Tan Malaka Penggagas ‘Negara Soviet Indonesia’ yang Direalisasikan pada 1948 di Peristiwa Madiun

Retoria.id – Kita sering merasa bangga saat tahu bahwa Tan Malaka pernah menulis pamflet legendaris berjudul Naar de Republik Indonesie (Menuju Republik Indonesia) pada 1925.

Pamflet ini meneguhkan posisinya sebagai sosok yang layak mendapat gelar “pahlawan bangsa” dan “tokoh nasional”, sejajar secara wibawa dengan para founding fathers, founding mothers, dan founding brethren lainnya.

Pada saat nama “Indonesia” masih dalam embrio dan belum tampil dalam realitas politik dunia, imajinasi Tan Malaka sudah lebih dulu (visioner) menyalakan obor cita tentang berdirinya sebuah republik merdeka bernama Indonesia.

Tan menulis begini dengan nada profetik:

“Dalam suasana Republik Indonesia merdeka, tenaga-tenaga intelek dan sosial akan berkembang lebih cepat dan lebih baik. Kekayaan maha besar yang diperoleh dengan kerja Indonesia akan tinggal di negeri sendiri.

Ilmu pengetahuan yang kini dikendalikan dan diperkosa demi keuntungan lintah-lintah darat Belanda, kelak akan berkembang dan dimanfaatkan bagi kepentingan masyarakat Indonesia. Kesenian dan perpustakaan akan mendapat tanah subur untuk bertumbuh. Indonesia akan bangkit di lapangan ekonomi, sosial, intelek, dan kebudayaan.

Akan lenyaplah abad-abad kelaparan dan penderitaan, perbudakan dan kepariaan yang gelap. Akan sirna abad-abad di mana hak dan martabat manusia diabaikan. Dan akan terbit zaman baru, di mana manusia terbebas dari ketakutan, kemiskinan, dan penindasan manusia atas manusia.” (hal. 38)

Sungguh, ia seorang nasionalis sejati. Mimpi yang ditulisnya pada 1925 itu benar-benar menjelma nyata dua dekade kemudian, di tahun 1945.

Baca Juga: Membaca Madilog Tan Malaka: Perbandingan Logika Mistika dan Sapienza Poetica

Namun kontribusi dan narasi besar tentangnya jangan sampai melenakan sikap kritis kita. Mari kita coba periksa kembali, jauh sebelum menulis Naar de Republik Indonesie, Tan Malaka sudah lebih dulu menggagas pamflet lain berjudul Parlemen atau Soviet? (1921).

Famflet ini memperlihatkan dan menjadi indikator kuat bahwa republik yang ia impikan adalah republik bergaya soviet yakni sistem dewan rakyat ala Uni Soviet Rusia.

Artinya komunisme dan Marxisme begitu mendarah-daging dalam diri Tan. Ke-founding father-an Tan Malaka ternyata tidak terlepas dari dua hal itu, selalu berkelindan dengan semangat Marxisme-Komunisme yang ia anut dengan penuh keyakinan.

Dalam Parlemen atau Soviet?, Bab VII: Penghabisan, ia menulis tanpa tedeng aling-aling:

“Sebagai seorang berhaluan Komunis, tentulah kita tidak mendua hati lagi akan keburukan Parlemen dan kebaikannya Soviet, seperti juga kita tidak mendua hati akan kebusukan Kapitalisme dan perlunya datang Komunisme.” (hal. 87)

Lalu pada halaman 127–128, ia kembali menegaskan:

“Kita yakin bahwa tiap-tiap pemuda di Hindia yang tahu akan kehinaan dan kemiskinan rakyat akan cocok dengan paham kita, yakni: kekuasaan Sovietlah yang akan disukai rakyat di sini, dan hanya dialah yang kelak bisa memerdekakan rakyat yang tertindas dalam ribuan tahun ini.”

Pernyataan ini kemudian mengalir kembali dalam Naar de Republik Indonesie, di mana Tan menulis dengan penuh keyakinan:

“Dan zaman baru menyingsing, di mana obor komunis selanjutnya akan membimbing rakyat Indonesia yang muda menuju tujuan paling akhir: Kemerdekaan, Kebudayaan, dan Kebahagiaan bagi seluruh umat manusia di dunia.” (hal. 38)

Maka, di balik citra Tan Malaka sebagai founding father republik ini, ternyata berdenyut kuat semangat komunistik yang fanatik dan tegas.

Ia bukan sekadar nasionalis, tetapi juga seorang ideolog komunis sejati. Mimpinya tentang republik bergaya soviet akhirnya coba diwujudkan oleh PKI pada tahun 1948, dalam Peristiwa Madiun, ketika Amir Syarifuddin memproklamasikan berdirinya “Negara Soviet Indonesia.” Gagasan itu jelas berakar dari Tan Malakanamun percobaan tersebut berakhir gagal.

Ingatlah, meski Tan Malaka diakui sebagai tokoh kemerdekaan, jejak ideologinya tak bisa dihapus. Ia tetap seorang komunis, dan dalam pandangan kaum komunis, republik hanyalah kendaraan menuju cita tertinggi: kediktatoran kaum buruh (proletariat dictatorship), puncak impian revolusi global kaum Marxis sedunia. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2571673739/tan-malaka-penggagas-negara-soviet-indonesia-yang-direalisasikan-pada-1948-di-peristiwa-madiun

Rekomendasi