Sesat Pikir dan Sofisme Ala Kaum Musyrikin di dalam Al-Quran


Retoria.id – Menarik membaca QS. An-Nahl: 35, ayat ini sering kali dijadikan sebagai legitimasi oleh orang-orang musyrik atas sikap mereka dalam menyekutukan Allah.

saya sendiri menyebut mereka orang-orang yang pada ke GR-an. Karena sebenarnya ayat ini justru ingin menunjukan kedunguan mereka, dan bentuk mughalatat (fallacy) yang telah mereka lakukan. Sayangnya mereka nggak peka.

Wa qālal-ladzīna asyrakū law syā’Allāhu mā ‘abadnā min dūnihi min syai’in…

“Dan orang musyrik berkata, ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia…”

Fa in yakun syarthī dzā ittiṣāl
Antaja waḍ‘a dzāka waḍ‘a tālī

Wa rafa‘a tālin rafa‘a awwalin walā
Yalzamu fī ‘aksihimā lamā injalā

Bagaimanakah maksud potongan nazham sullam al munawraq itu? Baiklah, dalam logika, silogisme eksepsionis konjungtif (qiyas syarthiyyah muttashilah), disebutkan memiliki empat rumus, dengan rumus I dan II yang pasti benar, sementara rumus III dan IV berpotensi keliru:

Rumus I (Afirmasi P, Afirmasi Q)

  • Premis Mayor: Jika P, maka Q (Jika benda ini emas, maka ia logam)
  • Premis Minor: Tetapi Afirmasi P (Tetapi ia emas)
  • Konklusi: Afirmasi Q (Pasti ia logam)

Rusmus II (Negasi Q, Negasi P)

  • Premis Mayor: Jika P, maka Q (Jika benda ini emas, maka ia logam)
  • Premis Minor: Tetapi Negasi Q (Tetapi, ia bukan logam)
  • Konklusi: Negasi P (Pasti ia bukan emas)

Rumus III (Afirmasi Q, Afirmasi P)

  • Premis Mayor: Jika P, maka Q (Jika benda ini emas, maka ia logam)
  • Premis Minor: Tetapi Afirmasi Q (Tetapi ia logam)
  • Konklusi: Afirmasi P (Pasti ia emas)

[Kesimpulan ini tentu berpotensi keliru, sebab tidak semua logam berarti emas, karena bisa saja logam itu berupa tembaga, besi dan lain sebagainya.]

Rumus IV (Negasi P, Negasi Q)

  • Premis Mayor: Jika P, maka Q (Jika benda ini emas, maka ia logam)
  • Premis Minor: Tetapi Negasi P (Tetapi, ia bukan emas)
  • Konklusi: Negasi Q (Pasti ia bukan logam)

[Kesimpulan ini juga mirip dengan rumus III, ia berpotensi salah, sebab sesuatu yang bukan emas, masih memungkinkan ia sejenis logam, seperti besi, perak dan sebagainya.]

Baca Juga: Saling Ledek Menteri Koboy dan Rocky Gerung: Mengurai Potensi Sesat Pikir Keduanya

Sementara itu, bagaimanakah bentuk penalaran dari orang-orang musyrik? Alih-alih mendapatkan kebenaran, mereka justru keluar dari cara berpikir yang tepat dan begitu baik menjebak diri mereka dalam kesalahan.

Sekaligus menjadikan Tuhan sebagai korban tabrak lari atas kesesatan yang sangat fasih mereka lakukan tersebut.

Jika kita hendak narasikan bentuk penalaran yang tepat (Rumus I dan II) tentang ayat di atas, maka seharusnya akan berbentuk seperti ini:

  • Premis Mayor: Jika Allah menghendaki, maka kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia (Jika P, Maka Q)
  • Premis Minor: Tetapi Allah menghendaki (Afirmasi P)
  • Konklusi: Maka kami tidak menyembah sesuatu selain Allah (Afirmasi Q)

Atau rumus II:

  • Premis Mayor: Jika Allah menghendaki, maka kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia (Jika P, Maka Q)
  • Premis Minor: Tetapi kami menyembah selain Allah (Negasi Q)
  • Konklusi: Allah tidak menghendaki hal itu \[kemusyrikan] (Negasi P)

Jika nalar mereka tepat sebagaimana tersebut di atas, seharusnya mereka hanya menyembah Tuhan Yang Esa. Sebab Tuhan menghendaki agar Dia tak disekutukan dengan yang lain. Bukan menjadikan kehendak Tuhan sebagai alasan kemusyrikan yang dilakukan.

Tetapi semuanya “jauh panggang daripada api”, secara aktual justru menyekutukan Tuhan dengan sesembahan yang lain tetap rajin mereka lakukan, semacam isyarat bahwa daya nalar yang mereka pakai tidak sesuai dengan rumus I dan II di atas, melainkan masuk pada kekeliruan yang bahkan tak mempan didoakan. Maka, pikiran picik mereka seakan berbunyi:

  • Premis Mayor: Jika Allah menghendaki, maka kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia
  • Premis Minor: Tetapi Allah menghendaki kami menyembah yang lain
  • Konklusi: Kami menyembah sesuatu selain Allah

Atau dengan gaya penyampaian yang berbeda:

  • Premis Mayor: Jika Allah menghendaki, maka kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia
  • Premis Minor: Tetapi Allah tidak menghendaki kami mengesakanNya
  • Konklusi: Kami menyembah sesuatu selain Allah

Dari manakah tambahan keterangan masing-masing premis minor di atas? Ah, tentu ini bid’ah yang dibuat oleh pikiran mereka sendiri. Karenanya, sampai di sini tampak payah memahami cara mereka menalar?

Pelajaran apa yang bisa dikantongi untuk kita? Bahwa salah satu hikmah tentang ayat di atas adalah agar kita tidak menjadi seperti mereka dan yang kedua logika itu penting. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2571590616/sesat-pikir-dan-sofisme-ala-kaum-musyrikin-di-dalam-al-quran

Rekomendasi