Retoria.id – Pada “Bab VII: Peninjauan dengan Madilog” (hal. 162), Tan Malaka menjelaskan tujuan ia menulis buku “Madilog”-nya, yakni ia ingin memahami fenomena alam semesta dan fenomena sosial-politik lewat kacamata filsafat Materialisme khas kaum Marxist-komunis (MA), filsafat Dialektika khas kaum Marxist-komunis (DI), dan filsafat Logika (LOG). Tiga framework (MA, DI, dan LOG) dijadikan satu (MADILOG).
Agar MADILOG ini kuat argumennya, maka Tan Malaka mengritik semua yang spiritual dan yang imani, termasuk ajaran religi. Agama Hindu dikritik habis, agama Katolik dikritik pedas, agama Yahudi juga dikritik, termasuk Islam.
Buddhisme juga. Semua agama yang masih percaya hal-hal gaib dan hal-hal imani (ghaiybiyyaat/sam’iyyaat) dicerca habis oleh Tan Malaka, dengan metode yang dia pakai sebagai tolok ukur: Materialisme, Dialektika, Logika (MADILOG).
Baca Juga: Kemunafikan Tan Malaka: Di Hadapan Allah Saya Muslim Di Hadapan Manusia Saya Bukan Muslim
Di “Pasal 7. Ahli Kegaiban dan Alam” (hal. 211), Tan Malaka memakai MADILOG sebagai framework untuk mengritik ajaran rohaniyah/gaibiyyah dalam Katolik dan Islam. Kata si Tan Malaka:
“Bahagialah mereka para ahli Mistikus, yang tidak perlu menghitung terik panasnya matahari pada sesuatu bumi. Karena tidaklah perlu para ahli itu mencikaraui (mencampuri dengan tiada disetujui orang) panas sejuknya hawa pada bumi yang tiada ada dalam kitab mereka itu.
Lantingkanlah semua Ilmu Kodrat, Kimia, Bumi, Tumbuhan, Matematika, dan sekalian Ilmu yang bersangkutan ke dalam api neraka. Karena semua Ilmu semacam itu bisa memurtadkan, menyesatkan, memasukkan iblis.
Aman sentosa di dunia fana dan berharap penuh buat mendapatkan surga yaitu na’im di akhirat kalau percaya dan apalkan apa yang para ahli Mistikus suruh apalkan. Malah tidak perlu diketahui isinya atau bahasannya ilmu yang mesti diapalkan, didengungkan dengan suara merdu dan kepercayaan sekuat memalut gunung itu.
Karena ilmu itu ialah Firman Tuhan dan hurufnya yang ditulis dengan tinta dan kertas bikinan manusia itu saja, bisa mendatangkan manfaat yang tidak terbatas, di dunia dan di akhirat. Kalau tidak di dunia fana ini, mesti di akhirat!”
Baca Juga: Tan Malaka Penggagas ‘Negara Soviet Indonesia’ yang Direalisasikan pada 1948 di Peristiwa Madiun
Tan Malaka juga mengritik dua organisasi Islam yang pernah ada di tahun 1920-an, yaitu “Tentara Pembela Nabi Muhammad” dan “Permusyawaratan Ulama” sebagai organisasi rohaniah/spiritual yang tidak sahih dalam kacamata penganut Materialisme Marxist-Komunis, Dialektika Marxist-Komunis, dan Logika. Kata si Tan Malaka:
“Sedikit urusannya para ahli Mistikus cuma buat mengawasi para ahli yang biasa memurtadkan, menyesatkan dan memperlantingkan ke api neraka. Tetapi pada Negara yang beralasan Ilmu Kegaiban, gerak sudut matanya para ahli Mistikus itu sudah cukup buat mem-‘bereskan’ semua perkara yang melanggar kepercayaan umum itu. Di Indonesia ini pun dengan mendirikan ‘Tentara Pembela Nabi Muhammad’ atau membentuk ‘Permusyawaratan Ulama’ sesuatu perkara yang oleh para ahli dianggap ‘anti Islam’, rupanya bisa di-‘bereskan’…”
Dengan bahasa malu-malu dan ditutupi khas kaum komunis, sebenarnya Tan Malaka menyasar kritiknya ke Muhammadiyah dan NU, tapi biar tidak dikeroyok Muhammadiyah dan NU, si Tan Malaka ini memakai eufemisme “Tentara Pembela Nabi Muhammad” (eufemismenya buat Muhammadiyah) dan “Permusyawaratan Ulama” (eufemismenya untuk NU). Ini cara khas komunis untuk cari selamat di tengah-tengah massa Muhammadiyah dan NU.
Tan Malaka meneruskan kritiknya terhadap spiritualisme Islam lewat spiritualisme Kristen. Ia mengutip ayat-ayat dari Alkitab, terutama Kitab Keluaran (Genesis) di Kitab Perjanjian Lama. Kata si Tan Malaka:
“Bahwa sahnya menurut Bibel (Kitab Injil), pada buku pertamanya Nabi Musa, yang bernama Genesis, timbulnya Alam dan Tumbuhan serta Hewan: dan Manusianya tertulis seperti di bawah ini:
BAB KE 1.
2. Pada permulaan sekali Tuhan membikin bumi dan langit.
4. Bumi pada masa itu masih woest (dahsyat), dan kosong serta jurang dalam gelap gulita; dan Rohaniya Tuhan melayang di atas air.
3. Kemudian Tuhan berfirman: Timbullah cahaya; maka timbullah cahaya.
4. Tuhan melihat hawa cahaya itu baik; kemudian Tuhan membikin batas di antara Yang terang dan Yang Gelap…. dst (hal. 211–216).”
Lalu, di akhir pasal ini, Tan Malaka bilang, “Saya juga tahu, bahwa Islam… seurat seakar dengan Serani … (hal. 217).” Maksudnya, dia berpendapat bahwa ajaran Islam bermula dan bercikal bakal dari ajaran Nasrani/Kristen. Maka, kritik dia atas spiritualisme Kristen adalah juga kritikan dia atas spiritualisme Islam.
Setiap agama mengandung spiritualisme; maka kritik Tan Malaka atas spiritualisme adalah ungkapan teramat jelas akan anti-imannya Tan Malaka dan anti-agamanya Tan Malaka. (*)