Retoria.id – Istilah sofisme berakar dari kata Yunani Sophos, yang berarti kebijaksanaan dan kecerdasan. Dari sini muncul istilah Sophistes.
Dalam bahasa Arab diserap menjadi sufusta’i — yang awalnya merujuk pada seseorang yang menekuni pengetahuan, seni berbicara, dan filsafat.
Secara harfiah, “sofist” sepadan dengan “filsuf”: sama-sama orang yang berpikir rasional dan bergulat dengan makna-makna.
Namun sejarah memberi arah yang berbeda. Para sofis di Yunani kuno terkenal lihai berdebat dan memikat publik dengan retorika, tetapi sering kali mengesampingkan kebenaran.
Baca Juga: Cara Mendidik Kaum Sofis: Nihilisme, Skeptisisme dan Relativisme
Mereka bisa membungkam lawan diskusi tanpa pengetahuan mendalam, cukup dengan trik kata, serangan personal, atau retorika bombastis. Dari sinilah muncul stigma: sofis bukan pencari kebenaran, melainkan tukang argumen semu.
Pada masa Socrates dan sebelumnya, sofis berkembang pesat. Mereka mendirikan sekolah retorika, dihormati masyarakat, dan menerima bayaran dari murid atau klien.
Kemampuan mereka bahkan merambah ke pengadilan. Dari praktik ini lahirlah profesi pengacara: membela klien apa pun kebenarannya.
Bedanya jelas, sofis membela posisi, sementara filsuf mencari kebenaran. Sebagian sofis bahkan menolak adanya kebenaran mutlak.
Kontras dengan itu, filsuf—dan juga para teolog dalam tradisi Islam—menggunakan argumen untuk mencari dasar yang kokoh, bukan sekadar memenangkan perdebatan.
Socrates Melawan Sofis
Socrates hadir di tengah arus besar sofisme. Dengan penampilan sederhana—pendek, botak, buncit—ia jauh dari sosok sofis yang tampil meyakinkan.
Alih-alih mengajar di sekolah berbayar, Socrates memilih berkeliling pasar Athena, berbincang dengan orang-orang, dan menguji apa yang mereka klaim tahu. Ia membuat mereka sadar bahwa mereka sesungguhnya tidak tahu.
Kesadaran akan ketidaktahuan itu, bagi Socrates, justru bentuk pengetahuan yang penting. Plato kemudian mengabadikan metode Socrates dalam dialog-dialog yang mempermalukan sofis: rendah hati, jujur, dan apa adanya.
Karena itulah Socrates menolak disebut sofis, dan menyebut dirinya filsuf — pecinta kebijaksanaan, bukan pekerja kebijaksanaan.
Perbandingannya sederhana: jika sofis mengangkat beban 200 kg dan menyebut diri atlet, maka Socrates mampu mengangkat 400 kg tetapi berkata, “Saya hanya pecinta olahraga.” Sejak itu, istilah “sofist” kehilangan gengsi, sementara “filsuf” justru dimuliakan.
Dari Retorika ke Argumen Semu
Stigma ini bertahan hingga kini. Menyebut seseorang “sofist” berarti menyebutnya pandai bicara, fasih dengan istilah logika, tapi hanya membela omong kosong. “Argumen sofistik” merujuk pada argumen yang tampak ilmiah, padahal kosong dan menyesatkan.
Secara logis, sebuah argumen baru valid jika memenuhi tiga syarat:
1. Mengikuti pola silogisme yang benar.
2. Premis-premisnya benar.
3. Premis-premis itu saling terhubung secara makna.
Argumen sofistik biasanya cacat, atau dalam istilah klasik disebut maghlathah (fallacy). Ada dua bentuk fallacy:
Formal fallacy, bisa dikenali dari struktur logiknya.
Informal fallacy, terletak pada isi atau konteksnya.
Artinya, tidak semua argumen salah adalah fallacy, tapi setiap fallacy pasti merupakan argumen salah.
Sofisme dalam Perdebatan Modern
Hingga sekarang, jejak sofisme masih terlihat dalam wacana keagamaan, politik, hingga debat publik. Banyak argumen yang tampak rasional ternyata hanya trik retorika tanpa kebenaran.
Situs retoria misalnya, secara khusus mengumpulkan dan membongkar berbagai argumen sofistik yang sering dipakai dalam kritik terhadap pemerintahan dan agama. Ini menunjukkan bahwa meski istilah sofisme lahir ribuan tahun lalu, praktiknya tetap hidup hingga hari ini. (*)