Kultus Idola dan Fanatisme di Era Kekaguman Satset dan Sachet

Retoria.id – Fanatisme adalah salah satu sifat moral yang unik. Ia bisa positif, bisa juga negatif. Layaknya pisau bermata dua, ia harus dijaga dengan penuh kehati-hatian agar tidak mencelakakan pemiliknya sendiri.

Jika ditanya apakah fanatisme itu baik atau buruk, jawabannya tidak sesederhana itu. Ia bisa baik, juga bisa buruk. Semuanya tergantung pada bagaimana seseorang memandangnya dan di mana ia menggunakannya.

Namun tidak semua orang di sekitar saya berpikir demikian. Yang saya maksud dengan “orang-orang sekitar” adalah siapa saja yang berinteraksi dengan saya, baik dekat maupun jauh—mulai dari teman, rekan kerja, kelompok diskusi, hingga kerabat dan keluarga.

Sebagian dari mereka menganggap fanatisme sebagai kata yang sakral, yang maknanya menyatu dengan keberagamaan dan keislaman. Sebaliknya, sebagian lain mencaci-makinya seolah-olah menjadi fanatik adalah sebuah aib besar yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan.

Dunia Tidak Selalu Hitam-Putih

Saya menolak pandangan serba hitam-putih semacam itu. Bahkan dalam dunia kata-kata, kita tidak bisa sekadar berkata: kata itu hanya positif atau hanya negatif, perbuatan itu semata baik atau buruk, manusia itu seluruhnya mulia atau seluruhnya jahat. Dunia tidak sesederhana itu. Tidak semua hal hadir layaknya siang dan malam yang saling meniadakan.

Menurut saya, fanatisme bisa menjadi terpuji, bisa pula tercela. Menjadi fanatik pada satu titik bisa menyelamatkan martabat, tetapi pada titik lain bisa menjerumuskan ke dalam kejahatan.

Baca Juga: Saling Ledek Menteri Koboy dan Rocky Gerung: Mengurai Potensi Sesat Pikir Keduanya

Betapa banyak fanatisme buta yang menumpahkan darah. Namun betapa banyak pula kehormatan yang sirna hanya karena ketiadaan fanatisme.

Fanatisme itu ibarat pisau tajam. Jika pemiliknya tidak tahu kapan dan bagaimana memakainya, maka dalam sekejap ia akan melukai dirinya sendiri.

Potret Fanatisme yang Salah Tempat

Bayangkan seorang ayah yang memandang jatuh cinta anak perempuannya selalu hina, lalu dengan fanatisme atas nama kehormatan, ia tega membunuh anaknya, sang lelaki, atau bahkan keduanya.

Atau seorang pegawai yang menganggap fanatisme sebagai kebodohan. Ia lalu membenarkan cara apa pun untuk mendapatkan harta, dan dengan mudah memasukkan apa saja ke dalam perutnya.

Ada pula orang-orang yang justru lebih cemburu daripada Tuhan; di tempat Tuhan tidak menaruh fanatisme, mereka malah menunjukkannya.

Sebaliknya, ada pula yang sama sekali tidak menghargai apa pun dan siapa pun; semuanya mereka pandang sama rata, tanpa nilai.

Fanatisme atas Ketidak-Fanatisan

Dari seribu satu contoh, saya ingin menyoroti satu hal: kelompok orang yang justru fanatik dalam usaha untuk tidak menjadi fanatik.

Mereka bisa jadi ada di sekitar Anda. Mungkin Anda bahkan mengenal sebagian dari mereka.

Kelompok ini berusaha keras agar sama sekali tidak disebut fanatik. Mereka menyamakan agama, madzhab, atau pandangan yang berbeda dari mereka dengan fanatisme, lalu menolak setiap kata terkait hal itu—meskipun kata itu selaras dengan akal sehat dan nurani.

Bagi mereka, isi ucapan tidak penting; yang jadi ukuran benar atau salah hanyalah siapa yang mengatakannya. Jika kata itu keluar dari tokoh kelompok A—misalnya Menteri Keuangan Purbaya, Prabowo, atau Gibran —mereka menerimanya. Tapi jika kata serupa datang dari kelompok B—misalnya Rocky Gerung, Anies Baswedan, atau juga ulama—mereka menolaknya mentah-mentah.

Logika yang Terkaburkan

Tak jarang, demi mencapai tujuan, mereka berlindung di balik olok-olok, sindiran, bahkan penghinaan. Mereka akan mati-matian menolak kebenaran yang sudah jelas, dan kalaupun terpaksa menerima, mereka tetap enggan mengakuinya.

Ironisnya, mereka sering sengaja menggunakan berbagai kekeliruan logika, tapi menuduh orang lain melakukan kesalahan berpikir. Bagi mereka, tujuan debat bukanlah mencari kebenaran atau ilmu baru, melainkan semata-mata untuk menang dan menjatuhkan lawan.

Mereka tidak ingin menjadi fanatik, tetapi sesungguhnya mereka fanatik terhadap ketidak-fanatisan itu sendiri.

Menurut saya, ini hanyalah bentuk lain dari kebodohan dan kebekuan berpikir—meskipun para pemilik sifat ini sering membayangkan diri mereka berdiri di puncak pencerahan.

Sudah bertahun-tahun saya memilih menjauh dari diskusi dengan orang-orang seperti ini. Jika saya tahu seseorang berasal dari kelompok tersebut, saya lebih baik meninggalkan perdebatan dan pertemanan dengannya.

Itu lebih mendekatkan pada kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Dan saya yakin, jika Anda melakukan hal yang sama, Anda pun tidak akan merugi. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2571588652/kultus-idola-dan-fanatisme-di-era-kekaguman-satset-dan-sachet

Rekomendasi