Retoria.id – Di beberapa akun media sosial, Terlihat Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab kritik lama dan abadi Rocky Gerung tentang klaimnya terhadap Jokowi yang nir-prestasi.
Dalam video itu Menteri yang punya julukan Menteri Koboy itu menjawab kritiknya dengan menunjukkan data visual tren pertumbuhan ekonomi. Purbaya dengan gaya santai dan Humor meledek Rocky Gerung untuk belajar ekonomi.
Karena dalam beberapa kasus ada data tren pertumbuhan ekonomi yang meningkat tajam berkat intervensi Jokowi, meskipun itu tidak berlangsung lama.
Kritik dari Purbaya ini di respon oleh Rocky Gerung ketika menjadi bintang tamu di acara Tempo, jika Purbaya datang dengan data dan grafik: pertumbuhan ekonomi yang naik dikaitkan langsung dengan intervensi Presiden Jokowi.
Rocky seperti biasa merespons dengan sinis itu hanyalah hoc ergo propter hoc alias false cause. Namun, dalam balas-membalas ini, baik Purbaya maupun Rocky nampaknya sama-sama berisiko terjebak dalam sesat pikir dan kerapuhan logika.
Untuk memahami duduk persoalan, mari kembali ke istilah klasik yang menjadi jawaban tinggal Rocky: post hoc ergo propter hoc. Secara harfiah artinya “karena setelah ini, maka disebabkan oleh ini.”
Kesalahan logika ini muncul ketika kita menyimpulkan hubungan sebab-akibat hanya karena dua peristiwa terjadi berurutan. Seperti keyakinan lama bahwa hujan turun gara-gara ada yang mencuci motor, atau bahwa gerhana bisa diusir dengan menabuh genderang.
Dalam kasus Purbaya, klaim bahwa intervensi Jokowi otomatis menjadi sebab utama naiknya grafik ekonomi juga jatuh ke jebakan ini. Urutan waktu tidak otomatis berarti hubungan sebab-akibat.
Ada variabel lain yang mungkin dominan—faktor global, dinamika pasar, hingga kebijakan warisan yang tidak masuk dalam grafik presentasi.
Namun, kritik Rocky pun tidak otomatis bersih dari sesat pikir. Di sinilah kita bertemu dengan straw man fallacy, pahlawan jerami yang ia ciptakan untuk memperlemah lawan.
Alih-alih menanggapi klaim Purbaya secara proporsional—misalnya bahwa Jokowi memberi kontribusi —Rocky sering menggambarkannya seolah-olah Purbaya sedang berkata “semua prestasi ekonomi sepenuhnya karena Jokowi.”
Karikatur ini lebih mudah diserang, tapi tidak lagi merepresentasikan posisi asli Purbaya. Dengan strategi ini, Rocky tampak gagah menjatuhkan sosok jerami, bukan lawan yang berdaging dan bernalar.
Padahal klaim Purbaya juga tidak mereduksi kenaikan tren ekonomi karena Jokowi semata, tapi banyak faktor meskipun ia tidak menyebutkannya, Inti pembicaraan Purbaya ingin menunjukkan bahwa “ada kontribusi Jokowi” sekalipun ia tidak besar ia ada dan itu tak direspon oleh Rocky.
Meskipun, keduanya nampak tidak serius menyampaikan kritik atau argumen, baik Purbaya dengan gaya ceplas-ceplosnya dan Rocky dengan gaya sangarnya. Tapi, saya pikir ledekan, atau pun kritik Humor akan selalu lebih baik jika berdasar pada logika yang benar.
Kedua sesat pikir di atas post hoc ergo propter hoc dan straw man telah menyederhanakan realitas kompleks menjadi hubungan sebab-akibat semu.
Sementara, Strawman mendistorsi argumen lawan menjadi karikatur yang mudah dipukul. Pertarungan retoris semacam ini memang memikat publik, tetapi mengaburkan kebenaran.
Bagi kita, publik yang jadi penonton, pelajarannya jelas, jangan terkecoh pada grafik yang indah atau kritik yang tajam. Pertama, periksa apakah ada bukti nyata bahwa X benar-benar menyebabkan Y dalam artian memang ada relasi kausalitas di situ, atau hanya kebetulan urutan waktu.
Kedua, periksa apakah kritik murni ditujukan pada argumen asli atau sekadar pada boneka jerami yang ia buat sendiri dengan cara mendistorsi argumen lawan, agar bisa membela diri dan tampil gagah dan seterusnya.
Dengan cara itu, kita tidak ikut terseret dan buang-buang umur dalam perdebatan yang sebenarnya sofis belaka, melainkan tetap teguh di jalur nalar. (*)