipakai dalam Islam, kendati hanya kovernya saja, seperti selametan 7 hari meninggalnya seseorang, sedekah bumi, dan lain seterusnya. Itulah yang juga terjadi pada paradigma saintis yang digaungkan oleh Tan Malaka hampir seabad yang lalu.

Kedua, masyarakat kita telah sekian abad hidup dengan pola “slow living” yang mengarah kepada kemalasan berpikir. Kita lebih memerhatikan kemapanan mental daripada mencoba hal-hal baru dengan risiko yang tinggi. Berpikir secara ilmiah dulunya tak pernah menjadi makanan kita sehari-hari.

Kita lebih menekankan “ngelmu titen”, yang berindikasi “pokoknya begitu”, daripada memikirkan secara mendalam apa di balik fenomena alam semesta yang mengitari kita. Akhirnya, kita terbentuk menjadi manusia praktis. Leluhur kita tahu bagaimana membudidayakan pangan untuk menghindari kelaparan.

Kita bisa membuat kapal yang bisa menjelajahi seluruh samudera di muka bumi. Namun kita tidak terbiasa berkutat pada tataran teoritis murni. Padahal, logika saintifik, pada mulanya bertolak dari cara pandangan filosofis yang abstrak menjadi paten dalam paradigma.

Pandangan filosofis masyarakat kita lebih mengarah kepada “filosofi moral”, yang bermain di tataran aksiologis, daripada ontologis maupun epistemologis. Itulah kenapa sampai detik ini logika mistika masih menjamur di antara masyarakat kita.

Tetap lepas dari dua sebab di atas, sesungguhnya latennya logika mistika di dalam tubuh masyarakat kita bukan salah agama. Bedakan antara “agama” dan “pemeluk agama”.

Agama, dalam hal ini Islam, adalah agama yang berspirit saintifik. Ini bukan pembelaan yang membabibuta dari saya. Karena bagi saya, agama itu mengurusi apa yang tak mungkin diurusi oleh sains.

Tetapi agama sendiri tidak menolak hasil penelitian sains yang bersifat objektif. Saya menyebut wilayah agama sebagai wilayah “ujung” dan “pangkal”. Apa itu? Wilayah di mana orang bisa meneliti “damarkasi” antara ujung dan pangkal dengan cara-cara yang berlandaskan bukti. Itu terbukti dari ayat yang pertama kali turun.

“Bacalah! Dengan nama Tuhanmu yang Maha Menciptakan.”

Ujung dan pangkal dari aktivitas “membaca” adalah keyakinan terhadap Tuhan yang menjadi “sangkan” dan “paran”, asal muasal kita dan arah tujuan kita. Sementara wilayah “dumadi” adalah wilayah di mana manusia bebas menggunakan alat indrawi dan akalnya untuk kepentingan mereka hidup di dunia.

Saya sering menyebut bahwa ketiadaan objek dari kalimat perintah “bacalah!” menunjukkan keumuman apa yang dibaca. Dalam hal ini, objek itu bisa disimpulkan hanya dari tiga hal: kitab suci, alam semesta, dan manusia itu sendiri. Agama pun, dengan kitab sucinya, sering menentang mereka yang berkata tanpa bukti, “Berikanlah bukti jika kamu (mengaku) benar!” Islam mengunggulkan semangat pembuktian.

Apakah dengan demikian menjadi adil jika yang menjadi biang kerok kemunduran adalah logika mistika versi agama? Tidak, sama sekali tidak adil. Kita juga harus melihat konteks di mana agama itu berkembang, bagaimana masyarakat memahami agama dan keyakinannya, dan tradisi apa yang melingkupi masyarakat yang beragama tersebut.

Kasus di Indonesia bisa kita bandingkan dengan negara dengan mayoritas penduduk muslim lainnya, seperti Iran. Kita tak bisa tutup mata dari perkembangan yang terjadi di negeri para Mulla tersebut. Apakah perkembangan saintifik di sana terlepas dari konteks masyaratnya? Tentu saja tidak.

Sebelum kedatangan Islam, Iran (atau dulu dinamai Persia) sudah terlebih dahulu akrab dengan filsafat (satu tahap menuju logika saintifik). Orang-orang Iran sudah terbiasa untuk berpikir teoritis dan terstruktur. Maka, dalam hal ini, sangat mudah untuk menanamkan logika saintifik di dalam tubuh masyarakat dengan budaya berpikir yang tinggi.

Maka, pertanyaan terakhir perlu saya ajukan di sini: dalam konteks masyarakat kita, seandainya pun mereka tak beragama dan tak berlogika mistika, apakah ada jaminan kita meraih kemajuan saintifik? Tak ada jaminan! Masyarakat kita adalah masyarakat dengan tingkat etos kerja yang minim.

Mereka terbiasa untuk mengandalkan orang lain, bahkan untuk urusan otak! Lihatlah bagaimana tradisi ketokohan dalam masyarakat kita! Mereka lebih suka menyandarkan akal pikiran mereka kepada tokoh.

Dan, sayangnya, para tokoh itu (termasuk di dalamnya tokoh agama Islam), tak mau mempelajari spirit agama yang sesungguhnya. Mereka tak mau mendahulukan wasiat atas kebenaran (watawashau bil haq), malah lebih mendahulukan wasiat untuk sabar (watawashau bis shabr). Akhirnya banyak orang berlseloroh begini, kan, “sabar, sabar gundulmu, kamu ngomong sabar tapi mobilmu Pajero!” (*). 

 

M.S. Arifin, Penulis Buku-buku Filsafat dan Teologi “Menimbang Teisme dan Ateisme” Dan masih banyak karya-karya lainnya. 

Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2571580020/meninggalkan-logika-mistika-sama-dengan-kemajuan

Rekomendasi